Markbiz.id, 8 Agustus 2026 | Dunia bisnis sedang memasuki fase perubahan yang cukup besar. Kecerdasan buatan (AI), ketidakpastian ekonomi, dinamika geopolitik, perubahan ekspektasi karyawan, hingga tuntutan konsumen yang semakin tinggi membuat perusahaan harus memikirkan kembali cara mereka bekerja dan menciptakan nilai.
Gambaran tersebut terlihat dalam laporan The State of Organizations 2026 dari McKinsey & Company, yang disusun berdasarkan survei terhadap lebih dari 10.000 eksekutif senior di 15 negara dan 16 industri. Jika beberapa tahun lalu perusahaan lebih banyak berfokus pada bagaimana bertahan menghadapi berbagai guncangan, kini perhatian mulai bergeser pada bagaimana membangun produktivitas dan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Menurut McKinsey, ada tiga kekuatan besar yang sedang membentuk organisasi masa depan. Pertama adalah masuknya teknologi, terutama AI, otomasi, dan analitik data, ke hampir seluruh proses bisnis. Kedua adalah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang menuntut perusahaan lebih cepat beradaptasi. Ketiga adalah perubahan tenaga kerja, baik dari sisi demografi, ekspektasi karyawan maupun cara orang bekerja.
Yang menarik, banyak perusahaan sebenarnya sudah menyadari perubahan tersebut, tetapi belum benar-benar siap menghadapinya. Lebih dari separuh pemimpin yang disurvei optimistis terhadap berbagai perubahan yang terjadi, namun 72 persen mengakui organisasinya belum sepenuhnya siap. Dalam penggunaan AI, sekitar 88 persen pemimpin mengatakan organisasinya sudah mulai menerapkan AI, tetapi kurang dari 20 persen yang merasakan dampak signifikan terhadap operasional. Ini menunjukkan bahwa tantangan AI bukan semata persoalan teknologi, melainkan kesiapan organisasi.
Salah satu perubahan penting yang disoroti McKinsey adalah pergeseran dari structure menuju flow. Perusahaan tidak lagi cukup mengandalkan struktur organisasi yang kaku dan jenjang birokrasi yang panjang. Yang semakin penting adalah bagaimana pekerjaan mengalir dengan cepat, keputusan dapat dibuat lebih dekat dengan masalah, dan kolaborasi lintas fungsi tidak terhambat oleh terlalu banyak prosedur.
Karena itu, transformasi organisasi ke depan tidak cukup dilakukan dengan membeli teknologi baru. Perusahaan juga harus mengubah cara kerja, meningkatkan kemampuan manusia, membangun kepemimpinan baru, dan menciptakan budaya yang lebih adaptif. AI mungkin menjadi katalisator perubahan, tetapi manusia dan organisasi tetap menjadi penentu apakah teknologi tersebut benar-benar menghasilkan nilai.
Pada akhirnya, keunggulan perusahaan di era baru bukan hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki teknologi paling canggih, tetapi siapa yang paling cepat mengubah organisasinya agar mampu memanfaatkan teknologi tersebut.
