Sekitar 78% remaja Indonesia pernah mengalami pengalaman buruk di masa kecil. Peneliti mengembangkan AI untuk membantu deteksi dini risiko trauma.
Markbiz, Jakarta, 3 Juli 2026 – Tidak semua luka terlihat. Bagi banyak anak dan remaja, pengalaman buruk di masa kecil kerap tersimpan rapat, tetapi dampaknya dapat bertahan hingga dewasa dan memengaruhi kesehatan mental maupun hubungan sosial mereka.
Di Indonesia, persoalan tersebut ternyata bukan kasus yang sedikit. Sekitar 78% remaja mengaku pernah mengalami pengalaman buruk di masa kecil (adverse childhood experiences atau ACE), mulai dari mengalami hingga menyaksikan kekerasan di lingkungan rumah maupun sekolah.
Pengalaman itu dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi. Bahkan, penelitian menunjukkan trauma masa kecil juga berpotensi memicu siklus kekerasan antargenerasi apabila tidak ditangani sejak dini.
Baca juga: Prodia Kini Tambah Satu Lokasi Untuk Semua Kebutuhan Kesehatan Perempuan
Sayangnya, tanda-tanda tersebut sering luput dikenali oleh orang-orang terdekat, baik keluarga maupun guru. Akibatnya, banyak kasus kesehatan mental baru terdeteksi ketika kondisinya telah berkembang menjadi lebih serius.
Melihat fenomena tersebut, tim peneliti Monash University Indonesia tengah mengembangkan platform digital berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama “Kita Bersama”. Platform ini dirancang sebagai alat skrining awal untuk membantu mengenali dampak pengalaman buruk di masa kecil sekaligus mendorong masyarakat mencari bantuan profesional lebih cepat.
Pemanfaatan AI dalam kesehatan mental bukan tanpa dasar. Studi yang dipublikasikan pada 2024 menunjukkan AI mampu mengenali perubahan kondisi emosional seseorang melalui pola bahasa, aktivitas fisik, kualitas tidur, hingga pola interaksi. Kemampuan mengenali pola dari berbagai data tersebut membuka peluang bagi AI untuk membantu mendeteksi risiko gangguan kesehatan mental sejak tahap awal.
Namun, para peneliti menilai teknologi saja tidak cukup. Agar benar-benar bermanfaat bagi masyarakat Indonesia, pengembangan AI harus memahami konteks budaya, bahasa, sistem pendidikan, hingga dinamika keluarga yang berbeda dengan negara lain.
Pendekatan tersebut juga penting untuk mengurangi risiko bias yang dapat menghasilkan penilaian keliru atau memperkuat stigma terhadap penyintas gangguan kesehatan mental.
Karena itu, pengembangan Kita Bersama melibatkan anak dan remaja berusia 10–24 tahun, orang tua, guru, tenaga kesehatan, hingga penyintas masalah kesehatan mental melalui serangkaian lokakarya co-design. Mereka diajak menyampaikan pengalaman dan kebutuhan nyata agar teknologi yang dikembangkan benar-benar menjawab persoalan yang dihadapi pengguna.
Hingga pertengahan 2026, proses tersebut telah dilakukan di Jawa Barat, Kalimantan Timur, dan Jakarta. Prototipe platform kini memasuki tahap konsultasi bersama para ahli serta pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Kesehatan, sebelum diuji coba secara sukarela di Jawa Barat dan Kalimantan Timur pada akhir tahun ini. Hasil uji coba diperkirakan tersedia pada Februari 2027.
Baca juga: Pembatasan Media Sosial dan Implikasinya Untuk Startup
Meski memanfaatkan teknologi AI, para peneliti menegaskan platform ini tidak dirancang untuk menggantikan psikolog maupun psikiater. Pengguna yang terindikasi mengalami gangguan kesehatan mental tetap akan diarahkan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.
Hal tersebut dinilai penting karena proses pemulihan tidak hanya bergantung pada kemampuan menganalisis data, tetapi juga membutuhkan empati, hubungan terapeutik, dan interaksi antarmanusia yang hingga kini belum dapat digantikan oleh kecerdasan buatan.
Ke depan, pengembangan AI untuk kesehatan mental masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kesenjangan akses internet dan literasi digital hingga perlindungan data pribadi.
Mengingat informasi kesehatan mental merupakan data yang sangat sensitif, para peneliti menekankan bahwa setiap penerapan AI harus mengedepankan prinsip transparansi, persetujuan pengguna (informed consent), perlindungan privasi, serta pengawasan manusia dalam setiap proses pengambilan keputusan.
