Markbiz, Jakarta, 2 September 2026 — Ketika kecerdasan buatan semakin mampu mengingat, merangkum, menghitung, menjelaskan, bahkan menghasilkan berbagai bentuk konten, muncul pertanyaan yang semakin relevan bagi dunia pendidikan: jika mesin sudah mampu mengetahui hampir segalanya, apa yang masih harus dipelajari manusia?
Pertanyaan itu menjadi titik awal pemikiran Kristina Kallas, mantan Menteri Pendidikan dan Riset Republik Estonia serta peneliti di University of Tartu, dalam sebuah presentasi di kanal YouTube TEDx Talks berjudul When AI Knows Everything, What Should Humans Learn?
Alih-alih memulai pembicaraan dengan teknologi, Kallas justru mengajak audiens melihat persoalan AI dari sisi yang berbeda. “Sebenarnya, saya tidak akan berbicara tentang AI. Saya akan berbicara tentang manusia,” kata Kallas.
Bagi Kallas, kehadiran AI seharusnya tidak hanya memunculkan pertanyaan tentang seberapa cepat teknologi berkembang. Yang lebih penting adalah bagaimana manusia harus berkembang ketika sebagian kemampuan yang selama ini dianggap sebagai keunggulan manusia mulai dapat dilakukan oleh mesin.
AI dan Tekanan Evolusi Baru
Kallas menceritakan, ketika mulai menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Riset Estonia pada 2023, AI belum menjadi agenda utama pemerintahannya. Namun, situasi berubah cepat ketika para siswa mulai menggunakan teknologi tersebut dalam proses belajar.
Pertanyaan yang kemudian muncul bukan sekadar apakah AI harus dilarang atau diperbolehkan di sekolah. Tantangan sebenarnya adalah memahami apa yang akan terjadi terhadap proses belajar dan kemampuan berpikir manusia.
“Sebagai Menteri Pendidikan, yang harus saya pikirkan adalah pembelajaran, apa yang terjadi pada otak manusia dan kapasitas manusia untuk belajar jika teknologi berkembang hingga tahap seperti sekarang,” ujarnya.
Kallas melihat situasi ini sebagai bentuk tekanan evolusioner baru. Menurutnya, dalam sejarah manusia, teknologi pernah mendorong manusia mengembangkan kemampuan baru.
Salah satu contohnya adalah penemuan mesin cetak. Ketika akses terhadap tulisan dan buku semakin luas, kemampuan membaca yang sebelumnya tidak dimiliki secara universal akhirnya menjadi keterampilan mendasar bagi masyarakat.
Kini, menurut Kallas, manusia kembali menghadapi tekanan serupa. “Kita harus berevolusi sebagai manusia dan tekanan evolusi utama adalah otak kita. Ini bukan tekanan evolusi fisik, tetapi tekanan evolusi mental dan kognitif,” katanya.
Artinya, tantangan manusia di era AI bukan menjadi lebih kuat secara fisik, melainkan meningkatkan kapasitas untuk berpikir lebih cepat, lebih sistematis, lebih kreatif, dan lebih kritis.
Pandangan tersebut juga sejalan dengan pendekatan Estonia dalam kebijakan AI di pendidikan. Pemerintah Estonia menempatkan AI bukan sekadar sebagai teknologi baru yang harus diadopsi sekolah, melainkan sebagai momentum untuk memperkuat kemampuan berpikir manusia.
Menghafal Tak Lagi Cukup
Salah satu persoalan terbesar, menurut Kallas, adalah sistem pendidikan selama ratusan tahun lebih banyak melatih kemampuan berpikir tingkat rendah. Modelnya sederhana: siswa belajar, mengingat, memahami, menerapkan, lalu mengikuti ujian.
Sementara kemampuan berpikir tingkat tinggi—seperti menganalisis, mengevaluasi, mempertimbangkan aspek etis, dan menciptakan sesuatu yang baru—sering kali baru benar-benar diasah pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
“Selama kurang lebih 200 tahun, sistem pendidikan sebagian besar berfokus pada keterampilan berpikir tingkat rendah: belajar sesuatu, mengingat, memahami, menerapkan, kemudian mengikuti ujian,” ujar Kallas.
Masalahnya, kemampuan seperti mengingat, memahami informasi, dan menerapkannya pada pola tertentu kini semakin mudah dilakukan oleh AI.
Di sinilah pendidikan menghadapi persoalan baru. Jika AI dapat memberikan jawaban dalam hitungan detik, apakah pendidikan masih cukup jika hanya mengajarkan manusia untuk menghafal jawaban?
Bagi Kallas, jawabannya jelas: tidak. “Tidak cukup lagi hanya menghafal sesuatu, memahami sesuatu, lalu menerapkannya, kemudian selesai. Sistem pendidikan harus berevolusi menuju keterampilan kognitif tingkat tinggi,” katanya.
Dengan kata lain, nilai manusia tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa banyak informasi yang tersimpan di dalam kepalanya. Yang semakin penting adalah kemampuan menggunakan informasi tersebut untuk memahami persoalan baru.
Otak Manusia Lebih Suka Jalan Pintas
Kallas juga mengingatkan bahwa tantangan terbesar sebenarnya tidak hanya datang dari AI, tetapi dari cara kerja otak manusia itu sendiri.
Otak cenderung menyukai apa yang disebut sebagai mode kognitif tingkat rendah. Manusia mempelajari sesuatu sekali, kemudian mengulanginya secara otomatis.
Hal ini membuat manusia lebih hemat energi. Namun, berpikir analitis, mengevaluasi sebuah persoalan dari berbagai sudut pandang, atau menciptakan sesuatu yang benar-benar baru membutuhkan energi jauh lebih besar.
“Otak lebih memilih berada dalam mode kognitif tingkat rendah karena membutuhkan lebih sedikit energi,” kata Kallas.
Inilah sebabnya manusia mudah kembali kepada kebiasaan, pola lama, asumsi, bahkan stereotip. Namun, menurut Kallas, kondisi tersebut tidak lagi cukup untuk menghadapi era AI.
“Dalam era AI yang kita jalani, berada terus-menerus dalam mode kognitif tingkat rendah bukan lagi sebuah pilihan,” ujarnya.
Manusia harus lebih sering melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi. Bukan hanya pada saat melakukan penelitian atau pendidikan doktoral, tetapi sejak usia sekolah.
AI Bukan Musuh tetapi Tutor
Menariknya, solusi yang dipilih Estonia bukan menjauhkan AI dari ruang kelas. Sebaliknya, Estonia mencoba membawa AI ke dalam proses belajar. Namun, tujuannya bukan agar AI mengerjakan tugas siswa.
AI digunakan sebagai tutor dan asisten yang mendorong siswa berpikir lebih jauh. “Kami menyadari bahwa kami harus melakukannya dengan AI sebagai tutor dan asisten karena AI-lah yang dapat mendorong kita melakukan hal-hal tersebut,” kata Kallas.
Menurutnya, tanpa desain pembelajaran yang tepat, manusia justru berisiko menggunakan AI hanya untuk mencari jawaban secara instan.
Akibatnya, teknologi dapat mendorong apa yang disebut sebagai cognitive offloading, yaitu kecenderungan menyerahkan semakin banyak proses berpikir kepada teknologi.
Karena itu, Estonia mengembangkan pendekatan AI yang berbeda. Fokusnya bukan pada berapa lama siswa menggunakan AI, melainkan bagaimana AI digunakan untuk mendorong proses berpikir.
Estonia kemudian mengembangkan program AI di sekolah dengan fokus besar pada kompetensi guru. Program tersebut menempatkan guru sebagai pihak yang membantu siswa menggunakan AI untuk memperkuat analisis, pemikiran sistematis, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis.
Dari Pemberi Jawaban Menjadi Pemberi Pertanyaan
Salah satu pendekatan yang digunakan adalah AI bergaya Socratic. Berbeda dengan AI yang sekadar memberikan jawaban, pendekatan Socratic dirancang untuk mendorong pengguna berpikir melalui pertanyaan, dialog, dan proses eksplorasi.
“Ini bukan ChatGPT untuk penggunaan umum. Ini adalah versi ChatGPT bergaya Socratic yang dirancang untuk sekolah,” ujar Kallas.
Ia mengatakan pendekatan tersebut dikembangkan bersama OpenAI untuk mendukung proses riset dan pengembangan penggunaan AI dalam pendidikan.
Menurut Kallas, pihaknya juga belum mengklaim sudah memiliki seluruh jawabannya. “Kami benar-benar mengamati dan belajar sambil menjalankan program ini karena belum ada jawaban yang benar-benar jelas atau pasti,” katanya.
Bukan Seberapa Sering Menggunakan AI
Di tengah perlombaan berbagai negara dan institusi untuk mengadopsi AI, pesan Kallas sebenarnya cukup sederhana. Persoalannya bukan seberapa sering manusia menggunakan AI. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi pada manusia ketika menggunakan AI.
“Ini bukan soal menggunakan AI sebanyak-banyaknya. Bukan soal berapa jam kita menggunakan AI. Yang penting adalah bagaimana kita menggunakannya dan untuk tujuan apa kita menggunakannya,” katanya.
Pernyataan tersebut relevan bukan hanya untuk sekolah. Dunia bisnis juga menghadapi tantangan yang sama. AI kini dapat membantu pekerja membuat laporan, menyusun presentasi, menganalisis data, membuat konten, hingga menghasilkan berbagai rekomendasi. Namun, ketika semakin banyak pekerjaan kognitif dialihkan kepada AI, muncul pertanyaan baru: apakah manusia menjadi lebih cerdas, atau justru semakin jarang berpikir?
Di sinilah mungkin letak perdebatan terpenting tentang AI. Keunggulan kompetitif di masa depan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki akses ke teknologi AI terbaik. Karena teknologi pada akhirnya akan semakin mudah diakses.
Pembeda sesungguhnya mungkin terletak pada kualitas manusia yang menggunakannya. Kemampuan untuk mengajukan pertanyaan yang tepat, membaca konteks, menganalisis persoalan yang kompleks, membuat penilaian etis, dan menciptakan gagasan baru akan menjadi semakin penting.
“Kita harus melatih manusia agar sebanyak mungkin orang terus berada dalam alur proses berpikir kognitif tingkat tinggi,” tutup Kallas.

2 thoughts on “Ketika AI Makin Pintar, Apa yang Harus Dipelajari Manusia?”