Belanja Fashion Makin Selektif, Pengalaman Digital Jadi Penentu

Perilaku belanja produk fashion Perilaku belanja produk fashion

Markbiz, 28 Juli 2026 – Perilaku konsumen dalam membeli produk fashion terus mengalami perubahan. Jika sebelumnya keputusan pembelian banyak dipengaruhi tren atau promosi, kini konsumen semakin mempertimbangkan kesesuaian produk dengan gaya personal, kualitas, hingga pengalaman berbelanja digital sebelum memutuskan melakukan transaksi.

Perubahan tersebut mendorong fashion tidak lagi dipandang sekadar kebutuhan atau mengikuti tren musiman, melainkan sebagai style investment. Konsumen kini cenderung memilih produk yang mampu mencerminkan identitas diri, mudah dipadukan dengan berbagai gaya, serta memiliki kualitas yang dapat digunakan dalam jangka panjang.

Tren ini terlihat semakin kuat di kalangan generasi muda. Riset Boston Consulting Group (BCG) bersama Women’s Wear Daily memproyeksikan Generasi Z dan Generasi Alpha akan menyumbang sekitar 40% pasar fashion Amerika Serikat dalam satu dekade mendatang. Kelompok konsumen ini semakin dipengaruhi oleh relevansi budaya, kreator, dan pengalaman digital dalam mengambil keputusan pembelian.

Baca juga: Wow, Brand-Brand Lokal Kini Naik Kelas Global

Di Indonesia, prospek industri fashion digital juga masih menjanjikan. Data APJII yang dirangkum Databoks menunjukkan pakaian dan aksesori menjadi kategori produk yang paling banyak dibeli melalui e-commerce sepanjang 2025 dengan porsi 43,74%.

Sementara itu, lembaga riset eCommerceDB memperkirakan nilai transaksi e-commerce kategori fashion di Indonesia mencapai US$15,9 miliar pada 2025 dan masih berpotensi tumbuh 10–15% pada 2026.

Besarnya potensi pasar tersebut diikuti perubahan ekspektasi konsumen. Saat berbelanja secara online, calon pembeli tidak lagi cukup melihat foto produk. Mereka ingin memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai potongan pakaian, ukuran, warna, bahan, hingga bagaimana produk terlihat saat dikenakan.

Kondisi tersebut membuat pengalaman belanja digital menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi keputusan pembelian. Format seperti live shopping dinilai mampu menjawab kebutuhan tersebut karena memungkinkan brand menampilkan produk secara lebih interaktif sekaligus merespons pertanyaan konsumen secara langsung.

Tidak hanya mengandalkan tampilan produk

Vice President of Account Management SIRCLO, Arnold Oscar Suandrea Chandra, mengatakan konsumen fashion saat ini tidak hanya mempertimbangkan tampilan produk, tetapi juga ingin memastikan kesesuaian ukuran, kualitas material, hingga detail produk sebelum melakukan checkout.

“Brand perlu menghadirkan pengalaman digital yang mampu memberikan keyakinan kepada konsumen sebelum checkout, sekaligus memastikan kesiapan operasional agar proses tersebut berujung pada transaksi,” ujarnya.

Baca juga: The Bath Box Buka Flagship Store di Bekasi

Sebagai contoh, SIRCLO menyebut kolaborasinya dengan Levi’s dalam mengoptimalkan penjualan melalui layanan live streaming dan pengelolaan operasional e-commerce menunjukkan hasil positif.

Dalam kolaborasi yang telah berjalan lebih dari tujuh tahun, jumlah pesanan bulanan Levi’s® meningkat lebih dari 11 kali lipat dari April 2019 dibandingkan Juni 2026. Momentum kampanye strategis di akhir tahun pun turut menunjukkan penguatan, dengan pesanan bulanan pada Desember 2025 tumbuh sekitar lima kali lipat dibandingkan bulan yang sama pada 2019.

Penyajian produk secara visual dan interaktif dinilai membantu calon pembeli memperoleh gambaran yang lebih jelas sebelum menentukan pilihan, sementara pengelolaan operasional yang terintegrasi mendukung kelancaran proses transaksi.

Menurut SIRCLO, ke depan pertumbuhan bisnis fashion di kanal digital tidak hanya ditentukan oleh seberapa luas kehadiran sebuah merek di berbagai platform, tetapi juga oleh kemampuannya membangun pengalaman belanja yang informatif, meyakinkan, dan konsisten sejak konsumen mulai mengenal produk hingga setelah pembelian dilakukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *