Home » Era AI, Manusia Tetap Menjadi Penentu Utama Kehidupan

Era AI, Manusia Tetap Menjadi Penentu Utama Kehidupan

Markbiz, 8 September 2026 | Di tengah perkembangan Artificial Intelligent (AI), manusia tetap menjadi penentu utama kehidupan. Teknologi memang semakin mampu membantu pekerjaan, mengolah informasi, dan memberi rekomendasi.

Namun, keputusan tentang apa yang penting, ke mana arah perubahan dibawa, serta manfaat apa yang ingin diciptakan tetap berada di tangan manusia.

Baca juga: Ketika AI Makin Pintar, Apa yang Harus Dipelajari Manusia?

Gagasan tersebut menjadi bagian dari Ideafest 2026: Re-Humanize yang berlangsung pada Sabtu (5/9/2026), di Jakarta. Melalui kolaborasi dengan seniman Indonesia Sarkodit, Indosat Ooredoo Hutchison mengangkat gagasan “Heartware Inside the Hardware” lewat instalasi seni bertajuk “Peran-Tara”.

indosat, ideafest 2026
Di balik perangkat, sistem, algoritma, dan AI, terdapat manusia yang membawa rasa ingin tahu, kreativitas, imajinasi, nilai, serta kebijaksanaan untuk menentukan arah. Foto: Ist.

Karya tersebut mengajak pengunjung melihat teknologi dari sisi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di balik perangkat, sistem, algoritma, dan AI, terdapat manusia yang membawa rasa ingin tahu, kreativitas, imajinasi, nilai, serta kebijaksanaan untuk menentukan arah.

Teknologi Tidak Berjalan Tanpa Pilihan Manusia

Nama “Peran-Tara” menyatukan gagasan tentang peran manusia dan “tara”, yang dimaknai sebagai akal serta kebijaksanaan. Pesannya sederhana, teknologi dapat membuka banyak kemungkinan, tetapi manusia tetap harus menentukan tujuan penggunaannya.

“Ketika Indosat membawa gagasan Heartware Inside the Hardware, saya melihatnya sebagai ajakan untuk kembali melihat teknologi dari sisi manusia. Teknologi bisa terus berubah dan semakin canggih, tetapi selalu ada manusia di baliknya yang memiliki ide, membuat pilihan, memberikan makna, dan menentukan akan dibawa ke mana teknologi tersebut. Dari situlah Peran-Tara lahir sebagai interpretasi saya terhadap gagasan tersebut.” ujar Sarkodit

Pesan ini terasa dekat dengan aktivitas sehari-hari. Saat seseorang menggunakan AI untuk mencari informasi, menyusun pekerjaan, membuat konten, atau menentukan pilihan, teknologi hanya menyediakan alat bantu. Pertimbangan, tanggung jawab, dan keputusan akhirnya tetap membutuhkan manusia.

Dari Konektivitas Menuju Pengalaman yang Lebih Manusiawi

Melalui Peran-Tara, perjalanan Indosat juga dibaca sebagai perjalanan konektivitas. Teknologi komunikasi tidak hanya menghubungkan Indonesia dengan dunia, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk belajar, bekerja, berkarya, dan membangun relasi.

Baca juga: Agentic AI Ubah Cara Developer Bangun Software 

Ovidia Nomia, SVP-Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison, menambahkan, “Peran-Tara juga merefleksikan peran Indosat sebagai penghubung antara teknologi terbaik dan kehidupan manusia. Kami percaya teknologi akan semakin berarti ketika dapat diterjemahkan menjadi manfaat dan membuka lebih banyak kemungkinan bagi manusia. Di Ideafest 2026: Re-Humanize, Peran-Tara menjadi bagian dari pengalaman interaktif di booth Indosat yang menghidupkan gagasan Heartware Inside the Hardware.”

Pengunjung dapat melihat karya tersebut sekaligus mengikuti pengalaman interaktif yang mengajak mereka memahami perjalanan teknologi Indosat.

Pendekatan ini membuat pembahasan tentang AI tidak berhenti pada kecanggihan perangkat, tetapi berlanjut pada pertanyaan yang lebih penting: bagaimana teknologi digunakan untuk memperbaiki kualitas hidup.

Dengan demikian, Peran-Tara menjadi pengingat bahwa masa depan digital bukan hanya tentang mesin yang semakin pintar. Masa depan juga ditentukan oleh manusia yang mampu memilih, menilai, dan memberi makna pada teknologi.