Home » IoT Mulai Mengubah Cara Industri Mengelola Bisnis Lebih Cerdas

IoT Mulai Mengubah Cara Industri Mengelola Bisnis Lebih Cerdas

DTF 2026 menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang digunakan, tetapi juga kemampuan berbagai pihak membangun kolaborasi agar teknologi menghasilkan nilai ekonomi. Foto: Ist.

Markbiz, 22 September 2026| Internet of Things (IoT) mulai mengambil peran lebih besar dalam transformasi bisnis Indonesia. Teknologi yang memungkinkan berbagai perangkat terhubung dan menghasilkan data tersebut tidak hanya digunakan untuk kebutuhan konsumen, tetapi juga mulai membuka peluang digitalisasi di sektor industri dengan proses operasional yang kompleks.

Pembahasan mengenai peluang tersebut muncul dalam The 3rd Digital Transformation Forum (DTF) 2026 yang digelar Selular Media Network (SMN) di Jakarta (21/9/2026). Forum yang mempertemukan pemerintah, operator telekomunikasi, industri perangkat, asosiasi internet hingga sektor perkebunan tersebut menyoroti pentingnya kolaborasi untuk mempercepat transformasi digital Indonesia.

Salah satu sektor yang menunjukkan kebutuhan terhadap teknologi IoT adalah perkebunan kelapa sawit. Dengan skala industri yang luas, digitalisasi dapat membantu mengubah proses pencatatan dan pemantauan yang sebelumnya masih dilakukan secara manual.

Dari Data Perkebunan hingga Traceability

Pengurus Bidang Komunikasi GAPKI, Mochamad Husni, mengatakan industri sawit Indonesia masih menghadapi proses manual dalam pencatatan kebun, logistik tandan buah segar (TBS), hingga pelaporan keberlanjutan.

Industri sawit Indonesia mencakup sekitar 16 juta hektare perkebunan dan melibatkan sekitar 16 juta tenaga kerja. Pada saat yang sama, tuntutan pasar global semakin mengarah pada traceability atau kemampuan melacak asal-usul TBS hingga titik perkebunan.

Kondisi tersebut menciptakan ruang bagi penerapan teknologi seperti IoT, artificial intelligence (AI), drone, citra satelit dan analitik data. AI misalnya telah digunakan untuk membantu prediksi produksi buah, sementara drone dapat dimanfaatkan untuk pemetaan perkebunan.

Bagi pelaku bisnis teknologi, kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi sektor industri dapat menjadi pasar baru. Penyedia konektivitas, IoT, cloud, fintech hingga logistik memiliki peluang untuk masuk ke dalam ekosistem digital perkebunan.

Ketika Telco Mulai Menjual Solusi Digital

Peluang IoT juga berkaitan dengan perubahan model bisnis perusahaan telekomunikasi. VP Head of Ecosystem Regulatory Affairs Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), Machdi Fauzi, melihat industri telekomunikasi mulai bergeser dari Telco menuju TechCo.

Perubahan tersebut membuat operator tidak lagi hanya mengandalkan konektivitas sebagai sumber nilai bisnis. AI, IoT dan cloud membuka peluang bagi operator untuk menyediakan layanan digital yang lebih spesifik sesuai kebutuhan industri.

“Konektivitas tetap menjadi fondasi utama, tetapi monetisasi terbesar di masa depan ada pada lapisan atas seperti aplikasi, solusi digital, dan AI,” ujar Machdi.

Dengan pendekatan tersebut, IoT dapat menjadi penghubung antara jaringan telekomunikasi dan kebutuhan operasional industri. Data yang dikumpulkan perangkat dapat dipadukan dengan cloud dan AI untuk menghasilkan informasi yang mendukung pengambilan keputusan.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa peluang IoT di Indonesia tidak hanya terletak pada penjualan perangkat. Nilai bisnis juga dapat muncul dari layanan, pengelolaan data, konektivitas dan solusi yang membantu industri meningkatkan produktivitas.

DTF 2026 memperlihatkan bahwa tantangan berikutnya bukan sekadar menghadirkan teknologi baru, tetapi membangun ekosistem agar teknologi tersebut dapat digunakan secara nyata dan menghasilkan nilai ekonomi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *