5 Strategi HR Hadapi Era AI dan Masa Depan Kerja

Transformasi HR di era digital Transformasi HR di era digital

Markbiz, 9 Juli 2026 | Kecerdasan buatan (AI) memang mengubah cara perusahaan bekerja. Namun, teknologi saja tidak cukup untuk memenangkan persaingan. Di tengah transformasi dunia kerja, perusahaan justru dituntut memiliki strategi pengelolaan sumber daya manusia (SDM) yang lebih matang, mulai dari memahami kebutuhan bisnis, memetakan kompetensi karyawan, hingga memastikan setiap keputusan tetap berlandaskan etika.

Pesan tersebut menjadi benang merah dalam diskusi Power Talks yang diselenggarakan Jobstreet by SEEK bersama CEO sekaligus AI Transformation Architect PEEPL, Kevin Thompson.

Dalam perbincangan itu, keduanya membahas bagaimana AI dapat membantu fungsi HR menjadi lebih strategis tanpa menghilangkan peran manusia sebagai pengambil keputusan.

Baca juga: Public Speaking dan Personal Branding, Modal Tak Terlihat yang Menggerakkan Bisnis

Berikut lima pelajaran penting yang dapat menjadi panduan bagi perusahaan dalam menghadapi era AI.

1. Workforce planning harus mengikuti arah bisnis

Menurut Kevin Thompson, banyak organisasi masih menjalankan fungsi HR secara reaktif, yakni baru merekrut ketika ada posisi yang kosong. Pendekatan ini dinilai kurang efektif untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.

Sebaliknya, perencanaan tenaga kerja perlu dimulai dari visi perusahaan dan prioritas bisnis. Dengan memahami arah pertumbuhan organisasi, HR dapat mempersiapkan kompetensi yang dibutuhkan di masa depan, bukan sekadar memenuhi kebutuhan jangka pendek.

2. Kenali kompetensi yang dimiliki sebelum merekrut

Langkah berikutnya adalah memiliki gambaran menyeluruh mengenai kemampuan yang sudah dimiliki karyawan sekaligus keterampilan yang masih kurang.

Pemetaan kompetensi menjadi dasar bagi perusahaan untuk menentukan apakah kebutuhan tersebut lebih tepat dipenuhi melalui rekrutmen baru atau pengembangan karyawan yang sudah ada. Tanpa data tersebut, keputusan terkait talenta berisiko tidak tepat sasaran.

3. Seimbangkan rekrutmen dan pengembangan internal

Kevin menilai strategi SDM yang efektif tidak selalu berarti merekrut sebanyak mungkin talenta baru. Perusahaan perlu menentukan kemampuan apa yang harus didatangkan dari luar dan kompetensi apa yang dapat dibangun melalui pelatihan serta pengembangan internal.

Pendekatan ini dinilai lebih efisien dari sisi biaya sekaligus menciptakan pipeline talenta yang berkelanjutan di tengah perubahan kebutuhan bisnis yang berlangsung cepat.

4. AI memperkuat keputusan, bukan menggantikan manusia

Dalam pandangan Kevin, AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu untuk mengolah data dan menghasilkan analisis yang lebih komprehensif.

Teknologi ini mampu mengintegrasikan berbagai sumber data, seperti learning management system (LMS) maupun human resource information system (HRIS), sehingga perusahaan memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi tenaga kerja.

Baca juga: Pendanaan Bukan Segalanya, Founder Startup Diminta Fokus pada Solusi

Namun, ia mengingatkan bahwa keputusan strategis tetap membutuhkan pertimbangan manusia. “AI bukan untuk menggantikan manusia. Tapi AI akan menggantikan manusia yang tidak menggunakan AI,” ujar Kevin Thompson.

Ia menambahkan, aspek etika tetap menjadi sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. “Satu hal yang tidak bisa digantikan oleh AI adalah etika. Kita bisa mendapatkan lebih banyak data dengan bantuan AI, tetapi berdasarkan data tersebut, tetap ada etika di balik keputusan yang harus kita ambil,” katanya.

5. Mulailah dari proyek kecil

Bagi banyak perusahaan, transformasi AI sering dianggap sebagai proyek besar yang rumit. Kevin justru menyarankan pendekatan yang lebih sederhana, yakni memulai dari proyek percontohan (pilot project) pada satu fungsi atau departemen.

Cara ini memungkinkan organisasi belajar dari pengalaman nyata, melakukan evaluasi, lalu memperluas implementasi secara bertahap dengan risiko yang lebih rendah.

Sementara itu, Head of Country Marketing Jobstreet by SEEK Indonesia, Sawitri, menilai transformasi HR tidak cukup hanya mengadopsi teknologi. “Masa depan ketenagakerjaan harus high tech, tapi juga jangan lupa harus deeply human,” ujarnya.

Menurut Sawitri, peran HR kini berkembang jauh melampaui proses rekrutmen. Profesional HR dituntut mampu membaca arah bisnis, memetakan kapabilitas organisasi, serta memanfaatkan AI untuk menghasilkan keputusan yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *