Home » Nestlé Mulai Memilih, Mengapa Tak Bisa Lagi Menjual Semuanya?

Nestlé Mulai Memilih, Mengapa Tak Bisa Lagi Menjual Semuanya?

Markbiz, 13 Agustus 2026 | Apa yang terjadi ketika salah satu perusahaan makanan terbesar di dunia mulai mengatakan bahwa tidak semua bisnis layak dipertahankan?

Pertanyaan ini sedang muncul di Nestlé. Di bawah CEO baru Philipp Navratil, perusahaan yang memiliki begitu banyak merek terkenal seperti Nescafé, Nespresso, KitKat, Maggi, Purina, dan Sanpellegrino mulai melakukan perubahan besar terhadap portofolio bisnisnya.

Nestlé Mulai Menilai Ulang Bisnis yang Tak Lagi Strategis

Fokusnya kini semakin diarahkan pada empat bidang yang dianggap memiliki peluang pertumbuhan lebih kuat seperti kopi, pet care, nutrition & health, serta food & snacking.

Sekilas, langkah ini mungkin terlihat seperti restrukturisasi biasa. Namun sebenarnya ada pesan strategis yang jauh lebih penting, semakin besar sebuah perusahaan, semakin penting kemampuannya untuk memilih.

Nestlé memiliki bisnis yang sangat luas, mulai dari makanan, minuman, produk hewan peliharaan, vitamin, nutrisi, air minum, hingga es krim.

Masalahnya, tidak semua bisnis tersebut tumbuh dengan kecepatan yang sama. Karena itu, manajemen baru mulai mengevaluasi bisnis berdasarkan tiga pertanyaan sederhana: apakah bisnis tersebut tumbuh, apakah memberikan keuntungan yang menarik, dan apakah Nestlé memiliki posisi sebagai pemimpin pasar.

Jika jawabannya tidak cukup kuat, bisnis tersebut bisa diperbaiki, dijalankan bersama mitra, atau bahkan dijual.

Contohnya cukup menarik. Nestlé sedang mempertimbangkan pelepasan sejumlah bisnis vitamin dan suplemen yang pertumbuhannya lebih rendah.

Fokus pada Bisnis dengan Potensi Pertumbuhan Jangka Panjang

Perusahaan juga berencana memisahkan bisnis air minumnya dan telah masuk tahap pembicaraan untuk menjual sebagian operasi es krimnya kepada Froneri.

Bisnis es krim yang sedang dibicarakan tersebut menghasilkan sekitar 1 miliar franc Swiss atau sekitar US$1,3 miliar per tahun.

Bagi perusahaan sebesar Nestlé, angka tersebut tentu bukan angka kecil. Tetapi justru di situlah letak persoalan corporate strategy. Bisnis besar belum tentu merupakan bisnis strategis.

Sebaliknya, Nestlé melihat peluang lebih besar pada kopi, pet care, nutrisi dan kesehatan, serta makanan dan snack. Kopi menjadi salah satu fokus utama karena masih memiliki ruang pertumbuhan, termasuk melalui produk cold brew. Pet care juga dianggap menjanjikan, terutama di Asia, sementara bisnis nutrisi dapat memanfaatkan tren seperti healthy aging, kesehatan perempuan, dan meningkatnya kebutuhan nutrisi khusus.

Strategi ini juga menunjukkan perubahan cara perusahaan melihat pertumbuhan. Nestlé tidak hanya ingin menaikkan harga untuk meningkatkan pendapatan, tetapi ingin meningkatkan volume penjualan.

Artinya, perusahaan ingin menjual lebih banyak produk kepada lebih banyak konsumen, terutama melalui kategori yang memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang.

Langkah Nestlé sebenarnya menggambarkan tantangan yang dihadapi banyak perusahaan besar. Ketika perusahaan semakin besar, mereka cenderung memiliki semakin banyak produk, merek dan unit bisnis.

Pada awalnya diversifikasi terlihat sebagai kekuatan. Namun lama-kelamaan, terlalu banyak bisnis juga bisa membuat perhatian manajemen, modal, dan sumber daya perusahaan menjadi terpecah.

One thought on “Nestlé Mulai Memilih, Mengapa Tak Bisa Lagi Menjual Semuanya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *