MARKBIZ.ID | Dulu, orang tua mungkin mengantar anak mengikuti wawancara kerja. Setelah itu, urusan selesai. Anak masuk ke ruang wawancara, menjawab pertanyaan sendiri, menerima atau menolak tawaran pekerjaan sendiri, dan menghadapi masalah di tempat kerja sendiri.
Namun, dunia kerja mulai melihat fenomena yang agak berbeda. Beberapa orang tua kini tidak hanya mendukung anaknya dari belakang, tetapi ikut “masuk” ke dalam proses karier mereka.
Fenomena ini kembali menjadi perhatian setelah The Wall Street Journal melaporkan bahwa sejumlah perusahaan dan perekrut semakin sering menghadapi orang tua yang menghubungi perusahaan atas nama anak mereka, membantu melamar pekerjaan, bahkan ikut dalam wawancara. Dalam sebuah survei Zety terhadap lebih dari 1.000 anggota Gen Z, 20% responden mengatakan pernah didampingi orang tua saat wawancara kerja.
Dalam beberapa kasus, keterlibatan tersebut bahkan jauh lebih jauh. Ada orang tua yang menghubungi hiring manager untuk menanyakan status lamaran anaknya. Ada yang ikut membahas gaji dan tunjangan. Bahkan, seorang eksekutif perusahaan staffing di Alaska menceritakan bagaimana ia harus menjelaskan keputusan memecat seorang karyawan berusia 24 tahun bukan hanya kepada karyawan tersebut, tetapi juga kepada ibunya yang menelepon setelah pemecatan.
Fenomena ini kemudian dikenal sebagai “helicopter parenting”, istilah untuk pola pengasuhan ketika orang tua terlalu banyak mengawasi, melindungi, atau mengambil alih keputusan anak. Bedanya, kali ini “helikopter” tersebut tidak berhenti ketika anak lulus kuliah. Ia ikut terbang sampai memasuki dunia profesional.
Mengapa hal ini terjadi?
Salah satu alasannya adalah perubahan kondisi dunia kerja. Generasi Z memasuki pasar kerja dalam periode yang penuh ketidakpastian. Persaingan mendapatkan pekerjaan semakin ketat, sementara perusahaan memiliki ekspektasi tinggi terhadap kandidat muda. Bagi sebagian orang tua, membantu anak menghadapi situasi tersebut mungkin terasa seperti bentuk dukungan, bukan campur tangan.
Masalahnya, dunia kerja memiliki aturan yang berbeda dengan dunia pendidikan. Di sekolah atau universitas, orang tua mungkin masih dapat berkomunikasi dengan guru atau dosen. Tetapi dalam perusahaan, hubungan yang dibangun adalah hubungan profesional antara karyawan dan organisasi.
Karena itu, keterlibatan orang tua justru bisa menimbulkan persoalan baru. Bagi recruiter, seorang kandidat yang membawa orang tua ke dalam proses wawancara dapat menimbulkan pertanyaan mengenai kemandirian, kemampuan mengambil keputusan, dan kesiapan menghadapi tekanan profesional. Para profesional HR yang diwawancarai WSJ bahkan mengatakan bahwa intervensi semacam ini hampir tidak pernah membantu kandidat mendapatkan pekerjaan.
Yang menarik, persoalan ini bukan sepenuhnya kesalahan Gen Z.
Generasi yang tumbuh dalam budaya helicopter parenting mungkin memang terbiasa mendapatkan dukungan intensif dari orang tua. Di sisi lain, orang tua juga menghadapi dilema baru: mereka melihat anak-anaknya memasuki dunia kerja yang jauh lebih kompetitif dibandingkan pengalaman mereka sendiri.
Di sinilah perusahaan perlu mengambil posisi yang bijaksana. HR tidak perlu memusuhi orang tua, tetapi harus menetapkan batas yang jelas. Dukungan keluarga tetap penting, tetapi tanggung jawab profesional harus berada di tangan karyawan.
Bahkan, perusahaan dapat melihat fenomena ini sebagai bagian dari tantangan baru dalam mengelola Gen Z. Generasi muda tidak selalu membutuhkan perusahaan yang memperlakukannya seperti anak-anak. Mereka membutuhkan coaching, feedback yang jelas, ruang untuk belajar, dan kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri.
Sebab pada akhirnya, salah satu tujuan penting dari bekerja adalah belajar menjadi mandiri.
Orang tua tentu boleh membantu anak mendapatkan pekerjaan. Mereka boleh memberikan nasihat, membuka jaringan, bahkan membantu mempersiapkan wawancara. Tetapi ketika mereka mulai menghubungi HR untuk menanyakan mengapa anaknya tidak diterima, meminta kenaikan gaji, atau membela anak ketika mendapat evaluasi buruk, batas antara support dan intervention mulai menjadi kabur.
Dan bagi perusahaan, mungkin ada satu pertanyaan sederhana yang perlu dijawab: apakah kita sedang mengembangkan karyawan dewasa, atau tanpa sadar ikut mengelola anak-anak mereka?
Fenomena helicopter parents mungkin terlihat lucu atau bahkan absurd. Tetapi di baliknya terdapat persoalan HR yang cukup serius: bagaimana perusahaan membantu generasi muda membangun kemandirian profesional tanpa kehilangan dukungan yang mereka butuhkan?

One thought on “Ketika Orang Tua Ikut Masuk ke Dunia Kerja: Fenomena “Helicopter Parents” dan Generasi Z”