Markbiz, Jakarta, 6 September 2026 — Bayangkan sebuah robot yang tidak hanya mampu mengangkat barang, tetapi juga berjalan melewati pintu, menaiki tangga, mengambil benda dari rak, menggunakan peralatan yang dirancang untuk manusia, lalu menerima instruksi melalui bahasa sehari-hari.
Robot semacam itu bukan lagi sekadar mesin otomatisasi. Ia dirancang untuk beroperasi di dunia yang sejak awal memang dibangun untuk manusia. Inilah yang menjadi alasan munculnya robot humanoid.
Kata “humanoid” berasal dari bahasa Inggris yang merupakan gabungan dari kata human (manusia) dan akhiran -oid yang berarti “menyerupai” atau “mirip”. Jadi, robot humanoid adalah jenis mesin atau robot yang dirancang dan dibentuk agar memiliki tampilan fisik, postur, serta kemampuan bergerak yang menyerupai manusia.
NVIDIA mendefinisikan humanoid sebagai robot bipedal serbaguna yang menggunakan bentuk tubuh manusia dan ditujukan untuk bekerja berdampingan dengan manusia. Robot ini menggabungkan sensor, aktuator, komputasi dan perangkat lunak AI agar mampu memahami lingkungan, merencanakan tindakan dan bergerak secara mandiri.
Namun, bentuk menyerupai manusia sebenarnya bukan inti persoalannya. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan robot untuk memahami dan bertindak di dunia fisik.
Bukan Sekadar Robot yang Bisa Berjalan
Robot industri sebenarnya sudah jauh lebih lama digunakan manusia. Lengan robot di pabrik mobil, misalnya, dapat mengelas, mengecat, memindahkan komponen atau memasang bagian tertentu dengan kecepatan dan presisi tinggi.
Tetapi robot tersebut biasanya bekerja dalam lingkungan yang sudah dirancang khusus untuknya. Humanoid mengambil pendekatan berbeda.
Alih-alih mengubah lingkungan agar cocok dengan robot, robot dibuat agar dapat beradaptasi dengan lingkungan yang sudah ada.
Pintu, tangga, rak, meja, troli, perkakas dan berbagai peralatan kerja yang selama ini dirancang untuk manusia secara teoritis dapat digunakan oleh robot dengan bentuk serupa manusia.
Di sinilah konsep embodied AI atau kecerdasan buatan yang diwujudkan dalam tubuh fisik menjadi penting. AI selama ini banyak berinteraksi dengan dunia melalui layar. Model bahasa dapat memahami teks, model visi dapat mengenali gambar, dan AI generatif dapat menghasilkan tulisan atau gambar.
Humanoid membawa AI keluar dari layar.
Robot harus melihat benda, memahami posisi tubuhnya, menjaga keseimbangan, mengambil keputusan dan kemudian menggerakkan tubuhnya untuk melakukan sesuatu.
Dengan kata lain, AI tidak cukup hanya tahu. Ia harus mampu bertindak.
Perkembangan humanoid tidak dapat dilepaskan dari kemajuan AI. Robot modern menggunakan kamera, sensor gaya, sensor posisi, sensor keseimbangan, prosesor dan model AI untuk memahami lingkungan.
NVIDIA menjelaskan bahwa humanoid modern dilatih melalui kombinasi simulasi, data sintetis dan pembelajaran AI sebelum model tersebut dijalankan pada komputer yang berada di dalam robot.
Jika AI generatif membantu komputer memahami dan menghasilkan informasi, physical AI mencoba membuat mesin memahami dunia fisik dan melakukan tindakan di dalamnya.
Kesalahan sebuah chatbot mungkin hanya menghasilkan jawaban yang salah. Kesalahan robot dapat membuat benda jatuh, merusak peralatan atau bahkan mencederai manusia.
Karena itu, persoalan humanoid bukan hanya soal kecerdasan. Ia juga menyangkut mekanik, energi, keselamatan, kontrol gerakan dan kemampuan berinteraksi dengan manusia.
Mengapa Harus Berbentuk Manusia?
Pertanyaan berikutnya kalau tujuan utamanya adalah bekerja, mengapa tidak membuat robot dengan bentuk yang lebih sederhana?
Jawabannya berkaitan dengan lingkungan manusia. Sebuah gudang, rumah sakit, hotel atau rumah sudah dibangun untuk tubuh manusia.
Jika robot mempunyai dua tangan dan mampu berjalan seperti manusia, secara teoritis robot tidak memerlukan perubahan besar pada lingkungan tersebut.
Inilah salah satu argumen utama di balik humanoid. Tetapi bentuk manusia juga menciptakan persoalan baru.
Dua kaki berarti robot harus menjaga keseimbangan. Dua tangan berarti robot membutuhkan koordinasi yang jauh lebih kompleks. Tangan dengan banyak sendi juga membutuhkan kemampuan merasakan gaya dan sentuhan. Di sinilah kritik terhadap humanoid mulai muncul.
