Home » Stamina Menurun Jangan Selalu Dianggap Faktor Usia

Stamina Menurun Jangan Selalu Dianggap Faktor Usia

Seminar Primaya Metabolic Endocrine dr. Marshell Tendean, Sp.PD-KEMD, FINASIM saat sedang melakukan pemaparan pada Primaya Metabolic Endocrine 2026 yang mengangkat tema “Translating Evidence into Impact: Practical Endocrinology for Real-World Care”.

Markbiz.id, Jakarta, 14 Agustus 2026 | Penurunan stamina, mudah lelah, perubahan fungsi seksual, hingga kenaikan berat badan kerap dianggap sebagai bagian dari proses penuaan. Namun, perubahan tersebut juga dapat berkaitan dengan gangguan hormon maupun metabolisme yang perlu diperhatikan.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Seminar Primaya Metabolic Endocrine 2026 bertema “Translating Evidence into Impact: Practical Endocrinology for Real-World Care” yang digelar pada Juli 2026.

Dalam kegiatan tersebut, sejumlah dokter spesialis penyakit dalam membahas berbagai persoalan endokrin dan metabolisme, termasuk kekurangan testosteron pada pria serta diabetes.

Pada pria, kadar testosteron memang cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Data European Male Ageing Study (EMAS) menyebut penurunan testosteron dan free testosterone semakin terlihat setelah usia 50 tahun. Namun, keluhan yang menetap dan mulai memengaruhi kualitas hidup tidak semestinya langsung dianggap sebagai konsekuensi normal dari penuaan.

Baca juga: Penyakit Tropis Masih Jadi Beban Kesehatan, Biaya Perawatan Ikut Meningkat

Salah satu kondisi yang dibahas adalah late-onset hypogonadism (LOH) atau kekurangan testosteron pada pria. Berdasarkan materi tersebut, kondisi ini diperkirakan dialami sekitar 2,1% populasi pria secara umum. Prevalensinya meningkat dari 0,1% pada kelompok usia 40–49 tahun menjadi 5,1% pada usia 70–79 tahun, serta dapat lebih tinggi pada pria dengan obesitas atau metabolic syndrome.

Dokter spesialis penyakit dalam dr. Marshell Tendean, Sp.PD-KEMD, FINASIM, yang berpraktik di Ukrida Primaya Hospital, mengatakan perubahan kondisi tubuh yang mulai memengaruhi aktivitas dan kualitas hidup perlu mendapat perhatian.

“Bertambahnya usia memang membawa berbagai perubahan pada tubuh, termasuk hormon. Namun, ketika perubahan seperti mudah lelah, penurunan stamina, atau gangguan fungsi seksual mulai menetap dan memengaruhi kualitas hidup, kondisi tersebut perlu dilihat lebih jauh,” ujar Marshell.

Ia menekankan, kekurangan testosteron tidak semata berkaitan dengan usia atau fungsi seksual.

“Kekurangan testosteron bukan sekadar persoalan usia atau fungsi seksual, tetapi dapat berkaitan dengan berbagai aspek kesehatan. Karena itu, penting untuk melakukan evaluasi medis secara tepat dan tidak sekadar menganggapnya sebagai proses penuaan,” katanya.

Diabetes Bisa Berkembang Tanpa Gejala Jelas

Persoalan lain yang dibahas adalah diabetes. Gangguan metabolisme tersebut dapat berkembang tanpa gejala yang jelas sehingga seseorang baru mengetahui kondisinya setelah komplikasi muncul.

Materi Primaya Endocrine 2026 mencatat lebih dari 250 juta orang dewasa di dunia belum menyadari bahwa mereka mengalami gangguan metabolisme. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko komplikasi sebelum seseorang mendapatkan pengobatan.

Sementara di Indonesia, berdasarkan rujukan IDF Diabetes Atlas 2025 yang tercantum dalam materi seminar, Indonesia berada di peringkat kelima dunia untuk prevalensi diabetes pada kelompok usia 20–79 tahun dan peringkat ketiga dalam jumlah kasus yang belum terdiagnosis.

Dokter spesialis penyakit dalam dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM, yang berpraktik di Primaya Hospital Bekasi Barat, mengatakan diabetes perlu dipandang sebagai persoalan kesehatan yang lebih luas daripada sekadar kadar gula darah.

Baca juga: Hanya 5 dari 100 Pasien Diabetes Berisiko Tinggi Capai Target Kolesterol LDL

“Diabetes bukan hanya persoalan gula darah. Prosesnya melibatkan berbagai mekanisme dan organ tubuh, sehingga pengelolaannya juga perlu melihat risiko pasien secara menyeluruh,” jelas Khomimah.

Menurut dia, pengelolaan diabetes perlu diarahkan pada upaya yang lebih proaktif, termasuk memperhatikan kesehatan organ yang berisiko terdampak.

“Kita perlu bergeser dari pendekatan yang reaktif menjadi lebih proaktif, termasuk menjaga kesehatan jantung dan ginjal sejak lebih awal,” katanya.

Diabetes tipe 2 sendiri melibatkan sejumlah mekanisme yang berkaitan dengan pankreas, hati, jaringan lemak, otot, ginjal, otak, saluran pencernaan, hingga sistem imun. Karena itu, pengelolaan penyakit tidak hanya berfokus pada satu angka hasil pemeriksaan laboratorium.

Pendekatan yang lebih komprehensif dapat mempertimbangkan kondisi jantung dan ginjal, berat badan, risiko komplikasi, penyakit penyerta, serta kebutuhan dan preferensi pasien.

Tujuannya bukan sekadar mengendalikan hormon, gula darah, atau berat badan, tetapi juga menjaga fungsi organ, mencegah komplikasi, dan mempertahankan kualitas hidup dalam jangka panjang.

Perubahan stamina atau kondisi tubuh karena itu tidak selalu dapat disimpulkan sebagai akibat bertambahnya usia. Mengenali perubahan yang menetap dan melakukan evaluasi medis dapat menjadi langkah awal untuk mengetahui apakah terdapat kondisi kesehatan yang mendasarinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *