Markbiz, Jakarta, 18 Agustus 2026 | PT Bank CIMB Niaga Tbk mencatat kinerja positif pada semester pertama 2026. Total kredit dan pembiayaan tumbuh 6,6 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp247,2 triliun hingga 30 Juni 2026.
Pertumbuhan kredit tersebut berjalan seiring dengan peningkatan dana murah (current account and savings account/CASA) sebesar 6,9 persen YoY menjadi Rp193,1 triliun. Pada periode yang sama, laba sebelum pajak konsolidasian tercatat Rp4,3 triliun dengan earnings per share sebesar Rp136,67.
Presiden Direktur dan CEO CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, kinerja semester pertama 2026 ditopang pertumbuhan kredit dan CASA serta implementasi strategi yang disiplin.
“Kami bersyukur dapat meraih kinerja yang stabil pada semester pertama 2026, didukung pertumbuhan pada kredit/pembiayaan dan dana murah (CASA) yang berkelanjutan, serta implementasi strategi yang disiplin,” ujar Lani.
Ia menjelaskan, pendapatan operasional dan laba operasional sebelum pencadangan masing-masing tumbuh 6,8 persen dan 6,5 persen YoY. Peningkatan kontribusi pendapatan nonbunga turut mengimbangi penurunan pendapatan bunga bersih.
Dari sisi kualitas aset, gross non-performing loan (NPL) membaik menjadi 1,83 persen. CIMB Niaga juga memperkuat pencadangan untuk perusahaan multifinance secara prudent sesuai ketentuan regulator.
Kredit Korporasi Jadi Penopang
Total aset konsolidasian CIMB Niaga mencapai Rp382 triliun per 30 Juni 2026, tumbuh 6,7 persen YoY. Sementara total dana pihak ketiga (DPK) meningkat 2,8 persen menjadi Rp269,3 triliun, dengan rasio CASA mencapai 71,7 persen.
Baca juga: Amartha Run Buka Ruang Baru bagi Pertumbuhan UMKM
Dari sisi penyaluran, segmen perbankan korporasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 13,8 persen YoY. Pertumbuhan juga terjadi pada perbankan komersial sebesar 4,6 persen, UKM 2,9 persen, dan perbankan konsumer 0,1 persen.
Pada segmen ritel, pertumbuhan terutama ditopang Kredit Pemilikan Mobil (KPM) yang meningkat 4,7 persen YoY.
Di bisnis syariah, Unit Usaha Syariah (UUS) CIMB Niaga atau CIMB Niaga Syariah mempertahankan posisinya sebagai UUS terbesar di Indonesia. Per 30 Juni 2026, total pembiayaan CIMB Niaga Syariah mencapai Rp54 triliun dan DPK Rp50,9 triliun.
Sementara itu, pembiayaan berkelanjutan mencapai Rp66 triliun atau 26,7 persen dari total outstanding pembiayaan. Pembiayaan tersebut antara lain mengalir ke sektor energi terbarukan, UMKM, dan sustainability-linked financing.
Lebih dari 90 Persen Transaksi Lewat Kanal Digital
Transformasi digital menjadi salah satu penggerak pertumbuhan CIMB Niaga. Lebih dari 90 persen transaksi nasabah dilakukan melalui kanal digital, termasuk OCTO, OCTOBIZ, ATM, dan OCTO Pay.
CIMB Niaga juga terus mengembangkan integrasi kanal digital dan fisik melalui konsep Digital Branch dan Digital Hub. Hingga 30 Juni 2026, bank mengoperasikan 38 Digital Branch dan 28 Digital Hub.
Baca juga: Pemahaman Minim Jadi Penghambat Adopsi Keuangan Syariah
Platform OCTO menjadi bagian utama dari ekosistem digital CIMB Niaga dengan berbagai layanan, mulai dari transfer BI-FAST, pembayaran QRIS domestik dan lintas negara, pengisian saldo e-wallet, pembayaran tagihan, hingga akses berbagai produk keuangan.
Di sisi investasi, transaksi reksa dana melalui OCTO pada semester I 2026 meningkat 48 persen YoY, sementara transaksi obligasi melonjak 112 persen YoY.
CIMB Niaga juga mencatat pertumbuhan transaksi QRIS di OCTO sebesar 65 persen YoY. Pembukaan rekening pertama melalui OCTO bahkan tumbuh 89 persen YoY.
Menurut Lani, CIMB Niaga akan melanjutkan strategi Forward30 dengan fokus pada pertumbuhan kredit berkualitas, penguatan CASA, diversifikasi sumber pendapatan, serta pengembangan layanan wealth management, transaction banking, dan ekosistem digital.
“Dengan fondasi yang kuat tersebut, kami akan terus menjalankan strategi Forward30 secara disiplin dengan fokus pada berbagai area pertumbuhan utama,” kata Lani.