Rodney Brooks: Jangan Terlalu Cepat Percaya
Rodney Brooks, profesor emeritus MIT sekaligus salah satu tokoh penting dalam perkembangan robotika modern, termasuk pihak yang skeptis terhadap euforia humanoid.
Dalam tulisannya pada September 2025, Brooks mempertanyakan kemampuan humanoid generasi sekarang untuk mencapai tingkat ketangkasan tangan seperti manusia.
Menurutnya, persoalan terbesar bukan sekadar membuat robot mampu bergerak, tetapi membuatnya mampu melakukan manipulasi objek secara fleksibel dalam situasi dunia nyata.
Brooks juga menilai bahwa data visual saja tidak cukup untuk mengajarkan robot mengenai berbagai aspek sentuhan dan gaya yang diperlukan tangan manusia ketika memegang benda.
Dalam prediksinya, kemampuan manipulasi humanoid yang benar-benar dapat digunakan di dunia nyata masih menghadapi perjalanan panjang.
Kritik Brooks penting karena memperlihatkan satu hal: gerakan yang terlihat mengesankan belum tentu sama dengan kecerdasan fisik.
Robot yang mampu menari, berlari atau melakukan gerakan kungfu belum tentu mampu mengambil gelas dari meja tanpa menjatuhkannya.
Persoalan Energi dan Keselamatan
Ada persoalan lain yang sering luput dari video demonstrasi yakni energi. Tubuh manusia merupakan hasil evolusi biologis yang sangat efisien. Robot harus menggantikan sistem biologis itu dengan motor, baterai, sensor dan sistem kontrol.
Semakin berat robot dan semakin banyak gerakan yang dilakukan, semakin besar pula kebutuhan energinya.
Di sisi lain, humanoid harus bekerja berdekatan dengan manusia. Robot seberat puluhan kilogram yang kehilangan keseimbangan bukan sekadar mengalami error. Ia memiliki energi kinetik yang dapat membahayakan orang di sekitarnya.
Sebuah kajian keselamatan humanoid yang terbit pada 2025 dan menelaah 121 studi peer-reviewed periode 2021–2025 menunjukkan, bahwa keselamatan fisik masih menjadi perhatian utama dalam interaksi manusia-robot. Kajian tersebut juga menyoroti bahwa aspek seperti keamanan siber, standar, etika dan implikasi sosial belum mendapatkan perhatian yang sama besar. Artinya, semakin dekat robot dengan manusia, semakin tinggi tuntutan keselamatannya.
Apakah Humanoid Akan Mengambil Pekerjaan?
Inilah pertanyaan yang paling sensitif. Secara teori, robot yang dapat melakukan pekerjaan manusia memang berpotensi mengurangi kebutuhan tenaga kerja untuk tugas tertentu.
Penelitian ekonom Daron Acemoglu dan Pascual Restrepo mengenai robot dan pasar tenaga kerja Amerika Serikat menemukan bahwa peningkatan penggunaan robot industri pada periode 1990–2007 berkaitan dengan penurunan lapangan kerja dan upah di wilayah yang lebih terpapar robot.
Namun, humanoid tidak otomatis berarti seluruh pekerjaan manusia akan hilang. Yang lebih mungkin berubah terlebih dahulu adalah komposisi tugas dalam sebuah pekerjaan.
Robot mungkin mengambil tugas yang berat, berulang, berbahaya atau sangat rutin. Manusia kemudian mengerjakan bagian yang membutuhkan penilaian, komunikasi, kreativitas, empati atau pengambilan keputusan.
Dengan demikian, pertanyaannya bukan hanya “Apakah robot akan menggantikan manusia?” Tetapi :Bagian mana dari pekerjaan manusia yang akan digantikan robot?”
Masa Depan Humanoid Bukan Tentang Menjadi Manusia
Kesalahpahaman terbesar mengenai humanoid adalah menganggap tujuan akhirnya adalah menciptakan “manusia buatan”. Padahal tujuan ekonominya jauh lebih sederhana, membuat mesin yang dapat bekerja di lingkungan manusia tanpa mengharuskan manusia membangun ulang seluruh lingkungannya.
Karena itu, humanoid mungkin akan menjadi salah satu bentuk robot masa depan, tetapi bukan berarti bentuk manusia selalu menjadi desain terbaik.
Bahkan Rodney Brooks memperkirakan bahwa robot yang akhirnya sukses secara komersial bisa saja tidak sepenuhnya menyerupai manusia.
Pasar tidak membeli robot karena memiliki dua kaki dan dua tangan, tetapi pasar membeli hasil. Robot harus lebih aman, lebih murah, lebih produktif, dan lebih dapat diandalkan dibandingkan alternatif yang sudah tersedia. Itulah ujian sesungguhnya bagi humanoid. Bukan seberapa mirip ia dengan manusia, melainkan seberapa aman dan bernilai bagi manusia.
