Markbiz, 12 Agustus 2026 | Keputusan HSBC untuk keluar dari bisnis retail banking di Australia mungkin terlihat mengejutkan.
Bagaimana mungkin sebuah bank global sebesar HSBC rela meninggalkan bisnis dengan portofolio kredit rumah dan personal loan sekitar A$36 miliar atau US$25,3 miliar?
Jawabannya justru memperlihatkan salah satu prinsip penting dalam corporate strategy, perusahaan besar tidak selalu harus mempertahankan bisnis yang besar.
HSBC telah sepakat menjual portofolio kredit rumah dan personal loan Australia kepada Blackstone dalam salah satu transaksi portofolio kredit perumahan terbesar di pasar tersebut.
Setelah transaksi selesai, HSBC akan menghentikan bisnis retail banking-nya di Australia secara bertahap dalam waktu sekitar 18 bulan, termasuk menutup jaringan cabang dan mengakhiri layanan rekening transaksi serta kartu.
Namun, HSBC tetap mempertahankan bisnis private banking dan corporate and institutional banking di negara tersebut.
HSBC Memilih Fokus pada Bisnis yang Lebih Strategis
Keputusan ini menjadi semakin menarik jika melihat arah strategi HSBC secara keseluruhan. CEO Georges Elhedery sedang melakukan penyederhanaan bisnis dengan keluar dari sejumlah pasar dan bisnis yang dianggap tidak lagi menjadi prioritas, sambil memperkuat area yang memiliki keunggulan strategis, terutama Asia, wealth management, serta corporate and institutional banking.
Pada paruh pertama 2026, bisnis corporate and institutional banking bahkan menjadi salah satu mesin laba utama HSBC, dengan laba meningkat sekitar 30% secara tahunan.
Dengan kata lain, HSBC tampaknya tidak sedang mengatakan bahwa Australia bukan pasar yang menarik. Yang dipertanyakan adalah, apakah HSBC perlu menjadi pemain retail banking di Australia?
Persaingan di bisnis mortgage Australia memang sangat ketat. HSBC harus berhadapan dengan bank-bank besar Australia dan pemain yang semakin agresif seperti Macquarie.
Dalam kondisi seperti ini, mempertahankan bisnis retail membutuhkan modal, jaringan, teknologi, cabang, pemasaran dan skala yang besar.
Bagi bank global seperti HSBC, modal tersebut mungkin memberikan hasil yang lebih menarik jika dialihkan ke bisnis lain yang lebih sesuai dengan kekuatan mereka.
HSBC memiliki keunggulan yang berbeda dengan bank lokal. Salah satu kekuatannya adalah menghubungkan perusahaan dan nasabah yang memiliki aktivitas lintas negara, terutama antara Asia dan pasar global.
Karena itu, bisnis corporate banking, institutional banking dan wealth management lebih dekat dengan posisi strategis yang ingin dibangun HSBC.
Strategi Bisnis Bukan Sekadar Mempertahankan Pendapatan Besar
Keputusan meninggalkan retail Australia juga menunjukkan bahwa revenue besar tidak selalu berarti bisnis tersebut harus dipertahankan.
Yang lebih penting adalah apakah bisnis tersebut memberikan return yang menarik, memiliki potensi pertumbuhan, sesuai dengan keunggulan perusahaan, dan layak mendapatkan alokasi modal dibandingkan alternatif lainnya.
Menariknya, keputusan tersebut datang ketika HSBC justru sedang berada dalam kondisi finansial yang kuat. Pada semester pertama 2026, laba sebelum pajak HSBC meningkat 23% menjadi US$19,5 miliar, sementara pendapatan meningkat hampir 11% secara tahunan.
Bank tersebut bahkan kembali menjalankan program share buyback senilai US$1 miliar.
Artinya, HSBC tidak keluar dari Australia karena sedang “kehabisan tenaga”. Justru sebaliknya, perusahaan sedang memilih ke mana tenaga dan modalnya akan diarahkan.
Inilah pelajaran pentingnya bagi perusahaan lain. Dalam dunia bisnis yang semakin kompetitif, strategi bukan hanya tentang menentukan di mana perusahaan ingin tumbuh, tetapi juga berani menentukan di mana perusahaan tidak perlu lagi bermain.
