Home » Benarkah Tren Estetika 2026 Mulai Tinggalkan Hasil Berlebihan?

Benarkah Tren Estetika 2026 Mulai Tinggalkan Hasil Berlebihan?

Markbiz, 22 Agustus 2026 | Tren estetika 2026 mulai bergerak dari keinginan mendapatkan perubahan wajah secara instan menuju hasil yang lebih natural.

Perawatan tidak lagi semata-mata mengejar perubahan bentuk, tetapi juga mempertimbangkan kualitas kulit dan bagaimana wajah tetap mempertahankan karakter aslinya.

Perubahan tersebut muncul seiring semakin kritisnya konsumen terhadap hasil estetika yang terlihat berlebihan.

Praktik filler berulang dan penggunaan volume secara berlebihan sebelumnya ikut memunculkan kekhawatiran terhadap tampilan wajah yang menjadi seragam atau kehilangan karakter.

Dalam pendekatan yang kini berkembang, konsep aging gracefully menjadi semakin relevan. Tujuannya bukan membuat seseorang terlihat seperti orang lain, melainkan membantu wajah tampak lebih segar tanpa menghilangkan ciri khas yang dimiliki.

Dari Perubahan Bentuk ke Regenerasi Kulit

Pendekatan regeneratif menjadi salah satu bagian dari perubahan tersebut.

Perawatan diarahkan untuk mendukung proses biologis kulit sehingga hasilnya berkembang secara bertahap, bukan sekadar memberikan perubahan volume secara langsung.

Salah satu nama yang muncul dalam pendekatan ini adalah Julaine, yang digunakan dalam konteks perawatan estetika berbasis PLLA-LASYNPRO.

Penggunaan Julaine dalam rangkaian perawatan estetika serta pendekatan yang menitikberatkan pada regenerasi kulit.

dr. Jeffri Setiawan, Dipl. AAAM, mengatakan pendekatan regeneratif semakin diminati karena berfokus pada regenerasi biologis kulit.

Tren estetika wajah bergeser ke hasil natural dan regeneratif, dengan fokus menjaga karakter wajah dan kualitas kulit. Foto: markbiz/Ly

Menurutnya, hasil perawatan berkembang secara bertahap melalui stimulasi fibroblas dan pembentukan matriks ekstraseluler sehingga perbaikan kualitas kulit terlihat lebih natural dan selaras dengan proses biologis tubuh.

Pendekatan tersebut memperlihatkan perubahan cara pandang terhadap estetika.

Perawatan bukan hanya tentang apa yang perlu ditambahkan pada wajah, tetapi juga bagaimana menjaga keseimbangan antara bentuk, kualitas kulit, dan karakter seseorang.

Konsumen Perlu Lebih Kritis Memilih Perawatan

Perubahan tren juga membuat konsumen perlu lebih selektif. Arus informasi dari media sosial memang memudahkan masyarakat mengenal berbagai prosedur, tetapi popularitas sebuah tren tidak otomatis menjadi dasar medis untuk memilih tindakan.

dr. Deasy Lius Sp.DVE, menambahkan bahwa evidence-based medicine mempertimbangkan bukti ilmiah, keahlian dokter, serta kebutuhan dan preferensi pasien.

Informasi dari influencer atau brand ambassador, menurut dr. Deasy, dapat menjadi pengalaman pribadi, tetapi tidak menggantikan pertimbangan medis.

Perkembangan ini juga berjalan beriringan dengan inovasi industri kecantikan yang semakin personal dan berbasis teknologi.

Baca juga: Startup Indonesia Ditantang Inovasi Baru di Industri Kecantikan

Pada akhirnya, tren estetika 2026 menunjukkan bahwa standar kecantikan mulai bergeser.

Wajah yang tampak natural, sehat, dan tetap memiliki karakter sendiri semakin mendapat perhatian, sementara pendekatan regeneratif menawarkan perspektif berbeda tentang bagaimana proses penuaan dapat dijalani secara lebih bersamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *