Markbiz, 6 September 2026 | Ada sebuah ironi dalam kemajuan ilmu pengetahuan manusia. Kita mampu mengarahkan teleskop ke langit, mengamati galaksi yang jaraknya miliaran tahun cahaya, menghitung pergerakan planet, bahkan memperkirakan kapan gerhana akan terjadi jauh sebelum manusia yang menyaksikannya lahir.
Namun, ketika melihat ke bawah—ke tanah yang setiap hari kita pijak—pengetahuan manusia ternyata belum sepenuhnya mampu menjawab apa yang terjadi di dalamnya.
Kita tahu bagaimana galaksi terbentuk dan bergerak. Kita dapat memperkirakan jumlah galaksi di alam semesta yang dapat diamati. Kita mampu mengirim wahana ke planet lain dan mendaratkan robot di permukaan Mars.
Tetapi kita belum dapat memastikan kapan sebuah patahan jauh di bawah kaki kita akan melepaskan energi dan menghasilkan gempa. Kita mampu menghitung langit, tetapi belum sepenuhnya mampu membaca isi bumi.
Ironi itu menjadi semakin menarik ketika kita membandingkan kemampuan manusia memprediksi gerhana dengan ketidakmampuannya memprediksi gempa secara presisi.
Gerhana dapat dihitung hingga bertahun-tahun, bahkan jauh ke masa depan. Sementara gempa bumi yang mungkin terjadi beberapa kilometer atau puluhan kilometer di bawah permukaan masih menyimpan ketidakpastian besar.
Langit Lebih Mudah Diamati daripada Isi Bumi
Sekilas, persoalan ini terasa tidak masuk akal. Bukankah galaksi berada miliaran tahun cahaya dari manusia, sementara sumber gempa berada relatif dekat di bawah permukaan?
Namun, jarak ternyata bukan satu-satunya ukuran kesulitan dalam ilmu pengetahuan. Benda-benda langit dapat diamati secara langsung.
Cahaya dari bintang dan galaksi mencapai teleskop manusia. Pergerakan planet dapat dilacak. Orbit dapat dihitung. Dan, yang paling penting, benda-benda tersebut bergerak mengikuti hukum fisika yang relatif stabil dan dapat dimodelkan.
Tetapi bumi berbeda. Untuk memahami apa yang terjadi di kedalaman planet, manusia tidak bisa sekadar memasang teleskop dan melihat langsung.
Sebagian besar informasi tentang interior bumi diperoleh secara tidak langsung, antara lain melalui gelombang seismik, medan gravitasi, medan magnet, dan penelitian terhadap material yang berhasil mencapai permukaan.
Manusia pada dasarnya sedang mencoba memahami bagian dalam sebuah planet dengan membaca berbagai “sinyal” yang keluar dari dalamnya. Dan itu jauh lebih sulit daripada melihat objek yang sangat jauh tetapi dapat diamati secara langsung.
Gerhana Bisa Dihitung karena Alam Memiliki Pola
Gerhana terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam konfigurasi tertentu. Gerak ketiganya mengikuti hukum gravitasi dan mekanika orbit yang sangat dapat diprediksi.
Dengan mengetahui posisi dan kecepatan benda-benda tersebut, ilmuwan dapat menghitung kapan mereka akan kembali berada dalam konfigurasi yang menghasilkan gerhana.
NASA menjelaskan bahwa prediksi gerhana dilakukan melalui perhitungan posisi dan pergerakan benda langit menggunakan model matematika.
Dalam pengertian sederhana, sistem matahari-bumi-bulan bekerja seperti sebuah jam kosmik. Sangat besar, sangat kompleks, tetapi memiliki keteraturan.
Gempa Bukan Peristiwa yang Berjalan Seperti Jadwal
Gempa bumi mengikuti hukum fisika yang sama-sama dapat dipelajari. Namun, sistem yang menghasilkan gempa jauh lebih kompleks. Lempeng bergerak sangat lambat. Batuan saling menekan. Patahan terkunci akibat gesekan. Energi terakumulasi selama bertahun-tahun, puluhan tahun, bahkan lebih lama.
Kemudian, pada suatu titik, tekanan dilepaskan. Masalahnya, ilmuwan belum mengetahui secara pasti kondisi mikro yang menentukan kapan titik kritis itu terjadi.
Perubahan kecil pada tekanan, struktur batuan, temperatur, fluida, dan gesekan dapat memengaruhi perilaku sebuah patahan.
US Geological Survey menegaskan, bahwa hingga saat ini ilmuwan belum dapat memprediksi gempa secara akurat berdasarkan waktu, lokasi, dan magnitudo.
Bagaimana Kita Bisa Mengetahui Kapan Gunung Api Akan Meletus?
Ahli vulkanologi Smithsonian, Richard Fiske, pernah menjelaskan persoalan ini secara sederhana. Menurut Fiske, ilmuwan tidak dapat memprediksi waktu persis kapan gunung api akan meletus, tetapi dapat mengantisipasi aktivitas vulkanik.
Pernyataan tersebut menggambarkan perbedaan penting antara prediction dan forecast. Prediksi berarti mengetahui secara spesifik apa yang akan terjadi dan kapan. Sementara prakiraan berarti memperkirakan kemungkinan berdasarkan tanda-tanda dan data yang tersedia.
Dalam dunia gunung api, ilmuwan membaca “bahasa” alam melalui gempa vulkanik, gas, deformasi tanah, dan berbagai perubahan fisik lainnya. Namun, bahasa tersebut tidak selalu memiliki pola yang sama.
Dikutip dari laman usgs.gov, sebagian besar gunung api memberikan tanda-tanda peringatan sebelum terjadi erupsi. Erupsi magmatik terjadi ketika magma bergerak naik menuju permukaan. Proses ini biasanya menghasilkan gempa bumi yang dapat dideteksi.
Pergerakan magma juga dapat menyebabkan perubahan bentuk atau deformasi permukaan tanah, aliran panas yang tidak normal, serta perubahan suhu dan komposisi kimia air tanah maupun air mata air.
Namun, erupsi akibat ledakan uap (steam-blast eruption) dapat terjadi dengan sedikit atau bahkan tanpa peringatan. Erupsi jenis ini terjadi ketika air yang sangat panas tiba-tiba berubah menjadi uap.
Berikut tanda-tanda akan terjadi erupsi gunung berapi:
- Meningkatnya frekuensi dan intensitas gempa yang dapat dirasakan manusia.
- Munculnya aktivitas uap atau fumarola yang semakin kuat, serta terbentuknya area tanah panas baru atau meluasnya area yang sudah ada.
- Permukaan tanah mengalami penggembungan secara perlahan dan halus.
- Perubahan kecil pada aliran panas.
- Perubahan komposisi atau proporsi relatif gas yang keluar dari fumarola.
Namun, tanda-tanda tersebut tidak dapat menunjukkan jenis maupun skala erupsi yang akan terjadi. Informasi mengenai kemungkinan jenis dan skala erupsi justru lebih baik diperoleh dengan memetakan dan mempelajari erupsi-erupsi yang pernah terjadi sebelumnya.
Tanda-tanda awal tersebut juga tidak selalu berarti erupsi akan segera terjadi. Aktivitas pendahuluan dapat berlangsung selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sebelum erupsi dimulai.
Sebaliknya, tanda-tanda tersebut juga dapat mereda kapan saja dan tidak diikuti oleh erupsi. Gunung api Campi Flegrei di Italia, misalnya, telah menunjukkan tanda-tanda aktivitas atau kegelisahan vulkanik (volcanic unrest) selama lebih dari 60 tahun.
Semakin Jauh, Tidak Selalu Semakin Sulit
Di sinilah ironi itu menjadi menarik. Dalam kehidupan sehari-hari, kita cenderung menganggap sesuatu yang jauh pasti lebih sulit dipahami daripada sesuatu yang dekat.
Namun, ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa tidak selalu demikian. Sebuah galaksi yang sangat jauh dapat lebih mudah diamati daripada proses geologi yang tersembunyi di bawah kaki kita.
Planet yang kita tempati memang dekat. Tetapi bagian dalamnya tidak sepenuhnya dapat diakses. Manusia mungkin dapat mengirim wahana ke ruang angkasa, tetapi belum dapat melakukan perjalanan bebas ke dalam perut Bumi.
Kita dapat melihat jauh ke luar angkasa melalui teleskop, tetapi tidak memiliki “teleskop” yang mampu melihat langsung seluruh proses yang berlangsung puluhan kilometer di bawah permukaan.
Prediksi Gempa Bukan Sekadar Menunggu Tanggal
Ahli seismologi Allan G. Lindh menjelaskan, bahwa persoalan prediksi gempa pada dasarnya berkaitan dengan keterbatasan dalam memahami dan mempersempit kemungkinan sebuah peristiwa.
Dalam ilmu kebumian, pendekatan yang lebih realistis adalah menghitung probabilitas. Wilayah tertentu dapat diketahui memiliki patahan aktif. Ilmuwan dapat mengukur pergerakan kerak Bumi dan memperkirakan akumulasi tekanan.
Namun, mengubah semua informasi tersebut menjadi satu jawaban sederhana—tanggal dan jam terjadinya gempa—masih berada di luar kemampuan ilmu pengetahuan saat ini.
Inilah perbedaan besar antara memprediksi orbit Bulan dan memprediksi patahnya batuan. Orbit bergerak secara terus-menerus mengikuti pola yang dapat dihitung. Sementara patahan dapat berada dalam kondisi stabil dalam waktu lama, kemudian berubah secara tiba-tiba ketika mencapai titik kritis.
Mungkin, keterbatasan ini juga mengandung pelajaran yang lebih besar. Kemajuan teknologi sering membuat manusia merasa bahwa semakin banyak hal dapat dikendalikan.
Kita dapat mengendalikan mesin, memprogram kecerdasan buatan, mengirim satelit, dan menghitung pergerakan benda-benda langit. Namun, gempa dan gunung api mengingatkan bahwa memahami alam tidak selalu berarti menguasainya.
Dan di situlah muncul paradoks sains modern, “Kita bisa menghitung langit yang sangat jauh, tetapi masih terus belajar membaca planet yang kita pijak setiap hari”.
