Markbiz, Tangerang, 20 Agustus 2026 | Perdagangan digital Indonesia memasuki fase baru. Setelah mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun terakhir, tantangan industri e-commerce kini bergeser dari sekadar mengejar volume transaksi menuju penciptaan nilai ekonomi yang lebih luas dan berkelanjutan.
Data internal SIRCLO menunjukkan jumlah pesanan pada Juni 2026 meningkat sekitar 56 kali lipat dibandingkan Januari 2020. Pertumbuhan tersebut sejalan dengan percepatan adopsi belanja online sejak pandemi COVID-19.
Potensi pertumbuhan perdagangan digital Indonesia juga masih besar. Laporan e-Conomy SEA 2025 yang diterbitkan Google, Temasek, dan Bain & Company memproyeksikan Gross Merchandise Value (GMV) ekonomi digital Indonesia mencapai sekitar US$340 miliar pada 2030. Dari angka tersebut, sektor e-commerce diperkirakan menyumbang sekitar US$140 miliar.
Namun, pertumbuhan tersebut dinilai perlu diikuti dengan penguatan daya saing bisnis, pemerataan akses pasar, serta terbukanya peluang ekonomi bagi lebih banyak pelaku dalam ekosistem digital.
Momentum HUT ke-81 Republik Indonesia turut menjadi konteks bagi SIRCLO dalam melihat arah perkembangan ekonomi digital nasional.
Baca juga: Belanja Fashion Makin Selektif, Pengalaman Digital Jadi Penentu
“Semangat Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur juga relevan dengan bagaimana kita melihat masa depan ekonomi digital Indonesia. Kontribusinya dalam mendukung kemakmuran tidak cukup diukur dari banyaknya transaksi, tetapi juga dari kemampuan ekosistem dalam merespons perubahan melalui adaptasi, inovasi, dan kolaborasi,” ujar Brian Marshal, Founder dan Chief Executive Officer SIRCLO.
Menurut SIRCLO, terdapat empat area yang akan berperan penting dalam membentuk perkembangan e-commerce Indonesia menuju 2030.
Kanal Digital Semakin Dinamis
Perubahan perilaku konsumen membuat perjalanan belanja di kanal digital semakin beragam. Salah satu perkembangan yang menonjol adalah meningkatnya peran live streaming, yang menggabungkan interaksi produk dan transaksi dalam satu pengalaman.
Data internal SIRCLO mencatat jumlah penonton live streaming pada Juni 2026 mencapai lebih dari 11 kali lipat dibandingkan Juli 2022. Pada periode yang sama, jumlah pesanan meningkat lebih dari delapan kali lipat.
Konten juga semakin berperan dalam membentuk keputusan konsumen. Sejak pengukuran kinerja kanal kreator dan affiliate dimulai pada Oktober 2025, jumlah pesanan melalui kanal tersebut meningkat lebih dari 17 kali lipat hingga Juni 2026.
Kondisi ini membuat kemampuan brand dalam membaca tren, mengembangkan konten, dan mengintegrasikannya dengan strategi commerce semakin penting.
Pertumbuhan Mulai Menyebar ke Berbagai Wilayah
Pertumbuhan e-commerce tidak lagi hanya terkonsentrasi di Jabodetabek. Data internal SIRCLO menunjukkan jumlah pesanan dari luar Jabodetabek mulai melampaui Jabodetabek pada Juni 2024 dan kemudian meningkat lebih dari tiga kali lipat hingga Juni 2026.
Perubahan tersebut menunjukkan pentingnya pemerataan akses pasar yang diikuti kesiapan distribusi dan pemenuhan pesanan yang lebih dekat dengan konsumen.
Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah menjadikan jaringan distributor lokal sebagai titik fulfillment. Berdasarkan data internal SIRCLO, pendekatan tersebut berpotensi mengurangi biaya pengiriman hingga 60% dan memangkas waktu pengiriman hingga 40%.
Distribusi yang lebih dekat dengan pusat permintaan tidak hanya berpotensi membuat belanja online lebih terjangkau, tetapi juga membantu brand menjangkau konsumen di luar pusat perdagangan digital utama.
AI Dorong Efisiensi dan Pengambilan Keputusan
Artificial Intelligence (AI) juga diperkirakan semakin berpengaruh terhadap perdagangan digital. Teknologi ini dapat membantu bisnis mempercepat pekerjaan operasional sekaligus mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Google mencatat, pemerataan adopsi AI pada usaha kecil hingga mencapai tingkat yang setara dengan perusahaan besar berpotensi membuka nilai ekonomi hingga Rp910 triliun.
Baca juga: Indonesia Siapkan Infrastruktur AI Berskala Regional Lewat Zankore Indosat
Di tingkat operasional, pengukuran internal SIRCLO menunjukkan penggunaan AI pada sejumlah workflow mampu menghemat waktu penyelesaian hingga 84,2% untuk aktivitas mingguan, seperti pembaruan stok, pemantauan pesanan, persiapan promosi, serta pembaruan informasi produk di berbagai marketplace.
Pemanfaatan AI juga dapat diarahkan pada kebutuhan strategis, seperti analisis performa, identifikasi akar persoalan, pemberian rekomendasi tindakan, hingga produksi dan pengujian berbagai variasi konten melalui generative AI.
Meski demikian, SIRCLO menilai AI akan memberikan dampak optimal apabila didukung kesiapan data, proses bisnis, dan tata kelola yang memadai.
Kolaborasi Jadi Fondasi Ekosistem
Selain teknologi, perkembangan perdagangan digital juga semakin bergantung pada keterhubungan berbagai pelaku. Rantai perjalanan konsumen, mulai dari menemukan produk hingga transaksi dan pemenuhan pesanan, melibatkan brand, platform digital, kreator, affiliate, enabler, distributor, perusahaan logistik, serta mitra fulfillment.
Pemerintah dan regulator turut memiliki peran melalui kepastian kebijakan, perlindungan konsumen, serta terciptanya persaingan yang sehat. Karena itu, sinergi antara inovasi bisnis, kesiapan operasional, dan dukungan regulasi menjadi bagian penting dalam memperkuat fondasi perdagangan digital Indonesia menuju 2030.
“Potensi e-commerce Indonesia masih terbuka luas, tetapi cara kita menciptakan nilai akan terus berkembang seiring perubahan perilaku konsumen, teknologi, kanal, dan model bisnis. Karena itu, SIRCLO berkomitmen akan terus beradaptasi, berinovasi, dan berkolaborasi untuk mendukung perdagangan digital yang lebih relevan, terintegrasi, serta berkelanjutan menuju 2030,” kata Brian.

2 thoughts on “E-Commerce Indonesia Masuki Fase Baru Menuju 2030”