Markbiz, Jakarta, 6 September 2026 — Perekonomian Indonesia dinilai memiliki fondasi yang relatif kuat untuk menopang pertumbuhan jangka panjang, meski masih menghadapi ketidakpastian global, tekanan imbal hasil obligasi, serta tantangan fiskal.
Pandangan tersebut mengemuka dalam media briefing J.P. Morgan Indonesia pada 3 September 2026, sehari setelah penyelenggaraan J.P. Morgan Investment Forum di Jakarta yang mempertemukan investor institusional global, pembuat kebijakan, dan pelaku usaha.
Chief Executive Officer J.P. Morgan Indonesia Gioshia Ralie mengatakan, arah kebijakan fiskal Indonesia menunjukkan upaya menjaga keseimbangan antara mendorong pertumbuhan dan mempertahankan disiplin anggaran.
“APBN 2027 Indonesia mencerminkan keseimbangan konstruktif antara upaya mendukung pertumbuhan dan tekad menjaga disiplin fiskal,” ujar Gioshia.
Menurut dia, ketahanan ekonomi Indonesia, likuiditas domestik yang kuat, serta reformasi yang terus berjalan menjadi sejumlah faktor yang dapat menopang prospek pertumbuhan dalam jangka panjang.
Baca juga: Bank Muamalat Bidik Pertumbuhan Pembiayaan SME 30%
Ruang Fiskal dan Tantangan Penerimaan
Salah satu perhatian dalam prospek ekonomi Indonesia adalah bagaimana pemerintah menjalankan kebijakan fiskal ekspansif tanpa mengabaikan keberlanjutan anggaran.
Dalam paparan J.P. Morgan, defisit fiskal 2027 ditargetkan sebesar 2,4% dari PDB, lebih rendah dibandingkan target 2,85% pada 2026. Penurunan tersebut menunjukkan adanya upaya mempertahankan kehati-hatian fiskal di tengah kebutuhan pemerintah untuk tetap mendorong aktivitas ekonomi.
Pemerintah juga memproyeksikan penerimaan negara tumbuh 6,8% pada 2027, dengan asumsi pertumbuhan PDB nominal sekitar 8,5%.
Namun, tantangan fiskal belum sepenuhnya hilang. Dalam jangka menengah, penurunan rasio penerimaan negara terhadap PDB dan meningkatnya beban pembayaran bunga masih menjadi perhatian.
Karena itu, kualitas belanja pemerintah menjadi semakin penting. Pertumbuhan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran yang dikeluarkan, tetapi juga seberapa efektif belanja tersebut menghasilkan aktivitas ekonomi dan meningkatkan produktivitas.
J.P. Morgan menilai sikap fiskal yang lebih konservatif juga berpotensi membantu meredam gejolak di pasar saham dan nilai tukar rupiah.
Investasi Swasta Menjadi Kunci
Dengan sumber daya fiskal pemerintah yang harus dialokasikan ke berbagai kebutuhan, investasi swasta diperkirakan semakin menentukan kemampuan Indonesia meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah.
Penanaman modal asing atau foreign direct investment (FDI), deregulasi, peningkatan efisiensi belanja, serta reformasi regulasi menjadi beberapa jalur yang dinilai penting untuk menarik modal swasta.
Investasi dari BUMN dan Danantara juga dapat melengkapi belanja pemerintah pusat dengan memperluas sumber pembiayaan investasi.
Namun, peningkatan investasi tetap perlu dibarengi dengan kualitas permintaan dan aktivitas ekonomi domestik. J.P. Morgan mencatat perkembangan investasi domestik perlu terus dipantau, termasuk terkait sektor-sektor yang sensitif terhadap siklus ekonomi serta permintaan barang modal.
Dengan kata lain, tantangan Indonesia bukan sekadar menarik modal masuk, tetapi memastikan modal tersebut menghasilkan kapasitas produksi, lapangan kerja, dan peningkatan produktivitas.
Ledakan Pusat Data di Tengah Siklus AI
Salah satu perkembangan yang menonjol dalam lanskap investasi Indonesia adalah pembangunan pusat data.
Siklus investasi kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) global mulai merambah Indonesia dan mendorong peningkatan pembangunan infrastruktur pusat data.
Baca juga: Indonesia Siapkan Infrastruktur AI Berskala Regional Lewat Zankore Indosat
J.P. Morgan memperkirakan kapasitas pusat data Indonesia dapat meningkat lebih dari tiga kali lipat, dari sekitar 500 megawatt (MW) saat ini menjadi sekitar 1,8 gigawatt (GW) pada akhir 2027.
Lebih jauh, perusahaan-perusahaan pusat data telah mengumumkan rencana pengembangan dengan total kapasitas jangka panjang sekitar 6 GW.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa ekonomi digital tidak hanya menciptakan kebutuhan terhadap aplikasi dan layanan berbasis AI. Di belakangnya terdapat kebutuhan infrastruktur dalam skala besar, mulai dari pusat data hingga energi dan konektivitas.
Bagi Indonesia, perkembangan ini dapat menjadi salah satu sumber investasi baru. Namun, besarnya kebutuhan infrastruktur juga membuat kesiapan energi, jaringan, lahan, dan regulasi menjadi faktor penting untuk memastikan investasi tersebut dapat direalisasikan.
Rupiah dan Pasar Saham Masih Menghadapi Tekanan Global
Dari sisi pasar keuangan, prospek Indonesia masih dipengaruhi kondisi global, khususnya tingkat imbal hasil obligasi.
J.P. Morgan menilai sikap fiskal yang lebih berhati-hati dapat mendukung stabilitas aset keuangan domestik dan rupiah. Namun, imbal hasil obligasi global yang tinggi berpotensi memengaruhi prospek suku bunga Indonesia.
Kondisi tersebut juga dapat membatasi pertumbuhan laba emiten dan ruang bagi peningkatan valuasi pasar saham.
Di sisi lain, eksposur investor asing terhadap pasar saham Indonesia telah berada pada level relatif rendah. J.P. Morgan mencatat arus keluar saham asing mencapai sekitar US$4,2 miliar sejak awal 2026.
Kondisi tersebut, menurut J.P. Morgan, berpotensi menjadi salah satu faktor yang membatasi tekanan jual lebih lanjut, terutama ketika likuiditas domestik tetap kuat dan valuasi saham berada pada level relatif murah.
Namun, pasar belum sepenuhnya terbebas dari risiko. Pergerakan imbal hasil global serta perkembangan indeks MSCI dan FTSE masih dapat memengaruhi sentimen investor.
Laba Emiten Berpotensi Pulih pada 2027
Di tengah tekanan tersebut, kinerja perusahaan tercatat masih menunjukkan ketahanan.
Laba emiten Indonesia pada semester I-2026 tumbuh sekitar 6% secara tahunan. Namun, momentum tersebut diperkirakan melambat pada semester II-2026 akibat suku bunga yang lebih tinggi dan perubahan tren investasi.
Pasar memperkirakan laba MSCI Indonesia berpotensi turun 0,9% sepanjang 2026 sebelum kembali tumbuh sekitar 8,7% pada 2027.
Proyeksi tersebut menggambarkan ekspektasi bahwa tekanan terhadap profitabilitas perusahaan mungkin masih berlangsung dalam jangka pendek, tetapi terdapat peluang pemulihan pada tahun berikutnya.
Valuasi pasar yang berada di sekitar 10 kali proyeksi laba 12 bulan ke depan juga dinilai telah mencerminkan sikap investor yang cukup berhati-hati.
Dengan demikian, prospek pasar Indonesia saat ini berada di antara dua kekuatan. Di satu sisi, fundamental domestik, likuiditas, dan valuasi memberikan bantalan. Di sisi lain, kondisi finansial global dan ketidakpastian kebijakan masih menjadi faktor pembatas.
