Home » Orang Kaya Berwisata, Orang Miskin Bernostalgia Jadi Pengembara

Orang Kaya Berwisata, Orang Miskin Bernostalgia Jadi Pengembara

kapitalisme pariwisata Raja Ampat. Foto: IndonesiaJuara Trip

Markbiz, 15 September 2026 |Ada ironi dalam dunia yang semakin mudah dijelajahi. Pesawat membuat jarak antar negara dan benua terasa dekat. Internet membuat berbagai daerah eksotik terpencil dikenal seluruh dunia, dan industri pariwisata membuat hampir setiap sudut bumi dapat dikemas menjadi sebuah pengalaman.

Namun di balik semua kemudahan itu, kemampuan untuk menikmati dunia ternyata tetap bergantung pada sesuatu yang sangat tua, fulus alias uang.

Seorang wisatawan dari negara kaya dapat datang ke Indonesia, meninggalkan rutinitas kantornya, berjalan kaki di sebuah pulau terpencil, tidur di tenda, makan sederhana, bahkan mematikan telepon selama beberapa hari. Ia menyebutnya petualangan, digital detox, atau upaya menemukan kembali hubungan dengan alam.

Pengalaman tersebut bisa jadi sangat autentik. Tetapi ada pertanyaan yang menggelitik: bagaimana dengan orang yang sejak lahir tinggal di tempat itu dan tidak pernah memiliki kesempatan untuk menjadi wisatawan di tanahnya sendiri? Di situlah cerita tentang pengembaraan bertemu dengan cerita tentang kelas sosial.

Mengembara yang dulu gratis

Manusia pada dasarnya adalah pengembara. Jauh sebelum ada hotel, bandara, paspor, dan aplikasi perjalanan, manusia berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Mereka berjalan, mencari makanan, mencari tempat aman, berdagang, berpindah mengikuti musim, atau sekadar mencari kemungkinan kehidupan yang lebih baik.

Pengembaraan pada masa itu tentu bukan kehidupan romantis seperti yang sering digambarkan dalam iklan wisata. Modernitas kemudian membuat perjalanan jauh lebih mudah sekaligus mengubahnya menjadi aktivitas ekonomi. Kita tidak lagi sekadar pergi; kita membeli tiket untuk pergi, membayar tempat untuk tinggal, membayar makanan, membayar pemandu, dan membayar pengalaman.

Pada titik tertentu, bahkan keinginan untuk melarikan diri dari kehidupan modern pun dapat dijual oleh sistem modern itu sendiri. Kita membayar untuk tinggal di tempat tanpa sinyal. Kita membayar untuk tidur di tengah alam. Kita membayar untuk menikmati kehidupan desa. Kita membayar untuk merasakan kesederhanaan.

Ya, kapitalisme tampaknya cukup fleksibel untuk menjual bahkan keinginan manusia untuk sesaat terbebas darinya.

Kemewahan untuk hidup sederhana

Ada paradoks yang lebih dalam di sini. Bagi kelas menengah dan atas, kesederhanaan dapat menjadi sebuah pilihan gaya hidup. Mereka dapat meninggalkan apartemen, hotel, mobil, restoran, dan internet untuk beberapa hari, kemudian kembali kepada semua kenyamanan tersebut ketika perjalanan selesai.

Bagi orang miskin, kesederhanaan bukan eksperimen, melainkan keadaan yang mungkin tidak bisa ditinggalkan. Seorang backpacker bisa saja memilih berjalan kaki selama berjam-jam karena ingin menikmati pemandangan. Orang miskin bisa berjalan kaki karena ongkos kendaraan terlalu mahal.

Seorang wisatawan dapat tidur di rumah warga karena ingin merasakan vibe kehidupan lokal. Sebuah keluarga mungkin tinggal di rumah sederhana karena tidak mampu membayar tempat tinggal yang lebih baik.

Dari luar, kedua pengalaman tersebut bisa tampak serupa. Tetapi maknanya berbeda karena yang satu lahir dari pilihan, sementara yang lain lahir dari keterbatasan.

Di sinilah kita perlu berhati-hati ketika mengagungkan gaya hidup sederhana. Kesederhanaan tidak selalu berarti kebebasan. Kadang-kadang ia adalah nama lain dari tidak adanya pilihan.

Paradoks tinggal di tanah surga

Indonesia adalah salah satu tempat yang memperlihatkan paradoks tersebut dengan jelas. Banyak wilayah yang oleh dunia internasional disebut sebagai surga wisata justru dihuni oleh masyarakat yang menghadapi keterbatasan ekonomi.

Wisatawan datang dengan pesawat, kapal, atau kendaraan khusus untuk menikmati pantai, hutan, gunung, dan kehidupan lokal. Mereka membayar untuk melihat sesuatu yang bagi penduduk setempat sebenarnya merupakan bagian dari lingkungan sehari-hari.

Namun tinggal di sebuah tempat tidak berarti memiliki akses terhadap seluruh tempat tersebut. Seseorang dapat tinggal di sebuah pulau dengan laut yang indah tetapi tidak mempunyai uang untuk menyewa kapal. Ia dapat hidup dekat gunung tetapi tidak pernah mendaki karena harus bekerja. Ia dapat tinggal di desa yang menjadi tujuan wisata tetapi tidak pernah merasakan dirinya sebagai wisatawan. Ini menunjukkan bahwa akses terhadap alam bukan hanya persoalan jarak.

