Hanya 4,9% pasien diabetes berisiko kardiovaskular tinggi di Indonesia mencapai target kolesterol LDL. Pakar menekankan pentingnya pengelolaan lipid.
Markbliz, Bandung, 3 Juli 2026 – Pengelolaan kolesterol, khususnya low-density lipoprotein cholesterol (LDL-C), masih menjadi tantangan besar dalam penanganan pasien diabetes melitus tipe 2 di Indonesia. Padahal, pengendalian kadar LDL-C berperan penting untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, penyebab kematian terbesar di Tanah Air.
Isu tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam simposium ilmiah bertajuk Comprehensive Lipid Management in Patients with Type 2 Diabetes yang diselenggarakan Daewoong Pharmaceutical Indonesia pada rangkaian Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) 2026 di Bandung.
Data yang dipaparkan dalam forum tersebut menunjukkan, hanya 4,9% pasien dengan risiko kardiovaskular tinggi dan sangat tinggi di Indonesia yang berhasil mencapai target kadar LDL-C di bawah 55 mg/dL, sesuai rekomendasi berbagai pedoman internasional. Sementara itu, sekitar 21,2% pasien mampu mencapai target LDL-C di bawah 70 mg/dL.
Tantangan tersebut semakin penting mengingat penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian utama di Indonesia. Data World Heart Federation mencatat sebanyak 765.660 kematian akibat penyakit kardiovaskular terjadi pada 2021.
Baca juga: Penyakit Tropis Masih Jadi Beban Kesehatan, Biaya Perawatan Ikut Meningkat
Di sisi lain, penelitian di Indonesia juga menunjukkan bahwa 74% pasien diabetes melitus tipe 2 mengalami dislipidemia, bahkan prevalensinya mencapai 85% pada pasien yang juga menderita penyakit arteri koroner.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrin, metabolik, dan diabetes dari Eka Hospital BSD, Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, mengatakan pasien diabetes tipe 2 umumnya memiliki lebih dari satu faktor risiko penyakit kardiovaskular sehingga pengendalian LDL-C perlu menjadi prioritas terapi.
“Dalam praktik klinis di Indonesia, pasien diabetes melitus tipe 2 sering kali memiliki berbagai faktor risiko kardiovaskular secara bersamaan. Oleh karena itu, upaya menurunkan kadar LDL-C secara aktif merupakan prioritas terapi yang penting,” ujar Sidartawan.
Ia menambahkan, strategi pengobatan perlu disesuaikan dengan tingkat risiko masing-masing pasien agar target LDL-C dapat dicapai lebih cepat. Menurutnya, pedoman internasional juga secara konsisten merekomendasikan pemberian terapi penurun lipid berbasis bukti sedini mungkin.
Senada dengan itu, Prof. Da-Hye Seo dari Divisi Endokrinologi Inha University Hospital, Korea Selatan, menilai pengelolaan dislipidemia pada pasien diabetes harus dilakukan secara komprehensif, tidak hanya berfokus pada pengendalian gula darah.
Baca juga: Givaudan Tambah Fasilitas Produksi di Indonesia dengan Investasi Rp 1,1 Triliun
“Pengelolaan dislipidemia pada pasien diabetes melitus tipe 2 memerlukan pendekatan yang komprehensif, termasuk pengendalian kadar LDL-C. Bagi pasien yang mengalami kesulitan mencapai target hanya dengan monoterapi, terapi kombinasi yang secara bersamaan menargetkan sintesis dan penyerapan kolesterol dapat menjadi salah satu pilihan pengobatan,” katanya.
Dalam simposium tersebut juga dibahas berbagai strategi terapi untuk membantu pasien yang belum mencapai target LDL-C melalui terapi tunggal. Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah terapi kombinasi ezetimibe dan rosuvastatin yang bekerja menghambat pembentukan kolesterol di hati sekaligus mengurangi penyerapannya di usus. Namun, pemilihan terapi tetap harus mempertimbangkan kondisi klinis dan penilaian dokter terhadap masing-masing pasien.
PIT PERKENI 2026 berlangsung pada 26–28 Juni di Bandung dan dihadiri sekitar 500 tenaga medis, mulai dari dokter spesialis endokrinologi, dokter penyakit dalam, residen, hingga peneliti dari berbagai daerah di Indonesia.
Dalam forum tersebut, Daewoong Pharmaceutical Indonesia bertindak sebagai penyelenggara salah satu simposium ilmiah yang membahas perkembangan penatalaksanaan dislipidemia pada pasien diabetes.
