Markbiz.id, 22 Juli 2026 | Gerobak kopi di depan rumah, jasa desain grafis berbasis media sosial, konveksi rumahan, hingga toko makanan beku di marketplace. Dalam dua tahun terakhir, wajah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Indonesia berubah cepat.
Banyak di antaranya bukan dibangun oleh keluarga pedagang turun-temurun, melainkan oleh mantan karyawan yang kehilangan pekerjaan atau memilih mengundurkan diri dari perusahaan.
Gelombang PHK dan Resign Picu Ledakan UMKM Baru di Indonesia
Gelombang PHK yang masih berlanjut membuat semakin banyak pekerja mencari sumber penghasilan alternatif. Sebagian memilih membuka usaha kecil dengan memanfaatkan tabungan, uang pesangon, atau keterampilan yang selama ini hanya digunakan di lingkungan kerja.
Pilihan itu bukan tanpa alasan. Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan puluhan ribu pekerja terdampak PHK sepanjang 2026, sementara sejumlah sektor seperti manufaktur, tekstil, dan teknologi masih melakukan efisiensi. Ketika peluang kerja formal semakin terbatas, membangun usaha sendiri menjadi salah satu jalan yang paling realistis.
Krisis Melahirkan Pengusaha Baru yang Kreatif
Perubahan itu paling mudah terlihat di sektor tekstil. Tak sedikit mantan buruh yang beralih mendirikan usaha konveksi skala rumahan, memanfaatkan keahlian menjahit dan pengalaman produksi yang telah mereka miliki selama bertahun-tahun.
Menurut Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB), gelombang PHK di industri tekstil justru berpotensi melahirkan lebih banyak industri kecil. Bekal keterampilan produksi yang dimiliki para mantan pekerja menjadi modal penting untuk memulai usaha secara mandiri, meski dalam skala yang lebih sederhana.
Fenomena serupa juga terjadi di sektor kuliner. Salah satunya dialami Felicia, pendiri usaha roti rumahan Felbakery. Ia memilih meninggalkan pekerjaan tetap untuk membangun bisnis sendiri. Namun, perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Felicia mengakui bahwa membangun UMKM membutuhkan kesiapan mental, kemampuan mengelola keuangan, serta kesabaran menghadapi masa ketika penjualan belum stabil.
Kisah-kisah seperti itu menunjukkan bahwa tidak semua UMKM baru lahir karena melihat peluang pasar yang menjanjikan. Sebagian besar justru muncul karena keadaan yang memaksa. Pengamat ekonomi kerakyatan Universitas Gadjah Mada, Hempri Suyatna, menilai mayoritas UMKM di Indonesia terbentuk bukan melalui perencanaan bisnis yang matang, melainkan sebagai respons terhadap tekanan ekonomi. Karena itu, tantangan terbesar mereka bukan sekadar memperoleh modal, tetapi juga membangun daya saing agar mampu bertahan dan berkembang dalam jangka panjang.
Fenomena tersebut ternyata bukan hanya terjadi di Indonesia. Laporan Global Entrepreneurship Monitor (GEM) 2025/2026 menunjukkan aktivitas pendirian usaha baru di berbagai negara mencapai tingkat tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Meski demikian, laporan itu mengingatkan bahwa meningkatnya jumlah startup maupun usaha mikro tidak selalu menjadi indikator ekonomi yang sehat. Dalam banyak kasus, bisnis baru lahir karena ketidakpastian ekonomi dan kebutuhan untuk bertahan hidup, bukan semata-mata karena adanya peluang pasar yang menjanjikan.
Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran ekonom internasional sekaligus profesor kewirausahaan di Babson College, William D. Bygrave. Ia membedakan antara opportunity entrepreneurship dan necessity entrepreneurship. Menurut Bygrave, banyak orang memilih menjadi wirausaha bukan karena menemukan peluang bisnis yang besar, melainkan karena tidak lagi memiliki pilihan pekerjaan lain.
Persoalannya, mendirikan usaha hanyalah langkah awal. Tantangan sesungguhnya adalah mengubah bisnis yang lahir karena kebutuhan menjadi usaha yang mampu tumbuh, berinovasi, dan pada akhirnya menciptakan lapangan kerja baru bagi orang lain.
Bagi Indonesia, ledakan UMKM baru merupakan kabar baik sekaligus sinyal yang patut dicermati. Di satu sisi, fenomena ini menunjukkan daya juang masyarakat yang mampu beradaptasi di tengah tekanan ekonomi. Namun di sisi lain, semakin banyaknya usaha kecil yang bermunculan juga menjadi gambaran bahwa makin banyak pekerja formal harus menciptakan pekerjaan mereka sendiri ketika kesempatan kerja semakin sempit.
Pada akhirnya, masa depan UMKM tidak hanya ditentukan oleh keberanian memulai usaha, tetapi juga oleh kemampuan mereka untuk naik kelas menjadi bisnis yang sehat, berkelanjutan, dan mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
