Home » Lima Kunci HR Leaders Siapkan SDM Menghadapi Dunia Kerja Masa Depan

Lima Kunci HR Leaders Siapkan SDM Menghadapi Dunia Kerja Masa Depan

HR Leaders HR Leaders. Ilustrasi: uknowva.com

Markbiz, 27 Agustus 2026 | Perubahan dunia kerja membuat peran human resources (HR) semakin bergeser. HR tidak lagi cukup berfokus pada persoalan karyawan dan administrasi, tetapi dituntut memahami bisnis, membantu pemimpin mengambil keputusan, sekaligus memastikan sisi kemanusiaan tetap menjadi pertimbangan.

Praktisi HR dengan pengalaman lebih dari dua dekade di perusahaan multinasional, Dina Sitopu, membagikan lima pelajaran yang dinilai penting bagi HR leaders dalam membangun sumber daya manusia (SDM) yang siap menghadapi perubahan.

Pandangan tersebut disampaikan Dina dalam episode pertama Power Talks Season 2 yang digelar Jobstreet by SEEK. Lima pelajaran tersebut mencakup posisi HR sebagai mitra bisnis, pengembangan kemampuan melalui coaching, pengambilan keputusan berbasis data dan empati, pembangunan psychological safety, serta keberanian dalam kepemimpinan.

Baca juga: Public Speaking dan Personal Branding, Modal Tak Terlihat yang Menggerakkan Bisnis

HR Perlu Memahami Bahasa Bisnis

Menurut Dina, HR perlu memahami persoalan bisnis secara lebih luas agar dapat berperan sebagai mitra strategis. Pemahaman tersebut tidak hanya terkait persoalan people, tetapi juga mencakup arah bisnis dan target perusahaan.

HR perlu memahami bahasa yang digunakan berbagai fungsi dalam organisasi, mulai dari pemasaran, produktivitas, keselamatan, kualitas hingga rantai pasok.

Dengan begitu, HR dapat terlibat sejak awal dalam pembahasan persoalan bisnis, bukan hanya ketika perusahaan membutuhkan implementasi kebijakan terkait SDM.

Keterlibatan lebih awal memungkinkan HR memahami persoalan secara lebih utuh sekaligus membantu menyelaraskan kebutuhan lintas fungsi dengan kesiapan SDM.

Coaching Bukan Sekadar Program

Dina juga menyoroti pentingnya coaching dalam pengembangan kemampuan karyawan. Namun, menurutnya, coaching akan lebih efektif apabila menjadi bagian dari ekosistem perusahaan, bukan sekadar program yang dijalankan sesekali.

Coaching perlu melekat dalam peran people manager, didukung pelatihan, komunitas, pengakuan, serta praktik yang sederhana dan relevan dengan pekerjaan sehari-hari.

Coaching bukanlah memberi tahu orang lain, melainkan memicu sudut pandang yang berbeda,” ujar Dina.

Menurut dia, pendekatan tersebut membantu seseorang memahami konteks, melihat berbagai pilihan, dan mengembangkan kemampuan untuk menemukan solusi atas persoalannya sendiri.

Data Penting, tetapi Manusia Tetap Utama

Dalam pengambilan keputusan terkait SDM, data dan fakta menjadi fondasi penting. Namun, Dina mengingatkan bahwa keputusan tidak dapat hanya didasarkan pada angka.

HR juga perlu mendengarkan berbagai perspektif dari pemangku kepentingan, memahami kekhawatiran dan ekspektasi mereka, serta memastikan adanya keselarasan sebelum keputusan dibuat.

Di sinilah faktor kemanusiaan menjadi penting. Keputusan yang terlihat tepat secara angka belum tentu memberikan hasil yang baik jika diterapkan tanpa kepekaan, kebijaksanaan, dan rasa hormat.

Perpaduan pola pikir analitis dengan pendekatan humanis, menurut Dina, membantu HR mengelola dampak dan risiko keputusan secara lebih bertanggung jawab.

Menciptakan Ruang untuk Berani Bersuara

Lingkungan kerja yang sehat juga menjadi bagian penting dalam membangun SDM masa depan. Dina menilai perusahaan tidak harus terbebas dari tekanan atau konflik, tetapi perlu menciptakan lingkungan yang memungkinkan karyawan menyampaikan kekhawatiran dan menjadi dirinya sendiri.

Konsep psychological safety dapat dibangun melalui hubungan yang dekat namun tetap profesional. Pemimpin perlu menjadi sosok yang mudah ditemui, sekaligus mampu memberikan umpan balik, menjaga standar, dan mengambil keputusan secara konsisten.

Baca juga: 5 Strategi HR Hadapi Era AI dan Masa Depan Kerja

Dengan pendekatan tersebut, kedekatan antara pemimpin dan karyawan tidak berubah menjadi perlakuan khusus, sementara profesionalisme juga tidak membuat pemimpin kehilangan kedekatan dengan tim.

Kepemimpinan Butuh Keberanian

Bagi Dina, pemimpin yang baik bukan sekadar sosok yang ingin disukai atau ditakuti. Seorang pemimpin perlu membangun kepercayaan dan kredibilitas melalui konsistensi, kemampuan menepati janji, serta penerapan standar yang adil.

Keberanian juga diperlukan untuk menghadapi tantangan, mengubah cara pandang, dan melihat peluang di tengah keterbatasan.

Bagi profesional yang tengah membangun karier, keberanian tersebut dapat diperkuat dengan kemampuan menentukan prioritas, membangun support system, serta memiliki definisi kesuksesan yang bersumber dari pertumbuhan diri, bukan semata-mata validasi eksternal.

“Pemimpin HR yang hebat selalu memimpin dengan keberanian, membantu orang menjadi versi terbaik dari dirinya, dan membentuk bisnis dengan memastikan kemanusiaan serta kinerja dapat tumbuh bersama,” kata Dina.

Kinerja dan Kemanusiaan Perlu Berjalan Bersama

Head of Country Marketing Jobstreet by SEEK Indonesia, Sawitri, mengatakan, pengalaman yang dibagikan Dina menunjukkan bahwa peran HR semakin membutuhkan perpaduan antara pemahaman bisnis dan kemampuan membangun hubungan dengan manusia.

Insight dari Bu Dina menunjukkan bahwa HR yang kuat bukan hanya memahami kebijakan dan proses, tetapi juga mampu berbicara dalam bahasa bisnis, membangun kepercayaan, dan mengambil keputusan dengan mempertimbangkan dampaknya bagi manusia,” ujar Sawitri.

Menurut dia, keseimbangan antara kinerja dan kemanusiaan menjadi salah satu aspek penting dalam mempersiapkan perusahaan dan SDM menghadapi perubahan dunia kerja.

“Perpaduan antara kinerja dan kemanusiaan inilah yang penting untuk membangun perusahaan dan SDM yang siap menghadapi masa depan,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *