Home » Jangan Terjebak Klaim Aman Produk Skincare Bayi

Jangan Terjebak Klaim Aman Produk Skincare Bayi

Bayi Foto: ffpeds.com

Markbiz, Jakarta, 01 September 2026 | Label seperti “100% alami”, “organik”, atau “dermatologically tested” pada produk skincare bayi memang terdengar meyakinkan. Namun, bagi orang tua, tulisan di kemasan seharusnya bukan akhir dari pertimbangan, melainkan awal untuk memeriksa apakah klaim tersebut benar-benar memiliki dasar dan dapat diverifikasi.

Memilih produk perawatan kulit untuk bayi dan anak membutuhkan perhatian lebih karena karakteristik kulit mereka berbeda dengan orang dewasa. Studi yang dipublikasikan dalam Pediatric Dermatology menunjukkan bahwa kulit bayi memiliki struktur yang lebih tipis dibandingkan kulit orang dewasa, sehingga fungsi perlindungan kulit masih berkembang.

Di tengah meningkatnya perhatian konsumen terhadap bahan alami, organik, dan produk ramah lingkungan, muncul pula persoalan greenwashing. Istilah ini merujuk pada praktik komunikasi pemasaran yang membuat sebuah produk terlihat lebih ramah lingkungan atau lebih “hijau” dibandingkan kondisi sebenarnya.

Sebuah studi pada 2024 terhadap merek kosmetik yang memasarkan produk ramah lingkungan untuk bayi menemukan adanya persoalan dalam transparansi informasi dan sertifikasi.

Studi tersebut mencatat 39% produk yang diteliti memiliki informasi kemasan yang dimanipulasi atau disembunyikan, sementara hanya 18,4% yang memiliki sertifikasi organik resmi dari pihak ketiga.

Karena itu, orang tua perlu melihat lebih jauh dari sekadar klaim yang tercetak di bagian depan kemasan. Berikut lima hal yang dapat diperiksa sebelum memilih skincare untuk bayi dan anak.

Baca juga: Ini Alasan Kenapa Orang Indonesia Suka Ngopi: dari Obrolan Santai hingga Budaya Jam Karet

1. Periksa Logo Kelinci

Logo kelinci atau Leaping Bunny kerap digunakan untuk menunjukkan bahwa suatu produk memenuhi standar cruelty-free. Namun, keberadaan gambar kelinci pada kemasan tidak otomatis berarti produk tersebut telah memperoleh sertifikasi resmi.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah rantai pasok. Klaim cruelty-free yang kredibel tidak hanya berkaitan dengan produk akhir, tetapi juga proses dan pemasok bahan bakunya.

Karena itu, konsumen dapat memeriksa apakah sebuah merek memang tercantum dalam basis data resmi Leaping Bunny milik Cruelty Free International.

Dengan cara tersebut, konsumen tidak hanya mengandalkan logo yang tercetak pada kemasan, tetapi dapat melakukan verifikasi terhadap klaim yang dibuat produsen.

2. Jangan Mudah Percaya Label “Organik”

Kata “organik” juga perlu dibaca secara kritis. Sebuah produk yang menggunakan bahan organik tidak otomatis berarti seluruh formulanya terdiri dari bahan organik.

Sertifikasi pihak ketiga dapat menjadi salah satu cara untuk memeriksa klaim tersebut. Salah satu standar yang dikenal dalam kosmetik organik adalah COSMOS Organic, yang sertifikasinya antara lain dilakukan oleh Ecocert.

Konsumen dapat memeriksa status sertifikasi sebuah produk melalui basis data resmi Ecocert. Pemeriksaan menjadi penting karena penggunaan nama atau logo lembaga sertifikasi tanpa hak juga dapat terjadi. Ecocert menyediakan informasi mengenai penggunaan referensi merek yang tidak sah.

Yang perlu diingat, “organik” bukan sinonim dari “pasti aman untuk semua bayi”. Bayi tetap dapat memiliki sensitivitas terhadap bahan tertentu, termasuk bahan yang berasal dari tumbuhan.

3. “Dermatologically Tested” Bukan Jaminan Mutlak

Tulisan dermatologically tested mungkin terdengar seperti jaminan keamanan. Namun, konsumen perlu mengetahui bahwa istilah tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan secara lengkap bagaimana pengujian dilakukan, pada siapa, berapa lama, maupun parameter apa yang digunakan.

Karena itu, jangan berhenti pada label. Konsumen dapat mencari informasi mengenai jenis pengujian, jumlah partisipan, kondisi pengujian, serta apakah pengujian melibatkan pengawasan tenaga medis yang relevan.

Jika informasi tersebut tidak tersedia di kemasan, konsumen dapat menghubungi layanan konsumen resmi produsen dan meminta penjelasan mengenai dasar klaim tersebut.

Pendekatan ini penting karena “telah diuji” dan “terbukti aman untuk semua anak” merupakan dua pernyataan yang berbeda.

4. Cermati Klaim “Clean” dan “Alami”

Istilah clean formula, “alami”, atau “bebas bahan kimia” juga perlu dicermati. Pasalnya, istilah-istilah tersebut dapat memiliki pengertian yang berbeda antara satu produsen dengan produsen lainnya.

Alih-alih hanya melihat bagian depan kemasan, konsumen sebaiknya membaca daftar komposisi bahan (ingredient list).

Pewangi atau fragrance, misalnya, dapat menjadi salah satu pemicu contact dermatitis pada sebagian orang yang sensitif. Sementara itu, bahan alami seperti minyak esensial juga tidak otomatis bebas risiko bagi kulit bayi.

Karena itu, klaim “alami” tidak seharusnya menjadi satu-satunya pertimbangan. Untuk anak dengan kulit sensitif, orang tua dapat mempertimbangkan produk yang mencantumkan klaim fragrance-free dan tetap memeriksa keseluruhan komposisinya.

5. Klaim “Aman untuk Bayi” Tetap Perlu Diverifikasi

Klaim “aman untuk bayi” terdengar sederhana, tetapi konsumen tetap perlu mengetahui dasar di balik klaim tersebut.

Reaksi kulit terhadap suatu produk dapat berbeda pada setiap anak. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan respons kulit setelah penggunaan dan menghentikan pemakaian apabila muncul tanda iritasi yang mengkhawatirkan.

Untuk produk baru, sebagian orang tua juga melakukan patch test. Namun, pada bayi atau anak dengan riwayat kulit sangat sensitif, langkah tersebut sebaiknya dilakukan dengan pertimbangan tenaga kesehatan, terutama jika muncul reaksi kulit.

Yang juga penting, tidak ada satu produk skincare yang otomatis cocok untuk semua bayi. Karakteristik kulit, usia, kondisi lingkungan, serta sensitivitas individu dapat memengaruhi respons terhadap suatu produk.

Baca juga: Gaya Hidup Serba Praktis Bikin Asupan Serat Terabaikan

Lebih Kritis Membaca Kemasan

Pada akhirnya, memilih skincare untuk bayi dan anak bukan sekadar mencari produk dengan klaim paling banyak. Justru semakin banyak klaim yang tercantum di kemasan, semakin penting bagi konsumen untuk memahami apa arti klaim tersebut dan bagaimana cara memverifikasinya.

Logo sertifikasi, daftar bahan, informasi pengujian, serta kredibilitas produsen dapat menjadi pertimbangan yang lebih bermakna dibandingkan sekadar kata-kata seperti “alami”, “organik”, atau “aman”.

Bagi orang tua, menjadi konsumen yang kritis bukan berarti harus memahami seluruh istilah kimia dalam produk skincare. Langkah sederhananya adalah tidak langsung percaya pada klaim di bagian depan kemasan dan membiasakan diri mencari bukti di balik klaim tersebut.

Dengan begitu, keputusan memilih produk perawatan kulit untuk si kecil tidak hanya didasarkan pada rasa aman yang dibangun oleh kemasan, tetapi juga pada informasi yang dapat diperiksa dan dipertanggungjawabkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *