Markbiz, 31 Agustus 2026 | Perkembangan agentic AI mulai mengubah cara perangkat lunak dikembangkan, dari sekadar membantu menulis kode menjadi teknologi yang dapat mendukung berbagai tahapan dalam siklus pengembangan.
Perubahan ini membuat peran developer semakin strategis, sekaligus mendorong kebutuhan terhadap keterampilan baru di tengah percepatan ekonomi digital Indonesia.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu topik dalam IBM Indonesia Builders Day 2026: Empowering Developers, Shaping the Nation, yang mempertemukan pemerintah, developer teknologi informasi, pakar teknologi, dan pelaku bisnis di Jakarta (27/8)
Dalam forum tersebut, IBM memperkenalkan IBM Bob, platform pengembangan berbasis agentic AI yang dirancang untuk mendukung berbagai tahapan pengembangan perangkat lunak.
IBM menyebut teknologi tersebut dapat membantu memangkas waktu migrasi dari hitungan bulan menjadi hitungan hari dan meningkatkan produktivitas hingga 45%.
Angka tersebut merupakan klaim berdasarkan pengujian atau pengalaman yang disampaikan IBM, sehingga penerapannya dapat berbeda bergantung pada kondisi organisasi, teknologi yang digunakan, serta kompleksitas proyek.
Developer Jadi Penggerak Ekonomi AI
Kebutuhan terhadap talenta digital menjadi semakin penting seiring pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.
IBM menyebut nilai ekonomi digital Indonesia telah mendekati US$130 miliar dan kebutuhan talenta digital diperkirakan mencapai sedikitnya 9 juta orang pada 2030.
Baca juga: Penipuan Digital Tembus 608 Ribu Kasus, Alarm bagi Digital Trust
Dalam kondisi tersebut, developer tidak lagi hanya berperan sebagai tenaga teknis yang menerjemahkan kebutuhan bisnis ke dalam kode.
Mereka semakin dituntut memahami bagaimana teknologi AI dapat digunakan untuk memodernisasi sistem, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan solusi baru.
Direktur Ekosistem Kecerdasan Artifisial dan Teknologi Emerging, Direktorat Jenderal Ekosistem Digital, Kementerian Komunikasi dan Digital, Dr. Said Mirza Pahlevi, menilai penguatan ekosistem menjadi bagian penting dari agenda digital Indonesia.
“Ekosistem digital yang kuat merupakan hal penting bagi ambisi digital Indonesia. Kolaborasi menjadi kunci untuk mengubah ambisi menjadi dampak nyata,” ujarnya.
Menurut Said, kolaborasi antara pemerintah, industri, dan komunitas bukan hanya berkaitan dengan pengembangan teknologi, tetapi juga peningkatan talenta dan kapabilitas agar manfaat transformasi digital dapat dirasakan lebih luas.
Dari AI-Assisted ke Agentic AI
Perubahan yang dibawa agentic AI terletak pada kemampuannya menangani rangkaian tugas secara lebih mandiri.
Jika AI sebelumnya banyak digunakan untuk membantu developer menulis atau menyempurnakan kode, pendekatan agentic memungkinkan agen AI mendukung pekerjaan pada beberapa tahapan pengembangan secara berurutan.
IBM Bob dikembangkan untuk mendukung siklus pengembangan perangkat lunak mulai dari perencanaan, penulisan kode, pengujian, penerapan, hingga modernisasi aplikasi.
Dalam gelaran Builders Day 2026, IBM juga memperkenalkan Bob 2.0, yang disebut memiliki arsitektur multi-agen.
Pendekatan tersebut memungkinkan sejumlah agen AI menangani tugas-tugas yang lebih kompleks sekaligus, dengan tujuan mempercepat proses software delivery.
Namun, peningkatan otomatisasi juga membawa pertanyaan lain seberapa jauh pekerjaan pengembangan perangkat lunak dapat diserahkan kepada AI tanpa mengurangi aspek keamanan, tata kelola, dan kontrol manusia?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika teknologi AI digunakan dalam lingkungan perusahaan yang memiliki sistem TI kompleks dan mengelola data penting.
Produktivitas Berhadapan dengan Tata Kelola
Bagi perusahaan, penggunaan AI dalam pengembangan perangkat lunak tidak semata-mata soal kecepatan. Sistem yang dibangun tetap harus memenuhi kebutuhan keamanan, kepatuhan, dan tata kelola.
Pendekatan Agentic Software Development Lifecycle (SDLC) yang diperkenalkan IBM menempatkan agen AI dalam berbagai tahap pengembangan, termasuk desain, coding, pengujian, keamanan, dan deployment.
Pendekatan tersebut terutama relevan bagi perusahaan yang menggunakan lingkungan TI hybrid dan memiliki sistem yang kompleks.
Dengan otomatisasi pada sejumlah pekerjaan, developer berpotensi mengurangi pekerjaan repetitif dan mengalokasikan lebih banyak waktu untuk persoalan yang membutuhkan pengambilan keputusan serta pemahaman bisnis.
Managing Director IBM Indonesia, Juvanus Tjandra, mengatakan percepatan adopsi AI membuat posisi developer semakin penting dalam menerjemahkan teknologi menjadi produktivitas dan nilai bisnis.
“Seiring percepatan adopsi AI oleh banyak organisasi, developer TI berada di garis depan dalam mengubah inovasi menjadi produktivitas, nilai bisnis, dan pertumbuhan ekonomi,” ujar Juvanus.
Baca juga: ESG: Transformasi di Tengah Tekanan Regulasi dan Investor
Menurut dia, agentic AI memungkinkan developer menangani tantangan yang lebih kompleks dan membangun solusi dalam skala yang lebih besar.
Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Teknologi
IBM Indonesia Builders Day 2026 juga menampilkan kapabilitas Agentic AI SDLC melalui TechZone dan hands-on coaching clinics.
Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengeksplorasi penggunaan AI dalam proses pengembangan perangkat lunak.
Lebih dari sekadar memperkenalkan sebuah teknologi, forum tersebut memperlihatkan perubahan yang sedang berlangsung dalam ekosistem pengembangan perangkat lunak.
Ketika AI semakin mampu mengerjakan bagian-bagian teknis secara otomatis, kompetensi developer juga berpotensi bergeser dari sekadar kemampuan coding menuju kemampuan mengarahkan AI, memvalidasi hasil, memahami arsitektur, menjaga keamanan, dan menerjemahkan kebutuhan bisnis.

2 thoughts on “Agentic AI Ubah Cara Developer Bangun Software”