Markbiz, 22 Juni 2026 | Penyakit tropis masih menjadi salah satu tantangan kesehatan yang belum selesai di Indonesia. Demam Berdarah Dengue (DBD), demam tifoid, dan tuberkulosis (TBC) terus ditemukan setiap tahun, tidak hanya berdampak terhadap kesehatan masyarakat, tetapi juga meningkatkan kebutuhan pembiayaan medis.
Data Kementerian Kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan tingginya beban penyakit tersebut. Pada 2024, Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah kasus TBC tertinggi kedua di dunia dengan estimasi mencapai 1,06 juta kasus per tahun. Pada periode yang sama, kasus DBD mencapai 210.644 kasus dengan 1.239 kematian.
Sementara demam tifoid masih menjadi penyakit yang banyak ditemukan, terutama akibat faktor lingkungan, sanitasi, dan pola konsumsi yang kurang higienis.
Dampak ekonomi dari penyakit tropis juga mulai terlihat dari meningkatnya biaya perawatan kesehatan. Data Allianz Indonesia hingga pertengahan Juni 2026 mencatat terdapat 1.686 klaim terkait DBD dengan nilai lebih dari Rp21,5 miliar, 1.534 klaim demam tifoid senilai lebih dari Rp14,5 miliar, serta 815 klaim TBC dengan nilai lebih dari Rp5,4 miliar.
Selain jumlah klaim, biaya perawatan sejumlah penyakit tropis juga mengalami peningkatan. Berdasarkan data perusahaan sepanjang 2020-2025, rata-rata biaya rawat inap demam tifoid per kasus meningkat hingga 66%, sedangkan biaya perawatan DBD per kasus naik hingga 88%.
Head of Health Analytics Allianz Life Indonesia, dr. Tubagus Argie F. S. Sunartadirdja, mengatakan tren tersebut menunjukkan bahwa penyakit tropis tidak hanya menjadi persoalan kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan kesiapan finansial masyarakat.
“Data klaim yang kami miliki menunjukkan bahwa penyakit tropis masih menjadi salah satu alasan perawatan medis yang cukup tinggi. Di saat yang sama, kami juga melihat adanya peningkatan biaya perawatan untuk beberapa penyakit tropis dalam beberapa tahun terakhir,” ujar dr. Tubagus.
Menurutnya, kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya pencegahan dan deteksi dini untuk mengurangi risiko kesehatan sekaligus potensi beban biaya.
Sering Terlambat Ditangani
Salah satu tantangan dalam pengendalian penyakit tropis adalah persepsi masyarakat yang masih menganggap sejumlah penyakit tersebut sebagai kondisi yang biasa terjadi.
Dokter dan edukator kesehatan, dr. Dion Haryadi, mengatakan banyak penyakit tropis sebenarnya dapat dicegah, tetapi masih sering diabaikan karena masyarakat merasa sudah familiar dengan gejalanya.
“Meski telah lama dikenal masyarakat Indonesia, penyakit DBD, demam tifoid, dan TBC masih menjadi penyakit yang menghantui setiap tahunnya. Padahal, sebagian besar penyakit tropis sebenarnya dapat dicegah,” kata dr. Dion.
Pada kasus DBD, misalnya, penurunan demam sering dianggap sebagai tanda pasien mulai pulih. Padahal, fase tersebut justru dapat menjadi periode kritis yang membutuhkan perhatian.
Hal serupa terjadi pada TBC. Batuk berkepanjangan masih sering dianggap sebagai gangguan ringan sehingga pemeriksaan medis terlambat dilakukan. Sementara demam tifoid kerap dikaitkan dengan kelelahan atau gangguan pencernaan biasa.
Faktor lingkungan juga turut memengaruhi tingginya kasus penyakit tropis. Kondisi iklim, kepadatan penduduk, sanitasi, serta keberadaan vektor penyakit seperti nyamuk menjadi faktor yang membuat penyakit tersebut terus muncul.
Pencegahan Menjadi Investasi Kesehatan
Meningkatnya biaya pengobatan membuat langkah pencegahan semakin penting. Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu mengurangi risiko terkena penyakit tropis.
Untuk mencegah DBD, masyarakat perlu memperhatikan kebersihan lingkungan, termasuk membersihkan tempat yang berpotensi menjadi lokasi berkembang biaknya nyamuk seperti wadah air, talang, atau vas bunga.
Risiko TBC dapat ditekan dengan memastikan sirkulasi udara rumah baik dan mendapatkan paparan sinar matahari yang cukup. Sementara untuk demam tifoid, menjaga kebersihan makanan dan minuman menjadi langkah penting, terutama saat berada di lingkungan dengan sanitasi yang kurang baik.
Menurut dr. Tubagus, perubahan perilaku menjadi bagian penting dalam menghadapi risiko penyakit tropis.
“Penyakit tropis mungkin terdengar akrab bagi masyarakat Indonesia, tetapi bukan berarti bisa dianggap sepele. Mengenali gejala sejak dini dan melakukan pencegahan sederhana dapat membantu melindungi diri sendiri maupun orang-orang terdekat,” ujarnya.

2 thoughts on “Penyakit Tropis Masih Jadi Beban Kesehatan, Biaya Perawatan Ikut Meningkat”