Markbiz.id, 20 Juli 2026, Persaingan global di bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) memasuki babak baru. Dalam ajang World Artificial Intelligence Conference (WAIC) yang digelar di Shanghai, Presiden Xi Jinping menegaskan ambisi China untuk menjadi pemimpin dalam tata kelola AI dunia melalui pembentukan aliansi AI global. Langkah ini dipandang sebagai strategi penting untuk memperkuat pengaruh China di tengah kompetisi teknologi yang semakin ketat dengan Amerika Serikat.
Selama beberapa tahun terakhir, AI telah berkembang menjadi teknologi strategis yang tidak hanya menentukan daya saing industri, tetapi juga memengaruhi keamanan nasional, pertumbuhan ekonomi, hingga hubungan geopolitik antarnegara. Oleh karena itu, negara-negara besar berlomba mengembangkan model AI, membangun pusat data, memproduksi semikonduktor canggih, serta menetapkan standar internasional mengenai penggunaan teknologi tersebut.
Melalui inisiatif terbaru ini, China menawarkan pendekatan yang menekankan kolaborasi internasional dan pengembangan teknologi AI yang lebih terbuka. Pemerintah China mendorong penggunaan model open source, memperluas kerja sama penelitian lintas negara, serta membuka peluang bagi negara-negara berkembang untuk ikut menikmati manfaat transformasi digital berbasis AI. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menciptakan ekosistem AI yang lebih inklusif dan tidak hanya didominasi oleh segelintir perusahaan teknologi global.
Langkah China ini juga merupakan respons terhadap berbagai pembatasan ekspor teknologi canggih yang diterapkan Amerika Serikat, terutama pada sektor chip AI dan perangkat komputasi berkinerja tinggi. Pembatasan tersebut mendorong China untuk mempercepat kemandirian teknologi sekaligus memperluas kerja sama dengan negara-negara yang memiliki kepentingan serupa dalam membangun infrastruktur AI.
Persaingan kedua negara kini tidak lagi sekadar mengenai siapa yang memiliki model AI terbaik, tetapi juga siapa yang mampu membentuk standar global mengenai etika, keamanan, regulasi, dan pemanfaatan AI. Negara yang berhasil memimpin standar tersebut berpotensi memperoleh keuntungan ekonomi dan politik yang sangat besar dalam jangka panjang.
Bagi Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara, perkembangan ini membuka peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, meningkatnya persaingan antara Amerika Serikat dan China dapat mempercepat transfer teknologi, investasi pusat data, pengembangan talenta digital, serta kolaborasi riset di kawasan. Di sisi lain, setiap negara perlu memiliki strategi yang jelas agar tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi juga mampu membangun ekosistem AI yang mandiri dan kompetitif.
