Founder startup diminta tidak hanya mengejar pendanaan, tetapi fokus membangun solusi yang menjawab kebutuhan nyata agar bisnis mampu tumbuh berkelanjutan.
Markbiz, 6 Juli 2026 – Mencari investor kerap menjadi target utama banyak pendiri startup pada tahap awal membangun usaha. Padahal, fondasi bisnis yang kuat justru berawal dari kemampuan memahami persoalan yang dihadapi masyarakat dan menghadirkan solusi yang benar-benar dibutuhkan.
Pesan tersebut disampaikan Founder dan CEO Privy, Marshall Pribadi, dalam ajang National Founders Connect 2026 yang diselenggarakan Mata Garuda LPDP, 1 Juli 2026 lalu. Forum tersebut mempertemukan founder, investor, inovator, dan alumni LPDP untuk berbagi pengalaman membangun bisnis yang berkelanjutan.
Menurut Marshall, banyak startup terlalu cepat mengejar pendanaan sebelum memastikan produknya mampu menjawab kebutuhan pasar.
“Banyak founders yang berpikir bahwa langkah berikutnya adalah mencari investor. Padahal yang lebih penting adalah memastikan bahwa kita memahami masalah yang ingin diselesaikan dan memiliki komitmen untuk membangun solusinya. Ketika fondasi itu sudah kuat, investor biasanya akan datang sebagai partner untuk mempercepat pertumbuhan, bukan menjadi tujuan utama,” ujar Marshall.
Baca juga: Menantea tutup : Investor harus belajar apa ?
Ia menilai bisnis yang mampu bertahan dalam jangka panjang bukanlah yang sekadar memanfaatkan tren, melainkan yang konsisten menyelesaikan persoalan nyata.
“Menurut saya, bisnis yang bertahan lama bukanlah bisnis yang dibangun karena melihat peluang sesaat, melainkan bisnis yang mampu menyelesaikan masalah yang benar-benar dirasakan masyarakat. Ketika kita fokus menciptakan solusi yang relevan dan memberikan manfaat nyata, maka kepercayaan akan terbentuk, pengguna akan datang, dan bisnis memiliki fondasi yang kuat untuk terus bertumbuh,” imbuhnya.
Pandangan tersebut mendapat dukungan dari Managing Partner BNI Ventures, Eddi Danusaputro. Eddy menegaskan, investor kini semakin selektif dalam menilai startup dan lebih mengutamakan perusahaan yang mampu menunjukkan nilai nyata bagi pasar.
“Perusahaan yang mampu menjawab kebutuhan pasar dan menunjukkan arah pertumbuhan yang jelas akan memiliki daya tarik yang lebih kuat di mata investor,” ujarnya.
Diskusi tersebut berlangsung di tengah masih rendahnya rasio kewirausahaan Indonesia yang baru mencapai 3,29 persen dari total tenaga kerja atau sekitar 4,9 juta wirausaha. Angka tersebut masih berada di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Kondisi ini menunjukkan perlunya semakin banyak wirausaha yang tidak hanya mampu mendirikan perusahaan, tetapi juga membangun bisnis yang berkelanjutan.
Baca juga: Fitur Bisnis AI untuk UMKM Ada di Whats App
Marshall menilai kolaborasi menjadi salah satu faktor penting untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan nasional. Indonesia, menurutnya, memiliki banyak talenta berkualitas yang perlu dipertemukan agar mampu melahirkan inovasi yang memberikan dampak lebih luas.
“Indonesia memiliki banyak talenta hebat dan potensi yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana kita menciptakan lebih banyak ruang kolaborasi agar orang-orang dengan latar belakang yang berbeda bisa saling bertemu, bertukar ide, dan membangun solusi bersama. Dari kolaborasi seperti itulah inovasi yang mampu memberikan dampak besar biasanya lahir,” ungkap Marshall.
Melalui forum tersebut, para alumni LPDP didorong memanfaatkan kompetensi dan jejaring yang dimiliki untuk membangun bisnis yang berangkat dari persoalan nyata masyarakat. Pendekatan tersebut dinilai dapat melahirkan perusahaan yang lebih tangguh sekaligus berkontribusi meningkatkan rasio kewirausahaan Indonesia.