Pariwisata dan hak untuk melihat dunia

Karena itu, kritik terhadap kapitalisme pariwisata seharusnya tidak berhenti pada soal harga tiket atau mahalnya hotel. Persoalannya adalah bagaimana pengalaman manusia semakin sering ditentukan oleh kemampuan untuk membeli.

Kita bahkan mulai mengukur kualitas hidup melalui kemampuan berpindah. Berapa banyak negara yang pernah dikunjungi, berapa banyak kota yang pernah dilihat, berapa banyak destinasi yang masuk daftar perjalanan.

Media sosial memperkuat semuanya. Perjalanan dan pengalaman menikmati destinasi wisata di berbagai belahan dunia sering ditampilkan di mesia sosial, dan itu menjadi simbol status bagi seseorang.

Tapi di balik foto-foto indah di media sosial, ratusan juta orang belum memiliki kesempatan untuk menimati destinasi wisata di luar negera mereka sendiri. Bukan karena mereka tidak memiliki hasrat untuk berwisata, melainkan karena kehidupan sehari-hari sudah menghabiskan seluruh energi ekonomi mereka.

Bagi seseorang yang hidup dari pendapatan harian, liburan bukan hanya soal biaya hotel dan tiket. Ada biaya yang lebih mendasar: pendapatan yang hilang ketika ia tidak bekerja.

Pengembara yang benar-benar bebas

Di tengah semua itu, muncul kembali fantasi tentang menjadi pengembara modern: berjalan kaki, membawa sedikit barang, tidak bergantung pada uang, tidak menggunakan telepon, dan tidur di mana saja.

Secara fisik, itu masih mungkin dilakukan. Tetapi ada ironi lain, orang yang ingin menjadi pengembara tanpa uang justru akan kembali membutuhkan sesuatu yang semakin langka dalam masyarakat modern: keramahan manusia.

Ia membutuhkan orang yang mau memberinya makanan, tempat tidur, air, atau pekerjaan sementara. Ia harus mengandalkan kepercayaan dan hubungan sosial, bukan sekadar saldo rekening.

Dalam pengertian ini, pengembara tanpa uang bukanlah manusia yang sepenuhnya bebas dari sistem. Ia hanya berpindah dari satu bentuk ketergantungan ke bentuk lainnya.

Dan mungkin justru di situlah letak pelajaran pentingnya. Kehidupan manusia tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Bahkan orang yang memiliki banyak uang sebenarnya bergantung pada sistem yang memungkinkan uang itu bekerja. Pengembara miskin bergantung pada keramahan manusia. Kita semua bergantung pada sesuatu. Yang berbeda adalah siapa yang mempunyai pilihan lebih banyak.

Orang kaya berwisata, orang miskin bernostalgia

Maka kalimat “orang kaya berwisata, orang miskin bernostalgia jadi pengembara” sebenarnya bukan sekadar kritik terhadap orang kaya yang gemar bepergian. Ini adalah bentuk kritik terhadap dunia yang membuat kebebasan bergerak menjadi barang yang semakin mahal untuk “dibeli”.

Orang kaya dapat membeli pengalaman hidup sederhana, kemudian kembali ke kehidupan nyaman. Orang miskin sering kali bahkan tidak mempunyai kesempatan untuk memilih kehidupan yang ingin dijalaninya.

Yang satu bisa berkata, “Saya ingin hidup tanpa banyak barang.” Yang lain mungkin sepanjang hidupnya tidak memiliki banyak barang, tetapi tidak pernah merasa bebas.

Yang satu bisa mematikan telepon karena ingin menikmati kesunyian. Yang lain mungkin tidak memiliki akses internet yang memadai, tetapi tetap tidak memiliki kesempatan untuk pergi ke mana-mana. Perbedaannya bukan pada seberapa sederhana kehidupan mereka. Perbedaannya adalah “siapa yang memiliki pilihan”.

Mungkin karena itu, nostalgia terhadap kehidupan pengembara tidak selalu merupakan nostalgia terhadap masa lalu. Ia bisa menjadi kerinduan terhadap sesuatu yang terasa semakin sulit diperoleh dalam kehidupan modern: kemampuan untuk pergi tanpa harus terlebih dahulu menghitung kemampuan ekonomi.

Ironisnya, ketika dunia semakin terbuka, perjalanan justru  mengalami kapitalisasi yang masif. Ketika manusia semakin bebas bergerak secara teknis, tidak semua manusia memperoleh kebebasan ekonomi untuk bergerak. Dan ketika alam semakin mudah dipromosikan sebagai destinasi, masyarakat yang tinggal di dalamnya belum tentu menjadi orang pertama yang dapat menikmatinya.

Kita mungkin sedang hidup dalam zaman ketika dunia secara teknologis menjadi milik semua orang, tetapi secara ekonomi tetap hanya dapat dinikmati oleh sebagian orang.

Dahulu manusia mengembara karena belum mengenal batas-batas dunia. Sekarang batas-batas itu telah dipetakan, diberi nama, dimasukkan ke aplikasi, difoto, dipromosikan, dan dijual.

Mungkin persoalannya bukan lagi apakah dunia terlalu luas untuk dijelajahi. Persoalannya adalah apakah seseorang memiliki cukup uang untuk masuk ke dalamnya. Bagi mereka yang tidak punya uang, pengembaraan akhirnya tinggal menjadi nostalgia—bahkan terhadap kehidupan yang mungkin sebenarnya tidak pernah mereka alami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *