Gelombang Penutupan Gerai di Berbagai Kota
Markbiz.id, Jakarta 8 Juli 2026 | Papan “Disewakan” kembali menghiasi sejumlah ruko bekas Mixue di Jabodetabek sejak Maret 2026, menandai gelombang penutupan gerai es krim yang sempat viral.
Mixue Wolter Jakarta Selatan resmi berhenti beroperasi awal Maret, disusul cabang lain di Jajag dan Wendit yang mengumumkan penutupan permanen.
Kontrak sewa tiga tahun banyak gerai yang dibuka pada 2022-2023 habis masa berlakunya di akhir 2025, dan sebagian mitra memilih tidak memperpanjang.
Margin tipis produk murah membuat gerai rentan goyah begitu penjualan turun sedikit saja, sementara biaya sewa dan royalti tetap berjalan.
Ekspansi masif sejak 2022 menempatkan tiga hingga empat gerai dalam satu kawasan, sehingga pelanggan yang sama harus dibagi ke banyak kasir.
Kenapa Pelanggan Setia Masih Bertahan
Namun antrean di sejumlah lokasi strategis Jakarta masih mengular, membuktikan loyalitas sebagian konsumen belum sepenuhnya luntur meski efek viral meredup.
Kesetiaan ini tumbuh dari kebiasaan harga terjangkau dan rasa familiar, bukan lagi sensasi tren media sosial semata seperti dulu.
Konsumen yang bertahan cenderung menganggap Mixue sebagai jajanan rutin, mirip warung langganan, ketimbang simbol gaya hidup yang harus dipamerkan.
Pergeseran ini menjelaskan mengapa penutupan gerai tidak otomatis berarti keruntuhan merek secara keseluruhan di mata pelanggan setianya.
PT Zhongsheng Pacific selaku pemegang lisensi di Indonesia tetap mencatatkan laba kuat dari penjualan bahan baku ke mitra usaha.
Perusahaan diprediksi mempertahankan jumlah gerai yang lebih terseleksi di lokasi strategis, bukan lagi mengejar ekspansi jor-joran seperti sebelumnya.
Kompetitor lokal minuman kekinian sejenis turut menekan pangsa pasar Mixue dengan varian rasa baru dan desain gerai lebih estetik.
Konsumen berusia 25 hingga 40 tahun disebut lebih rasional memilih tempat nongkrong, mempertimbangkan kenyamanan gerai selain sekadar harga murah.
Fenomena ini menjadi pelajaran bahwa loyalitas pelanggan sejati terbentuk dari pengalaman konsisten, bukan hanya gelombang viral yang mudah surut.
Riset internal menunjukkan generasi milenial dan Gen Z tetap menjadi konsumen dominan kategori minuman kekinian meski selektif memilih merek.
Ke depan, keberlangsungan Mixue akan bergantung pada kemampuan menjaga kualitas layanan, bukan sekadar mengandalkan gelombang viral yang pernah membesarkannya.
