Markbiz.id, 20 Juli 2026 | Di tengah meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan (AI), organisasi dituntut tidak hanya mengadopsi teknologi, tetapi juga memperkuat kompetensi sumber daya manusia agar mampu menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks.
Berdasarkan 2026 Global Cybersecurity Skills Gap Report yang dirilis Fortinet, sebanyak 92% organisasi di Indonesia mengalami sedikitnya satu insiden pelanggaran keamanan siber dalam 12 bulan terakhir. Bahkan, 64% organisasi mengalami lima atau lebih insiden, sementara 62% mengaku biaya pemulihan akibat serangan melebihi US$1 juta.
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa 76% pemimpin TI di Indonesia menilai minimnya tenaga keamanan siber yang terampil menjadi salah satu penyebab utama terjadinya serangan siber. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena 75% responden meyakini kekurangan talenta memperbesar risiko keamanan bagi organisasi.
Baca juga: Pembatasan Media Sosial dan Implikasinya Untuk Startup
Chief Information Security Officer (CISO) Fortinet, Carl Windsor, mengatakan keamanan siber kini telah berkembang menjadi isu strategis yang memengaruhi keberlangsungan bisnis, bukan lagi sekadar persoalan teknis.
“Organisasi perlu meningkatkan investasi untuk menghadapi dua tantangan besar, yakni risiko baru dari AI dan kekurangan talenta keamanan siber yang masih berlangsung. Keduanya menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan bisnis,” ujarnya.
Di sisi lain, adopsi AI di lingkungan kerja juga menghadirkan tantangan baru. Sebanyak 73% responden memperkirakan kebutuhan tenaga yang memiliki keahlian dalam tata kelola dan pengawasan AI akan meningkat dalam tiga tahun ke depan. Sementara itu, 82% perusahaan mengaku kesulitan menemukan profesional keamanan siber yang memiliki pengalaman khusus di bidang AI.
Baca juga: Banyak Dilarang Amerika, China Membuka Aliansi AI Global
Meski demikian, perusahaan mulai meningkatkan investasi untuk menutup kesenjangan tersebut. Sebanyak 93% responden menyatakan bersedia membiayai sertifikasi keamanan siber bagi karyawannya, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, 97% organisasi berencana berinvestasi pada pelatihan dan sertifikasi keamanan siber terkait AI dalam 12 bulan mendatang.
Laporan ini juga mencatat adopsi teknologi AI untuk keamanan siber semakin meluas. Sebanyak 98% organisasi telah menggunakan atau sedang menguji solusi keamanan berbasis AI, dan 90% menilai teknologi tersebut membantu meningkatkan efektivitas tim TI dan keamanan siber.
Temuan ini menunjukkan bahwa investasi pada teknologi saja belum cukup. Pengembangan talenta dan peningkatan keterampilan keamanan siber menjadi faktor penting agar organisasi mampu membangun ketahanan digital di tengah ancaman siber yang terus berkembang.
