Markbiz, 27 Juli 20256 | Kehadiran kecerdasan buatan (AI) generatif mulai mengubah cara konsumen menemukan produk di era digital. Namun, ketika harus mengambil keputusan pembelian, rekomendasi dari manusia masih menjadi faktor yang paling berpengaruh.
Temuan tersebut terungkap dalam laporan E-commerce Influencer and Affiliate Marketing in Southeast Asia 2026 yang disusun oleh impact.com bersama Cube dan Dentsu. Studi yang melibatkan 2.400 responden di enam negara Asia Tenggara itu menunjukkan bahwa AI semakin banyak digunakan sebagai sarana mencari informasi produk, tetapi kepercayaan terhadap keluarga, teman, kreator, dan ulasan tetap menjadi penentu utama transaksi.
Riset mencatat sekitar 24% konsumen di Asia Tenggara telah memanfaatkan platform AI generatif seperti ChatGPT, Gemini, dan Claude dalam proses pencarian maupun pertimbangan sebelum membeli produk.
Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat adopsi AI tertinggi di kawasan, mencapai 31%, hanya berada di bawah Vietnam yang mencapai 34%.
Baca juga: Shopee Gandeng Meta, Kreator Kini Bisa Raup Komisi dari Instagram
Meski demikian, rekomendasi dari keluarga dan teman masih menjadi sumber informasi yang paling dipercaya. Tingkat pengaruhnya bahkan melampaui ulasan daring maupun rekomendasi dari kreator konten.
Di sisi lain, sekitar 67% responden mengaku pernah membeli suatu produk karena rekomendasi seorang kreator. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan tetap menjadi fondasi utama dalam perjalanan konsumen, sekalipun teknologi AI semakin berkembang.
Laporan tersebut juga menegaskan bahwa AI bukan pengganti kanal pemasaran yang sudah ada. Sebaliknya, AI menjadi lapisan baru dalam ekosistem perdagangan digital yang membuat perjalanan konsumen semakin kompleks. Konsumen kini berpindah antara marketplace, mesin pencari, media sosial, kreator, hingga asisten AI sebelum akhirnya memutuskan membeli suatu produk.
AVP Customer Growth APJ impact.com, Nick Randall, mengatakan AI merupakan evolusi berikutnya dalam proses penemuan produk. Namun, menurutnya, kepercayaan tetap menjadi elemen yang tidak berubah sehingga perusahaan perlu mengintegrasikan teknologi AI dengan strategi kemitraan bersama kreator maupun publisher untuk membangun perjalanan pelanggan yang lebih efektif.
Baca juga: AI Segera Bertransaksi Sendiri, Bagaimana dengan Digital Trust?
Selain itu, riset menemukan 71% konsumen masih menemukan produk baru melalui marketplace, sementara 57% melalui mesin pencari. Hampir separuh pembelian melalui tautan afiliasi juga didorong oleh faktor kepercayaan dan validasi, bukan sekadar diskon atau promosi.
Temuan ini mengindikasikan bahwa di tengah pesatnya adopsi AI, strategi pemasaran tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Brand juga perlu membangun kredibilitas melalui konten yang autentik, kemitraan yang terpercaya, dan pengalaman pelanggan yang konsisten agar tetap relevan di setiap titik perjalanan konsumen.
