Markbiz, 29 Agustus 2026 | Empat Tahun TOSERBAKU menandai perjalanan sebuah toko merchandise yang kini berkembang dengan delapan lokasi dan lebih dari 600 SKU produk.
Tidak semua perluasan bisnis lahir dari rencana besar yang rumit. Kadang, sebuah brand tumbuh karena mendengarkan hal-hal kecil yang dibutuhkan konsumennya.
Begitulah perjalanan TOSERBAKU, lini bisnis yang lahir dari ekosistem Toko Kopi Tuku dan kini memasuki usia empat tahun.
TOSERBAKU atau Toko Serba Tuku diperkenalkan pada 17 Agustus 2022. Awalnya, kehadirannya berangkat dari keinginan untuk menghadirkan produk cendera mata yang lebih dekat dengan keseharian Tetangga Tuku. Namun, perjalanan berikutnya menunjukkan bahwa merchandise tidak harus berhenti sebagai benda dengan logo.

Ada botol minum, pakaian, tas, hingga berbagai barang yang dirancang untuk dipakai dalam aktivitas sehari-hari. Identitas Tuku kemudian bergerak keluar dari gelas kopi dan masuk ke ruang hidup konsumennya.
Ketika Merchandise Tidak Lagi Sekadar Souvenir
Bagi banyak brand, merchandise sering kali menjadi perpanjangan tangan promosi. Logo dicetak pada kaus, tas, atau tumbler, lalu selesai. TOSERBAKU mengambil jalur yang sedikit berbeda.
Produk-produknya berusaha mencari relevansi dengan kehidupan sehari-hari Tetangga Tuku. Pendekatan ini membuat TOSERBAKU perlahan bergerak sebagai lifestyle extension dari sebuah brand kopi.
Perubahan tersebut penting karena perilaku konsumen, terutama Milenial dan Gen Z, semakin menempatkan brand sebagai bagian dari identitas. Mereka tidak hanya membeli produk karena fungsi, tetapi juga cerita, nilai, dan kedekatan emosional yang menyertainya.
Di titik inilah TOSERBAKU menemukan ruangnya.
Dari sekadar membeli kopi, konsumen kini dapat membawa sebagian pengalaman Tuku ke aktivitas lain. Sebuah botol minum atau tas bukan hanya benda, tetapi bisa menjadi pengingat terhadap komunitas yang selama ini dibangun melalui konsep bertetangga.
Dari sebuah gagasan tentang cendera mata, TOSERBAKU kini tumbuh menjadi ekosistem ritel yang jauh lebih besar. Delapan lokasi dan lebih dari 600 SKU menjadi penanda perubahan tersebut.
Di balik angka itu, ada pergeseran cara Tuku melihat merchandise yakni bukan lagi sekadar benda bertanda logo, melainkan produk yang memiliki tempat dalam keseharian konsumennya.
“Produk yang ada disini tidak hanya memiliki fungsi, tetapi juga cerita dan dampak yang lebih luas menjadi gagasan yang kemudian semakin terasa dalam perkembangan TOSERBAKU,” ujar Diana Frances, VP of Growth and Expansion Toko Kopi Tuku di sela bincang dengan awak media pada Jumat (28/8/2026) di Toserba Tuku BSD, Tangerang.
Empat Tahun Mencari Arti Kedekatan
Memasuki usia keempat, perjalanan TOSERBAKU juga menunjukkan perubahan cara brand lokal membangun pertumbuhan. Ekspansi tidak selalu berarti membuka lebih banyak toko atau menjual lebih banyak kategori produk.
Pertumbuhan juga bisa berarti memperdalam hubungan dengan komunitas yang sudah ada.
TOSERBAKU tumbuh dari ekosistem Tuku yang mengenalkan konsumennya sebagai Tetangga Tuku. Bahasa ini mungkin terdengar sederhana, tetapi memiliki konsekuensi dalam cara sebuah brand membangun produk.
Barang yang dibuat harus terasa dekat.
Itulah sebabnya TOSERBAKU tidak hanya bicara soal menjual merchandise. Ada upaya untuk membuat produk yang relevan, dapat digunakan, sekaligus membawa cerita dari proses pembuatannya.
Empat tahun mungkin belum panjang untuk sebuah bisnis ritel. Namun, usia ini cukup untuk melihat arah sebuah brand: apakah ia hanya mengikuti tren atau mulai menemukan identitasnya sendiri.
Bagi TOSERBAKU, perjalanan tersebut tampaknya bergerak menuju satu gagasan yaitu menjadi bagian dari keseharian, bukan sekadar sesuatu yang dibeli lalu disimpan.
Di usia empat tahun, TOSERBAKU membuktikan bahwa merchandise bisa berkembang menjadi cerita. Pertanyaannya, sejauh mana brand Anda hadir dalam kehidupan konsumennya?
