Home » Warisan Bukan Sekadar Harta, Pensiun Juga Harus Terjamin

Warisan Bukan Sekadar Harta, Pensiun Juga Harus Terjamin

Tabungan pensiun Kantor-Manulife

Markbiz, Jakarta, 6 September 2026 — Keinginan meninggalkan warisan bagi anak sering kali menjadi salah satu tujuan utama dalam perencanaan keuangan keluarga. Rumah, tabungan, investasi, hingga aset lainnya dipersiapkan agar generasi berikutnya memiliki kehidupan yang lebih baik.

Namun, di tengah keinginan memberikan sebanyak mungkin kepada anak, ada pertanyaan yang semakin relevan: apakah orang tua sudah cukup mempersiapkan kehidupan mereka sendiri setelah tidak lagi memiliki penghasilan aktif?

Temuan Asia Care Survey 2026 menunjukkan adanya perubahan cara pandang masyarakat Indonesia mengenai hubungan antara warisan dan masa pensiun. Survei tahunan yang dilakukan Manulife terhadap 9.000 responden di Asia, termasuk Indonesia, menemukan bahwa responden Indonesia secara rata-rata berencana menggunakan 60% aset mereka untuk mempersiapkan masa pensiun yang mandiri dan bermartabat.Sementara sekitar 40% aset direncanakan untuk diwariskan kepada keluarga.

Angka tersebut menarik karena menunjukkan bahwa mempersiapkan masa pensiun kini tidak lagi dipandang sebagai tindakan yang bertentangan dengan keinginan memberikan warisan kepada anak. Sebaliknya, keduanya mulai dilihat sebagai dua tujuan yang harus diseimbangkan.

Baca juga: Kinerja Investasi Positif, DPLK Syariah Muamalat Masuk ETF Emas

Tidak Menjadi Beban Generasi Berikutnya

Dalam budaya keluarga di Indonesia, hubungan finansial antara orang tua dan anak sering kali berlangsung sepanjang hidup. Anak yang telah dewasa tidak jarang tetap memiliki tanggung jawab untuk membantu orang tua, terutama ketika memasuki usia pensiun.

Karena itu, mempersiapkan dana pensiun secara mandiri dapat menjadi bentuk tanggung jawab orang tua kepada generasi berikutnya.

“Warisan terbaik bukan selalu aset terbesar. Warisan terbaik adalah ketika anak menerima sesuatu dari orang tuanya, sekaligus tetap memiliki kebebasan untuk membangun kehidupannya sendiri tanpa harus menjadikan dirinya sebagai dana pensiun keluarga,” ujar Eveline Haumahu, Chief Marketing Officer PT Manulife Aset Manajemen Indonesia.

Pandangan tersebut menjadi semakin relevan ketika generasi muda menghadapi tantangan ekonomi yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.

Persaingan kerja semakin ketat, jalur karier semakin dinamis, sementara biaya hidup terus meningkat. Banyak anak muda membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk mencapai kestabilan finansial, membeli rumah, membangun keluarga, hingga mempersiapkan masa depan mereka sendiri.

Dalam kondisi seperti itu, warisan tidak selalu harus dimaknai semata sebagai jumlah aset terbesar yang ditinggalkan. Kemampuan orang tua membiayai kehidupan mereka sendiri di masa pensiun juga dapat menjadi bagian dari warisan yang tidak kalah penting.

Pensiun Bisa Berlangsung Hampir Dua Dekade

Tantangan terbesar dalam mempersiapkan masa pensiun adalah lamanya periode kehidupan setelah seseorang berhenti bekerja.

Menurut data Badan Pusat Statistik, usia harapan hidup masyarakat Indonesia telah mencapai sekitar 74 tahun. Sementara usia pensiun umumnya berada di kisaran 55 tahun.

Artinya, seseorang berpotensi menjalani hampir 20 tahun kehidupan tanpa penghasilan aktif dari pekerjaan utama.

Periode tersebut tentu bukan waktu yang singkat. Kebutuhan sehari-hari tetap berjalan, sementara biaya kesehatan berpotensi meningkat seiring bertambahnya usia. Inflasi juga terus menggerus daya beli.

Karena itu, persoalan pensiun bukan hanya tentang berhenti bekerja. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang tetap dapat menjalani kehidupan secara layak ketika sumber penghasilan aktif telah berkurang atau bahkan berhenti.

“Niat membebaskan anak-anak kita dari kewajiban menanggung hidup kita di masa pensiun sudahlah baik. Akan tetapi, untuk menjadi pensiunan yang mandiri, diperlukan perencanaan finansial yang kuat. Biaya hidup selama 20 tahun tidaklah murah, sehingga harus dipupuk sedini mungkin,” kata Eveline.

Menemukan Keseimbangan Antara Diri dan Keluarga

Temuan alokasi 60% aset untuk kebutuhan masa pensiun dan 40% untuk diwariskan sebenarnya tidak harus dibaca sebagai formula baku yang berlaku untuk semua keluarga.

Setiap orang memiliki kondisi finansial, jumlah tanggungan, kebutuhan kesehatan, serta tujuan keluarga yang berbeda. Namun, angka tersebut memberikan gambaran mengenai perubahan perspektif. Sebelum menentukan berapa banyak harta yang ingin diwariskan, seseorang perlu terlebih dahulu memastikan bahwa kebutuhan hidupnya sendiri di masa pensiun telah memiliki fondasi yang cukup kuat. Cara pandang ini juga mengubah makna kasih sayang dalam keluarga.

Baca juga: Tabungan Emas Pegadaian Kini Hadir di myBCA

Meninggalkan seluruh aset untuk anak, tetapi kemudian bergantung secara finansial kepada mereka pada masa tua, belum tentu menjadi pilihan terbaik. Sebaliknya, memiliki kemandirian finansial pada masa pensiun dapat memberikan ruang bagi anak untuk membangun kehidupan mereka sendiri.

Dengan demikian, perencanaan pensiun bukanlah tindakan egois. Dalam konteks keluarga, mempersiapkan diri sendiri justru dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kesejahteraan antargenerasi.

Memulai Sedini Mungkin

Kabar baiknya, pilihan untuk mempersiapkan dana pensiun kini semakin beragam. Produk dana pensiun, termasuk Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK), reksa dana, serta berbagai instrumen pasar modal memberikan alternatif bagi masyarakat untuk membangun aset secara bertahap.

Perkembangan teknologi juga membuat akses terhadap produk investasi dan edukasi keuangan semakin luas. Dengan minimum investasi yang relatif terjangkau pada sejumlah instrumen, mempersiapkan masa pensiun tidak lagi harus menunggu seseorang memiliki pendapatan yang sangat besar. Tantangannya justru terletak pada konsistensi dan kesadaran untuk memulai lebih awal.

Semakin dini seseorang mempersiapkan dana pensiun, semakin panjang waktu yang dimiliki untuk membangun aset. Sebaliknya, menunda persiapan hingga mendekati usia pensiun dapat membuat kebutuhan dana yang harus disiapkan menjadi jauh lebih besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *