Markbiz, 31 Agustus 2026 | RAMAH TOSERBAKU menjadi bukti bahwa barang sisa tidak selalu berakhir sebagai limbah, terutama ketika kreativitas diberi kesempatan bekerja.
Di usia keempat, TOSERBAKU tidak hanya merayakan pertambahan usia. Ada cerita lain yang justru lebih menarik untuk dibicarakan tentang bagaimana sebuah lini bisnis merchandise dari sebuah toko kopi, mencoba melihat kembali barang-barang yang sebelumnya dianggap selesai masa pakainya.
Dari sinilah RAMAH mendapatkan maknanya.
“RAMAH merupakan lini produk TOSERBAKU yang lahir dari gagasan untuk memanfaatkan kembali material yang berasal dari aktivitas operasional ekosistem Tuku. Ampas kopi, kemasan, kantong krimer, hingga material bekas lainnya dipandang bukan sebagai akhir dari sebuah proses.” ujar Diana Frances, VP of Gworth and Expansion Toko Kopi Tuku pada Jumat (28/8/2026) di Toko Kopi Tuku BSD, Tangerang.
Pendekatan tersebut sejalan dengan perubahan cara konsumen melihat keberlanjutan. Generasi muda kini semakin kritis terhadap produk yang mereka beli. Pertanyaannya bukan lagi hanya “apa fungsinya?”, tetapi juga “dari mana produk ini berasal dan apa dampaknya?”
Pendekatan tersebut sejalan dengan perubahan cara konsumen melihat keberlanjutan. Generasi muda kini semakin kritis terhadap produk yang mereka beli. Pertanyaannya bukan lagi hanya “apa fungsinya?”, tetapi juga “dari mana produk ini berasal dan apa dampaknya?”
Ketika Limbah Mendapat Kesempatan Kedua
Gagasan RAMAH berangkat dari kesadaran sederhana bahwa banyak material masih memiliki nilai untuk diolah kembali.
Melalui pendekatan upcycling, material sisa tidak sekadar diproses ulang menjadi bahan mentah. Nilainya justru ditingkatkan menjadi produk baru yang memiliki fungsi berbeda.
Gita Adityya, Sustainability Operations Manager MAKA, mengungkapkan, “Lini RAMAH lahir dari kesadaran bahwa banyak material di ekosistem TUKU masih memiliki nilai yang bisa diolah kembali menjadi produk baru. Dalam prosesnya, TOSERBAKU juga melibatkan kolaborasi dengan mitra dan pelaku usaha lokal. Pendekatan ini membuat keberlanjutan tidak hanya berhenti pada persoalan pengurangan sampah.”
Ada dimensi ekonomi kreatif di dalamnya.
Material yang sebelumnya dianggap tidak bernilai masuk kembali ke dalam rantai produksi. Sementara keterampilan pengrajin lokal mendapatkan ruang untuk menghasilkan produk baru.
Inilah yang membuat konsep circular economy menjadi lebih mudah dipahami. Tidak harus selalu dimulai dengan teknologi besar. Kadang, perubahan dimulai dari keputusan untuk tidak langsung membuang sesuatu.
Hadiah Ulang Tahun yang Punya Dampak
Menariknya, gagasan keberlanjutan sudah menjadi bagian dari perjalanan TOSERBAKU sejak awal pertumbuhannya.
Pada perayaan ulang tahun kedua, misalnya, TOSERBAKU pernah mengajak konsumennya melihat kemungkinan baru dari limbah melalui aktivitas pengolahan cup bekas.
Kini, ketika memasuki usia empat tahun, gagasan tersebut berkembang menjadi lebih terstruktur melalui RAMAH.
Bagi brand, keberlanjutan sering menjadi tantangan komunikasi. Terlalu banyak jargon dapat membuat pesan terasa jauh dari konsumen. Sebaliknya, RAMAH mengambil pendekatan yang lebih sederhana: menunjukkan hasilnya dalam bentuk benda yang bisa digunakan.
Tas, aksesori, atau produk lain dapat membawa cerita tentang material yang pernah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Pendekatan ini relevan dengan karakter konsumen Gen Z dan Milenial yang semakin menghargai transparansi. Mereka ingin mengetahui cerita di balik produk, bukan hanya melihat kemasan yang mengklaim dirinya ramah lingkungan.
Di usia keempat, TOSERBAKU seolah sedang memperluas makna merchandise. Produk bukan hanya soal desain dan fungsi, tetapi juga perjalanan material sebelum sampai ke tangan konsumen.
Karena pada akhirnya, keberlanjutan mungkin memang dimulai dari pertanyaan sederhana: sebelum dibuang, apakah sesuatu masih bisa diberi kesempatan kedua?
RAMAH menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak harus terdengar rumit. Kadang, ide terbaik dimulai dengan melihat kembali apa yang selama ini kita anggap sudah selesai.
