Markbiz, 4 Agustus 2026 | Hubungan dengan rekan kerja menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap tingkat kebahagiaan pekerja di Indonesia. Temuan tersebut terungkap dalam laporan Workplace Happiness Index 2026 yang dirilis Jobstreet by SEEK, yang menunjukkan bahwa hubungan interpersonal di tempat kerja memiliki peran penting dalam menjaga produktivitas sekaligus meningkatkan retensi karyawan.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa meskipun kompensasi masih menjadi pertimbangan utama ketika seseorang menerima atau mempertahankan pekerjaan, kebahagiaan pekerja justru lebih banyak dipengaruhi oleh keberadaan rekan kerja yang suportif, keseimbangan kehidupan dan pekerjaan (work-life balance), serta rasa bahwa pekerjaan memiliki tujuan (purpose).
Berdasarkan hasil riset, sebanyak 77% pekerja Indonesia mengaku kehadiran tim yang suportif menjadi faktor utama yang membuat mereka merasa bahagia di tempat kerja. Dukungan sosial tersebut dinilai mampu mengurangi tekanan kerja, membantu mencegah burnout, sekaligus menekan keinginan karyawan untuk mengundurkan diri, meski peluang memperoleh gaji lebih tinggi tetap menjadi daya tarik bagi sebagian pekerja.
Baca juga: WFH: Tantangan dan Masa Depan Sistem Kerja Hybrid
Selain itu, 76% responden menilai lingkungan kerja yang nyaman dan atmosfer kantor yang kondusif berperan dalam menciptakan kolaborasi yang lebih efektif. Relasi yang baik antarpegawai juga dinilai mampu mengurangi hambatan komunikasi, mendorong keterbukaan dalam bertukar ide, hingga mempercepat penyelesaian persoalan di lingkungan kerja.
Riset tersebut juga menemukan bahwa rasa memiliki tujuan dalam bekerja menjadi salah satu penopang kebahagiaan karyawan. Sebanyak 75% responden menyatakan pekerjaan yang bermakna membuat mereka lebih termotivasi menjalankan peran di perusahaan. Ikatan yang kuat di dalam tim membantu karyawan melihat target perusahaan sebagai tujuan bersama, bukan sekadar kewajiban pekerjaan sehari-hari.
Di sisi lain, budaya kerja yang mendorong rasa aman secara psikologis (psychological safety) dinilai mampu meningkatkan keberanian karyawan untuk berinovasi, menyampaikan gagasan, hingga mengambil keputusan secara lebih percaya diri. Lingkungan kerja yang saling menghargai juga dinilai menjadi modal penting bagi perusahaan dalam menghadapi tantangan bisnis.
Jobstreet menilai temuan tersebut menjadi pengingat bagi perusahaan bahwa strategi mempertahankan talenta tidak cukup hanya mengandalkan kompensasi. Budaya kerja yang sehat, komunikasi yang terbuka, serta ruang bagi karyawan untuk membangun hubungan yang positif menjadi faktor yang semakin menentukan loyalitas dan produktivitas tenaga kerja di tengah persaingan pasar kerja yang semakin dinamis.
Baca juga: Ketika Slip Gaji Berakhir, Dari Karyawan Menjadi Pengusaha UMKM
Berikut rangkuman 4 Alasan Mengapa Teman Kantor Berdampak Langsung pada Bisnis & Retensi
1. Social Support System Sebagai Penahan Angka Turnover
Meskipun gaji yang lebih tinggi tetap menjadi keinginan utama bagi 54% pekerja, dorongan finansial saja tidak selalu cukup untuk menahan mereka bertahan. Karyawan yang memiliki sahabat di tempat kerja cenderung memiliki ikatan psikologis (belongingness) yang erat. Berdasarkan riset Jobstreet, ketika beban kerja terasa berat, kehadiran rekan kerja/tim yang suportif diakui oleh 77% pekerja Indonesia sebagai pemicu kebahagiaan utama yang dapat bertindak sebagai bumper penahan stres yang efektif mencegah burnout dan niat mengundurkan diri.
2. Mendorong Produktivitas Kerja Melalui Kolaborasi Erat
Pertemanan yang erat antar karyawan memangkas hambatan operasional maupun komunikasi (communication friction). Selain faktor tim, sebesar 76% pekerja Indonesia juga merasa bahwa lokasi dan atmosfer tempat kerja yang kondusif turut mendukung terciptanya ruang aman bagi rekan kerja untuk saling percaya. Di lingkungan yang ramah dan familiar, karyawan cenderung lebih terbuka dalam berbagi ide, memberikan umpan balik konstruktif tanpa takut konflik personal, serta menyelesaikan masalah bersama secara jauh lebih responsif.
3. Menghubungkan Pekerjaan Harian dengan Purpose
Memiliki ikatan tim yang solid membantu karyawan memahami dampak nyata dari peran mereka. Dalam riset Jobstreet, perasaan bahwa pekerjaan mereka bermakna (purpose) menyumbang 75% faktor kebahagiaan pekerja. Ketika bekerja bersama kawan sefrekuensi, target organisasi yang awalnya terkesan abstrak bertransformasi menjadi misi bersama yang dikejar dengan penuh rasa kepemilikan.
4. Menjaga Motivasi dan Psychological Safety
Rasa aman secara psikologis (psychological safety) tumbuh paling subur di lingkungan di mana karyawan merasa diterima dan dihargai oleh rekan-rekannya. Kehadiran elemen-elemen manusiawi di tempat kerja menciptakan atmosfer yang memicu kreativitas. Karyawan menjadi lebih berani mengambil risiko terukur, berinovasi, dan saling mendukung saat perusahaan menghadapi tantangan bisnis yang berat.
