Binus dan BCA Ungkap Transformasi Halo BCA dalam Studi Kasus

Studi Kasus Transformasi Halo BCA Studi kasus “Leading the Digital Shift: How Halo BCA Turned Strategic Vision into Operational Reality” mendokumentasikan bagaimana visi transformasi digital diterjemahkan menjadi perubahan operasional, penguatan kapabilitas organisasi, dan pengalaman layanan yang nyata.

Markbiz, 2 Agustus 2026 | Transformasi digital tidak lagi sekadar soal adopsi teknologi, melainkan kemampuan organisasi menerjemahkan visi strategis menjadi perubahan nyata di tingkat operasional.

Perspektif tersebut menjadi benang merah dalam studi kasus terbaru yang dirilis BINUS bersama PT Bank Central Asia Tbk. (BCA), bertajuk Leading the Digital Shift: How Halo BCA Turned Strategic Vision into Operational Reality.

Studi kasus yang diluncurkan dalam acara Case Release Halo BCA x BINUS di Wisma BCA Foresta, BSD, Tangerang, ini mengulas perjalanan Halo BCA dalam membangun transformasi layanan yang tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga memperkuat kapabilitas organisasi, menyelaraskan proses bisnis, mengembangkan sumber daya manusia, serta meningkatkan pengalaman nasabah.

Studi ini menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi bergantung pada kepemimpinan, budaya organisasi, pengembangan talenta, hingga indikator kinerja yang selaras dengan tujuan perusahaan.

Ketua XPloo – BINUS Center of Excellence in Digital Transformation & Sustainability, Prof. Firdaus Alamsjah, mengatakan transformasi digital baru dapat dikatakan berhasil ketika perubahan benar-benar tercermin dalam cara organisasi bekerja dan melayani pelanggan.

Baca juga: Dari Viral Jadi Sepi, Begini Sisi Psikologis Pelanggan Mixue Bertahan

“Transformasi digital tidak berhenti ketika sebuah organisasi berhasil mengadopsi teknologi. Tantangan yang sesungguhnya adalah bagaimana visi tersebut diterjemahkan menjadi cara kerja, kapabilitas, budaya, dan pengalaman layanan yang dapat dirasakan secara nyata,” ujar Prof. Firdaus.

Dia menambahkan, “Melalui studi kasus Halo BCA, kami ingin menunjukkan proses yang terjadi di balik sebuah transformasi, termasuk berbagai keputusan strategis dan organisasional yang memungkinkan perubahan tersebut berjalan.”

Menurutnya, Indonesia membutuhkan lebih banyak studi kasus yang berasal dari pengalaman perusahaan nasional agar akademisi maupun pelaku industri memiliki referensi yang sesuai dengan karakteristik bisnis, regulasi, dan budaya lokal.

Board of Management Bina Nusantara, Michael Wijaya Hadipoespito, menilai kolaborasi tersebut menjadi contoh bagaimana perguruan tinggi dapat menghadirkan pembelajaran yang lebih relevan dengan kebutuhan industri.

Baca juga: AI Segera Bertransaksi Sendiri, Bagaimana dengan Digital Trust?

“Kami menyambut baik kolaborasi Binus dan BCA dalam mendokumentasikan perjalanan transformasi Halo BCA menjadi sebuah studi kasus yang dapat dipelajari secara lebih luas. Kolaborasi ini sejalan dengan visi Binus untuk membina dan memberdayakan masyarakat dalam membangun dan melayani bangsa, melalui pengetahuan yang relevan, inovasi, dan kontribusi yang memberikan dampak positif bagi Indonesia,” katanya.

Wakil Presiden Direktur, BCA Armand W. Hartono, mengatakan perusahaan mengapresiasi dokumentasi tersebut karena dapat menjadi referensi bagi organisasi lain yang sedang menjalankan transformasi digital.

“Kami mengapresiasi kolaborasi bersama Binus yang mendokumentasikan perjalanan tersebut menjadi sebuah studi kasus. Semoga pembelajaran ini dapat memberikan perspektif yang bermanfaat bagi dunia pendidikan sekaligus menjadi inspirasi bagi berbagai organisasi dalam membangun transformasi digital yang berkelanjutan,” ungkap Armand.

Peluncuran studi kasus ini juga menjadi bagian dari peringatan 45 tahun Binus. Sebelumnya, XPloo bersama BCA telah menerbitkan dua studi kasus mengenai transformasi digital BCA dan pengembangan blu by BCA Digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *