Markbiz, Tangerang, 8 September 2026 — Tidak semua pengusaha memulai perjalanan bisnis dengan peta industri yang sudah tergambar jelas. Ada yang sejak awal memilih satu sektor dan mendalaminya selama bertahun-tahun. Namun, ada pula yang menemukan arah bisnis justru melalui perjalanan panjang, berpindah dari satu industri ke industri lainnya.
Perjalanan tersebut dialami David Hadiputra, Managing Director PT Link Two Link Indonesia (Link2Link). Sebelum semakin fokus membangun bisnis di industri pet food, ia pernah menjajaki bisnis industrial hingga sektor makanan dan minuman.
Dari perjalanan lintas industri tersebut, David menemukan satu kesamaan: bisnis yang mampu bertahan dalam jangka panjang harus memiliki alasan yang jelas untuk dibutuhkan konsumennya.
“Bagi saya, bisnis jangka panjang harus berangkat dari kebutuhan yang nyata. Kita tidak mulai dari apa yang ingin kita jual, tetapi dari apa yang benar-benar dibutuhkan konsumen,” ujar David di sela Indonesia International Pet Expo (IIPE) 2026 di ICE BSD, Tangerang.
Pandangan tersebut menjadi menarik di tengah semakin banyaknya peluang bisnis yang muncul seiring perubahan tren konsumen. Tidak sedikit pelaku usaha melihat pertumbuhan sebuah pasar sebagai alasan untuk segera masuk. Namun, pertumbuhan pasar belum tentu otomatis menjamin keberlanjutan bisnis.
Di antara peluang dan tren, tetap ada pertanyaan yang lebih mendasar: kebutuhan apa yang sebenarnya ingin dijawab?
Dari Industri Pelayaran ke F&B
David, lulusan Singapore Institute of Management dengan latar belakang Business, Marketing, dan Finance, mengawali perjalanan profesionalnya di Singapura.
Setelah kembali ke Indonesia pada masa pandemi Covid-19, ia mulai membangun bisnis sendiri. Perjalanan itu diawali dengan penyediaan rope untuk industri pelayaran sebelum kemudian memasuki sektor F&B melalui Gaja Chicken dan The Layer.
Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya mengenai pertumbuhan bisnis. Salah satu pelajaran penting datang ketika Gaja Chicken mulai berkembang dan menarik minat untuk diwaralabakan. Permintaan pasar muncul, tetapi di saat yang sama, kesiapan internal perusahaan belum sepenuhnya mampu menopang ekspansi dalam skala lebih besar.
“Dari situ saya belajar bahwa demand saja tidak cukup. Semakin besar bisnis, semakin penting kesiapan tim dan sistem untuk menopang pertumbuhannya. Karena itu saya sangat percaya pada continuous improvement,” jelas David.
Pengalaman tersebut menunjukkan sebuah paradoks yang cukup sering terjadi dalam dunia bisnis. Banyak perusahaan menghadapi persoalan karena kekurangan permintaan. Namun, pertumbuhan yang terlalu cepat juga dapat menciptakan persoalan baru ketika sistem, sumber daya manusia, dan proses operasional belum siap.
Karena itu, pertumbuhan tidak selalu identik dengan ekspansi. Dalam banyak kasus, kemampuan untuk bertahan justru ditentukan oleh kesiapan perusahaan membangun fondasi sebelum memperbesar skala bisnis.
Menemukan Ruang di Industri Pet Food
Dari berbagai sektor yang pernah dijalankannya, industri pet food kini menjadi salah satu fokus utama David.
Melalui PT Link Two Link Indonesia, ia mengembangkan bisnis distribusi sekaligus pengembangan merek pet food internasional di Indonesia. Sejumlah merek yang berada dalam portofolio distribusinya antara lain Taste of the Wild, Diamond Naturals, Wanpy, dan Aatas Cat.
Industri ini sendiri memiliki ruang pertumbuhan yang cukup besar. Berdasarkan proyeksi Euromonitor International, nilai penjualan ritel industri pet care Indonesia diperkirakan mencapai sekitar Rp10,4 triliun pada 2026 atau tumbuh sekitar 6% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara Future Market Insights memperkirakan penetrasi commercial pet food masih berada di bawah 30% dari total populasi hewan peliharaan.
Bagi David, peluang tersebut tidak semata-mata berasal dari meningkatnya jumlah pemilik hewan peliharaan.
Perubahan yang lebih penting adalah meningkatnya kesadaran pet owners terhadap kebutuhan nutrisi dan kesehatan hewan peliharaan.
“Pertumbuhan industri bukan hanya soal menjual lebih banyak produk. Yang lebih penting adalah bagaimana pet owners semakin memahami kebutuhan hewan mereka dan bisa membuat keputusan yang lebih baik,” ujarnya.
Di titik inilah pertumbuhan industri pet food memiliki dimensi yang berbeda. Pasarnya tidak hanya berkembang karena semakin banyak produk yang tersedia, tetapi juga karena konsumen mulai memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap kategori produk yang mereka beli. Dengan kata lain, edukasi konsumen dapat menjadi bagian dari pertumbuhan pasar.
Bertumbuh, Tapi Tidak Terburu-buru
Sejak berdiri pada 2024, Link2Link telah membangun jaringan lebih dari 350 retailer dan pet shop di Jawa, Sumatra, Bali, dan Sulawesi.
Perusahaan juga mencatatkan pertumbuhan pendapatan sekitar 40% pada 2025. Ke depan, Link2Link menargetkan pertumbuhan pendapatan hingga lima kali lipat dalam dua hingga tiga tahun mendatang.
Strategi pertumbuhan akan diarahkan melalui penguatan merek yang sudah ada, peningkatan performa di jaringan retailer, perluasan distribusi ke wilayah potensial, serta penambahan merek dan kategori secara selektif.
Namun, ambisi pertumbuhan tersebut tidak ingin dijalankan dengan pendekatan ekspansi ke segala arah. Pengalaman di berbagai industri membuat David semakin berhati-hati dalam menentukan langkah berikutnya.
“Berdasarkan pengalaman, terlalu cepat ingin berkembang ke banyak hal tidak selalu baik untuk bisnis jangka panjang. Kita harus benar-benar kuat di satu area sebelum masuk ke area berikutnya. Fokus dulu pada kebutuhan konsumen, produk, tim, dan sistem,” katanya.
Pendekatan tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi menjadi semakin relevan dalam lingkungan bisnis yang serba cepat.
Pet-preneur Bukan Sekadar Label
Bagi David, fokus di industri hewan peliharaan membuat istilah pet-preneur relevan dengan perjalanan bisnisnya saat ini. Namun, ia tidak melihatnya sebagai batas terhadap identitasnya sebagai seorang entrepreneur.
“Menjadi pet-preneur adalah fokus saya saat ini dan entrepreneur adalah identitas yang lebih besar. Pengalaman dari bisnis-bisnis sebelumnya banyak saya bawa ketika membangun bisnis sekarang. Industri bisa berbeda, tetapi pada akhirnya saya selalu kembali pada kebutuhan apa yang ingin kita jawab dan nilai apa yang bisa kita berikan,” ujarnya.
Pengalaman lintas industri tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan seorang pengusaha tidak selalu harus diterjemahkan sebagai spesialisasi pada satu sektor sepanjang hidupnya.
David berharap perkembangan industri pet food Indonesia ke depan tidak hanya diukur dari pertumbuhan nilai pasar.
Baginya, industri yang lebih matang juga harus tercermin dari meningkatnya pemahaman masyarakat dalam merawat hewan peliharaan.
“Saya melihat masih banyak ruang untuk membuat industri ini lebih baik, bukan hanya dengan menghadirkan lebih banyak pilihan produk, tetapi dengan benar-benar memahami apa yang dibutuhkan pet owners dan hewan peliharaan mereka. Itu yang ingin terus saya bangun di industri pet food,” tutup David.
