Home » AI Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Startup

AI Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Startup

Grab Ventures Velocity (GVV) Wildiyanto Yawin CEO & Co-Founder Fineksi; Melinda Wardiman, COO & Co-Founder Algobash; Aditya Brahmana, CEO & Co-Founder Dash; Jan Oudeman, CEO & Founder Grivy Chandni Chainani, CEO & Co-Founder Sekilo; Nitish Chellaram, COO & Co-Founder Sekilo, terpilih sebagai lima finalis dari program GVV Batch 9 oleh Grab Indonesia.

Markbiz, Jakarta, 2 September 2026 – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin membuka ruang baru bagi startup Indonesia untuk menjawab persoalan di berbagai sektor. Namun, di tengah pertumbuhan jumlah perusahaan rintisan berbasis AI, tantangan untuk memperluas skala bisnis dan mendapatkan pendanaan masih menjadi pekerjaan rumah bagi ekosistem digital nasional.

Dalam konteks tersebut, Grab Ventures Velocity (GVV) Batch 9 memilih lima startup berbasis AI untuk mengikuti program akselerasi yang dirancang guna membantu pengembangan solusi dan memperluas kolaborasi dengan ekosistem bisnis.

Lima startup yang terpilih adalah Algobash, Dash, Fineksi, Grivy, dan Sekilo. Masing-masing mengembangkan pemanfaatan AI untuk sektor yang berbeda, mulai dari rekrutmen, pengelolaan tenaga kerja lapangan, layanan keuangan, commerce, hingga rantai pasok protein halal.

Memasuki tahun kesembilan penyelenggaraannya, program akselerator Grab tersebut mengusung tema “Grab For Indonesia: Building an AI-Powered Resilient Ecosystem”.

Baca juga: Ketika Big Tech Mulai Berutang untuk Membiayai AI

Chief Executive Officer Grab Indonesia, Neneng Goenadi, mengatakan pemanfaatan AI menjadi fokus utama dalam GVV Batch 9, karena teknologi tersebut semakin memengaruhi cara perusahaan mengembangkan produk, meningkatkan produktivitas, dan melayani konsumen.

“Melalui GVV Batch 9, kami membawa pengalaman Grab dalam mengembangkan dan menerapkan AI lebih dekat kepada para startup founders di Indonesia,” ujar Neneng.

Menurutnya, solusi yang dikembangkan startup perlu terus diuji dan disempurnakan agar mampu menjawab kebutuhan pasar serta memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat dan ekosistem digital.

AI Masih Memiliki Ruang Tumbuh

Momentum pengembangan AI di Indonesia terus meningkat. Namun, pertumbuhan jumlah startup berbasis teknologi tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh besarnya aliran pendanaan.

Data yang dikutip Grab dari laporan e-Conomy SEA menunjukkan telah terdapat lebih dari 45 startup AI di Indonesia. Meski demikian, startup AI Indonesia disebut baru memperoleh sekitar 4% dari total pendanaan AI di kawasan ASEAN-10.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peluang pertumbuhan ekosistem AI Indonesia masih cukup besar, terutama jika startup mampu menemukan persoalan nyata yang dapat diselesaikan dengan teknologi.

GVV Batch 9 mencoba mengambil posisi di tengah kebutuhan tersebut dengan mempertemukan startup yang telah memiliki solusi dengan akses terhadap jaringan bisnis, mentor, hingga peluang pelaksanaan pilot project.

Kelima startup yang terpilih menawarkan pendekatan berbeda dalam memanfaatkan AI. Algobash mengembangkan solusi untuk proses rekrutmen dan penilaian talenta melalui video interview berbasis AI, asesmen psikometri, serta pengujian kemampuan teknis.

Sementara Dash berfokus pada pengelolaan operasional tenaga kerja frontline yang tersebar di berbagai lokasi. Solusi yang dikembangkan mencakup penjadwalan tenaga kerja, distribusi tugas, penggajian, hingga akses terhadap armada kendaraan listrik.

Baca juga: Jangan Asal Beli Mobil Listrik, Perhatikan Empat Hal Ini

Di sektor keuangan, Fineksi memanfaatkan AI untuk membantu institusi keuangan melakukan penilaian risiko dan mempercepat proses pengambilan keputusan kredit. Teknologi tersebut digunakan untuk mengolah dokumen, menganalisis laporan keuangan, hingga mendukung proses credit underwriting.

Adapun Grivy bergerak di bidang commerce intelligence. Startup ini mengembangkan teknologi untuk membantu bisnis menghubungkan interaksi pelanggan di kanal digital dengan transaksi di kanal fisik melalui atribusi online-to-offline (O2O), AI commerce agents, serta promosi digital.

Sementara Sekilo mengembangkan sistem operasi berbasis AI untuk rantai pasok protein halal. Platform tersebut mengintegrasikan proses pencocokan pasokan dan permintaan, pemrosesan, cold storage, logistik, hingga pembiayaan.

Kolaborasi dan Akses Ekosistem

Sebagai bagian dari program, kelima startup akan mendapatkan akses terhadap mentorship, pengembangan kepemimpinan, serta kesempatan menjalankan pilot project bersama Grab.

Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan, mengatakan perjalanan membangun bisnis baru membutuhkan kolaborasi yang kuat di dalam ekosistem.

Menurut Tigor, pengalaman Superbank dalam membangun layanan keuangan dengan dukungan ekosistem Grab dan OVO menunjukkan pentingnya jaringan kolaborasi bagi pertumbuhan sebuah perusahaan.

“Semangat inilah yang membawa kami mendukung GVV sejak Batch 8, dan tahun ini melangkah lebih jauh melalui pilot pertama Superbank bersama salah satu startup terpilih,” kata Tigor.

Menjaga Keberlanjutan Startup

Tantangan terbesar dalam industri startup tidak hanya melahirkan perusahaan baru, tetapi memastikan bisnis tersebut mampu bertahan dan menemukan model pertumbuhan yang berkelanjutan.

Sejak diluncurkan pada 2018, GVV telah menerima lebih dari 800 pendaftar dan mendukung 40 startup sebagai alumni. Grab menyebut lebih dari 85% startup alumni tersebut masih beroperasi hingga saat ini.

Para alumni memiliki perjalanan bisnis yang beragam, mulai dari memperoleh pendanaan lanjutan, memperluas skala usaha, hingga melakukan pivot untuk menyesuaikan model bisnis dengan perubahan kebutuhan pasar.

Angka tersebut menunjukkan pentingnya dukungan ekosistem setelah sebuah startup berhasil melewati tahap awal pengembangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *