Markbiz, 29 September 2026 | Bagi pasangan yang menjalani program bayi tabung, PGT dalam program IVF menjadi salah satu teknologi yang semakin banyak dibicarakan. Pemeriksaan ini membantu dokter mendapatkan informasi mengenai kondisi genetik embrio sebelum proses transfer dilakukan.
Perkembangan teknologi reproduksi membuat perjalanan menuju kehamilan tidak lagi hanya berkaitan dengan proses pembuahan. Pemeriksaan genetik kini dapat menjadi bagian dari rangkaian layanan untuk membantu dokter dan pasien memahami kondisi embrio secara lebih mendalam.
Preimplantation Genetic Testing atau PGT merupakan pemeriksaan genetik yang dilakukan pada embrio dalam program in vitro fertilization (IVF). Secara sederhana, pemeriksaan ini bertujuan mencari informasi tertentu mengenai materi genetik embrio sebelum dokter menentukan langkah berikutnya.
PGT memiliki beberapa jenis. PGT-A digunakan untuk melihat kemungkinan adanya jumlah kromosom yang tidak normal. Sementara PGT-M berkaitan dengan penyakit yang disebabkan perubahan pada satu gen tertentu. Ada pula PGT-SR yang digunakan untuk mendeteksi kelainan struktur kromosom.
Namun, PGT bukan pemeriksaan yang secara otomatis menentukan keberhasilan program bayi tabung. Hasil pemeriksaan tetap perlu dibaca bersama kondisi medis pasien dan dipertimbangkan oleh dokter yang menangani program IVF.
Teknologi Genetik Membantu Dokter Membaca Kondisi Embrio
Salah satu teknologi yang berkembang dalam pemeriksaan genetik adalah Next-Generation Sequencing atau NGS. Teknologi ini memungkinkan materi genetik dianalisis dalam jumlah besar sehingga informasi mengenai kromosom dan variasi genetik dapat diperoleh dengan lebih terperinci.
Dalam konteks PGT, embrio yang terbentuk melalui proses IVF dapat menjalani pengambilan sampel sel untuk kemudian dianalisis di laboratorium. Hasil pemeriksaan tersebut menjadi salah satu informasi yang dapat digunakan dokter dalam menentukan langkah klinis.
Teknologi genomik juga tidak hanya berkaitan dengan pemeriksaan embrio. Pemeriksaan genetik dapat digunakan dalam tahapan lain, misalnya carrier screening untuk mengetahui kemungkinan seseorang membawa perubahan gen tertentu. Teknologi serupa juga berkembang dalam pemeriksaan prenatal melalui Non-Invasive Prenatal Testing (NIPT).
Dr. dr. Ivan Rizal Sini, Sp.O.G., FRANZCOG, yang membuka PGT Clinical Forum 2026, menekankan bahwa perkembangan IVF perlu dilihat secara menyeluruh.
“IVF tidak hanya berbicara mengenai fertilisasi dan kehamilan, tetapi juga membutuhkan integrasi antara praktik klinis, genetika, teknologi, dan diagnostik laboratorium.” ujar dr. Ivan.
Perjalanan IVF Semakin Personal dan Berbasis Data
Perkembangan tersebut menunjukkan bagaimana perjalanan reproduksi semakin banyak didukung oleh data medis. Informasi genetik dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dokter ketika berdiskusi dengan pasien mengenai pilihan yang tersedia.

Di Indonesia, pembahasan mengenai perkembangan PGT juga menjadi perhatian dalam PGT Clinical Forum 2026 yang digelar Diagnos dan Morula IVF Indonesia pada Senin (28/9/2026) di jakarta. Forum tersebut mempertemukan klinisi dari bidang reproduksi, genetika, embriologi, dan diagnostik untuk membahas perkembangan teknologi serta penerapannya dalam praktik klinis.
Diagnos juga memperkenalkan instrumen NGS GeneMind untuk mendukung layanan genomik. Penguatan kemampuan laboratorium menjadi bagian dari perkembangan layanan pemeriksaan genetik yang semakin membutuhkan teknologi sequencing dan analisis bioinformatika.
Bagi masyarakat awam, perkembangan ini menunjukkan satu hal penting: program bayi tabung kini tidak hanya berbicara mengenai proses mempertemukan sel telur dan sperma. Ada rangkaian pemeriksaan yang dapat membantu dokter memperoleh gambaran lebih lengkap mengenai kondisi reproduksi dan genetik.
Pada akhirnya, keputusan mengenai perlu atau tidaknya PGT tetap bersifat individual. Kondisi kesehatan, riwayat keluarga, usia, hasil pemeriksaan, serta pertimbangan dokter menjadi bagian dari pembahasan sebelum pasangan memilih menjalani pemeriksaan tersebut.
Dengan semakin berkembangnya teknologi genomik, pasangan yang menjalani IVF memiliki lebih banyak informasi untuk didiskusikan bersama dokter. Teknologi menjadi alat pendukung, sementara keputusan medis tetap membutuhkan penilaian klinis yang menyeluruh.
