Markbiz, 20 Juli 2026 | Di dunia bisnis dan pemasaran, ada satu perdebatan yang seolah tak pernah selesai. Sebagian orang percaya bahwa produk terbaik lahir dari intuisi seorang pendiri. Sebagian lainnya meyakini bahwa semua keputusan harus didasarkan pada riset pasar.
Keduanya sama-sama memiliki pendukung yang kuat. Namun, sejarah bisnis menunjukkan bahwa keberhasilan maupun kegagalan sering kali muncul ketika salah satunya digunakan secara berlebihan.
Steve Jobs, misalnya, pernah mengatakan bahwa pelanggan tidak tahu apa yang mereka inginkan sampai seseorang menunjukkannya kepada mereka. Filosofi itu terlihat saat Apple meluncurkan iPhone pada 2007.
Ketika itu, riset pasar tidak menunjukkan bahwa masyarakat membutuhkan ponsel layar sentuh tanpa keyboard fisik. Namun Jobs melihat perubahan perilaku manusia yang belum tertangkap oleh data.
Hal serupa terjadi pada Nintendo Wii. Saat industri gim berlomba membuat konsol dengan grafis terbaik, Nintendo justru menghadirkan konsep bermain menggunakan gerakan tubuh. Banyak analis meragukannya, tetapi produk tersebut justru menjadi fenomena global.
Kedua contoh tersebut sering dijadikan bukti bahwa intuisi mampu menciptakan pasar baru, atau dunia pemasaran dikenal dengan istilah market driving.
Namun intuisi bukan berarti sekadar menebak-nebak. Para pendiri perusahaan tersebut memiliki pengalaman panjang di industrinya, sehingga intuisi mereka terbentuk dari ribuan jam observasi, eksperimen, dan kegagalan. Dalam ilmu psikologi, kondisi ini dikenal sebagai expert intuition—kemampuan mengenali pola berdasarkan pengalaman.
Sebaliknya, banyak produk gagal karena terlalu mengandalkan keyakinan internal tanpa menguji apakah pasar benar-benar membutuhkannya.
Salah satu contoh yang sering dibahas adalah New Coke pada 1985. Berdasarkan uji rasa, Coca-Cola menemukan bahwa konsumen lebih menyukai formula baru dibandingkan produk lama. Namun perusahaan mengabaikan ikatan emosional pelanggan terhadap merek klasiknya. Setelah menuai protes besar, Coca-Cola akhirnya mengembalikan resep lama.
Google juga pernah mengalami kegagalan lewat Google Glass. Secara teknologi, produk ini sangat inovatif. Namun perusahaan kurang memahami kekhawatiran masyarakat soal privasi, kenyamanan, dan kesiapan pasar. Produk tersebut akhirnya dihentikan untuk konsumen umum.
Dua contoh tersebut menunjukkan bahwa data pun bisa menyesatkan jika hanya melihat angka tanpa memahami perilaku manusia.
Riset pasar pada dasarnya menjawab serangkaian pertanyaan, apa yang diinginkan pelanggan saat ini? Berapa besar ukuran pasar (market size)? Siapa kompetitor?, dan berapa harga yang bersedia dibayar konsumen (pricing strategy)?
Sementara intuisi lebih banyak menjawab pertanyaan yang belum bisa diukur. Misalnya, tren apa yang akan muncul lima tahun lagi? Kebiasaan apa yang mulai berubah? Teknologi baru apa yang akan mengubah perilaku konsumen? Karena itu, inovasi besar sering lahir dari kombinasi keduanya.
Kasus Tara Nasiku dan Mie Instan
Kasus Tara Nasiku (produk nasi instan dari Taro/Unilever Indonesia pada awal 2000-an) sering dijadikan contoh bahwa inovasi produk tidak selalu diterima pasar. Di mana letak kesalahannya? Padahal secara intuisi produk tersebut harusnya meraih sukses, karena nasi merupakan makanan pokok dan masyarakat Indonesia gemar menyantap nasi goreng.
Hingga kini tidak ada informasi publik yang menjelaskan secara pasti apakah produk tersebut dikembangkan berdasarkan riset pasar yang mendalam atau lebih didorong oleh intuisi internal perusahaan.
Hal ini tentu berbeda dengan produk mie instan yang meraih sukses besar di Indonesia. Padahal mie bukanlah makanan pokok masyarakat Indonesia. Produk ini menangguk sukses besar karena terjangan iklan yang masif, mudah dalam penyajian, dan rasanya yang sesuai dengan lidah orang Indonesia.
Yang dapat disimpulkan dari kasus kegagalan Tara Nasiku:
- Kemungkinan besar Unilever tetap melakukan riset pasar, karena perusahaan multinasional umumnya memiliki proses pengembangan produk yang melibatkan riset konsumen, uji produk, dan test market sebelum peluncuran.
- Namun, hasil riset tersebut tampaknya tidak berhasil menangkap perilaku konsumen Indonesia secara utuh. Konsep “nasi gorang instan dalam kemasan” belum dianggap memberikan nilai tambah yang cukup dibanding memasak nasi goreng sendiri atau membeli nasi goreng di warung tenda.
Penulis sendiri pernah terlibat dalam penelitian lapangan terkait penerimaan masyarakat terhadap produk Tara Nasiku. Salah satu kesimpulannya memasak Tara Nasiku tidak praktis, karena harus menggunakan wajan/penggorengan Teflon untuk hasil yang maksimal. Berbeda dengan memasak mie instan, cukup menggunakan panci/wajan, rebus air, lalu masukan bumbu.
Dapat disimpulkan, penyebab gagalnya Tara Nasiku bukan karena semata-mata mengandalkan intuisi, melainkan kemungkinan karena perusahaan terlalu optimistis terhadap hasil riset atau potensi inovasi, riset tidak mampu memprediksi perilaku konsumen di dunia nyata, atau pasar memang belum siap menerima konsep tersebut.
Kasus ini memberi satu pelajaran penting bagi pebisnis/pemasar: riset pasar bukan jaminan produk akan sukses. Riset dapat memberi gambaran tentang preferensi konsumen saat ini, tetapi tidak selalu mampu memprediksi apakah konsumen benar-benar akan mengubah kebiasaannya
Mana yang Harus Didahulukan?
Jawabannya bergantung pada jenis produk yang akan dibuat. Jika produk merupakan penyempurnaan dari sesuatu yang sudah ada, riset pasar sebaiknya menjadi titik awal. Data akan membantu menemukan kebutuhan pelanggan yang belum terpenuhi.
Namun jika produk benar-benar baru dan belum memiliki pembanding, intuisi biasanya menjadi pemicu pertama. Setelah ide muncul, barulah dilakukan validasi melalui riset sederhana, uji coba, atau peluncuran terbatas (minimum viable product).
Pendekatan ini kini banyak digunakan perusahaan rintisan. Mereka tidak menunggu riset sempurna, tetapi juga tidak sepenuhnya mengandalkan firasat.
Formula yang Lebih Seimbang
Alih-alih memilih salah satu, perusahaan sebaiknya menggabungkan keduanya melalui tiga langkah sederhana:
- Mulai dari intuisi. Temukan masalah yang menurut Anda layak diselesaikan.
- Uji dengan data. Validasi melalui survei, wawancara pelanggan, atau peluncuran skala kecil.
- Perbaiki berdasarkan respons pasar. Jadikan data sebagai kompas, bukan sebagai pengganti kreativitas.
Riset pasar dan intuisi bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Intuisi membantu melihat peluang yang belum tampak, sedangkan riset memastikan peluang tersebut benar-benar memiliki pasar.
Di era ketika data tersedia di mana-mana dan teknologi AI mampu menganalisis jutaan informasi dalam hitungan detik, keunggulan kompetitif justru datang dari kemampuan manusia menggabungkan logika dengan naluri. Karena produk hebat tidak hanya lahir dari angka, tetapi juga dari keberanian membaca masa depan.

One thought on “Intuisi atau Riset Pasar, Mana yang Lebih Penting Saat Meluncurkan Produk?”