{"id":963,"date":"2026-04-15T06:15:00","date_gmt":"2026-04-15T06:15:00","guid":{"rendered":"https:\/\/markbiz.id\/?p=963"},"modified":"2026-04-15T09:11:11","modified_gmt":"2026-04-15T09:11:11","slug":"brand-extension-sebagai-alternatif-solusi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/markbiz.id\/?p=963","title":{"rendered":"Brand Extension Sebagai Alternatif Solusi"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-full is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"400\" height=\"406\" src=\"https:\/\/markbiz.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/indra.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-964\" style=\"width:135px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/markbiz.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/indra.png 400w, https:\/\/markbiz.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/indra-296x300.png 296w\" sizes=\"auto, (max-width: 400px) 100vw, 400px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p> Oleh: Indra Surahman<\/p>\n\n\n\n<p>      -Mahalnya biaya branding seringkali membuat kening berkerut saat berencana untuk meluncurkan produk baru ke pasar. Belum lagi jika yang dihadapi nanti adalah produk-produk yang sudah malang melintang cukup lama dan dengan reputasi merek yang baik pula. Berapa banyak biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk dapat menembus ketatnya persaingan yang ada?<br>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Atas tantangan tersebut, beruntunglah perusahaan yang telah memiliki merek yang kuat. Dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, strategi <em>brand extention <\/em>bisa menjadi alternatif solusinya. Ya, selama berpuluh-puluh tahun, strategi pemasaran ini tetap populer sebagai alternatif solusi untuk memasarkan produk baru. Banyak perusahaan telah berhasil dengan pendekatan ini, sebut saja merek Pepsodent untuk produk baru sikat gigi atau permen karetnya, atau juga Yamaha dengan sepeda motornya. Namun demikian, tak kalah banyak pula yang gagal.<br>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Berbicara tentang <em>brand extension, <\/em>ada beragam klasifikasi yang bisa dirujuk. Dari apa yang sering dikemukakan oleh&nbsp; Kevin Lane Keller, misalnya, ada dua klasifikasi besar untuk <em>brand extension<\/em> ini, yakni &nbsp;<em>horizontal extension<\/em> atau perluasan horisontal dan <em>vertical extension <\/em>atau perluasan vertikal.&nbsp; Perluasan horizontal merupakan perluasan merek untuk sebuah produk baru dalam kelas produk yang sama, atau untuk produk yang benar-benar baru bagi perusahaan. Sementara, perluasan vertikal mengacu pada perluasan merek &nbsp;yang sama untuk kategori produk yang sama namun dengan kualitas dan harga yang berbeda.<br>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Apapun klasifikasinya, melalui pendekatan pemasaran ini, merek yang menempel pada produk yang terlebih dahulu memasuki pasar dan sudah dikenal luas diharapkan bisa membantu penjualan produk baru. Selain itu, pendekatan ini juga menjanjikan sejumlah keuntungan bagi perusahaan. Yang pertama, <em>brand extension <\/em>bisa membantu perusahaan dalam menghemat biaya peluncuran produk baru di pasar. Branding menjadi lebih murah. Dengan mengibarkan merek yang sudah dikenal, biaya promosi seperti pemasangan iklan TVC, iklan cetak, maupun kegiatan-kegiatan komunikasi lainnya bisa dihemat. Yang kedua, di luar alasan finansial, cara ini juga berpeluang untuk secara lebih mudah mendapatkan <em>awareness <\/em>dari pelanggan potensial di pasar. Dalam hal ini,&nbsp; produk baru seperti mendapatkan jalan pintas untuk lebih cepat sampai pada tujuan. Yang ketiga, ini bisa menjadikan produk baru lebih PeDe dalam menghadapi kompetitor-kompetitornya.&nbsp; Selain itu, jika berhasil, <em>brand extension <\/em>ini juga berpeluang untuk memperluas basis konsumen untuk merek induk itu sendiri. Apa yang dilakukan oleh PT. Unilever dengan produk sampo barunya yang mengusung merek Lifebouy, yang sebelumnya menempel pada produk sabun, sepertinya bisa mengilustrasikan dengan &nbsp;jelas semua peluang itu.<br>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Namun demikian, pendekatan ini bukannya tanpa resiko. Dari kasus-kasus pemasaran yang terjadi, sering pula pendekatan ini gagal dan justru menjadi bumerang bagi merek induknya yang lantas menjadi turun pamor.Contoh populer dari luntur atau melemahnya pamor merek induk, tanpa menyebut merek, adalah kasus yang terjadi pada perusahaan yang memiliki merek kuat untuk produk tisu toiletnya. Dalam perkembangannya, perusahaan ini memutuskan untuk meluncurkan produk baru yakni tisue wajah. Dan yang terjadi pelanggan justru bingung dengan asosiasi merek antara kedua produk tersebut. &nbsp;Selain resiko menurunnya pamor merek induk, resiko lainnya adalah lunturnya citra orijinal dari merek induknya, yang dalam perjalanan berikutnya, ini juga bisa menurunkan tingkat kepercayaan yang ada. Misal saja, apa jadinya jika Jeep yang dikenal begitu kuat dengan produk mobil 4WD-nya lantas disematkan pada produk <em>city car <\/em>&nbsp;yang mungil dan bermesin kecil?<br>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dengan berbagai pertimbangan di atas, karenanya tidaklah cukup untuk memutuskan begitu saja rencana&nbsp; <em>brand extension <\/em>hanya berdasarkan <em>awareness <\/em>dari merek induk saja. Meminjam hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh Keller (2000) ataupun Aaker (1996),&nbsp; pertimbangan yang sangat penting di sini adalah <em>brand association, <\/em>yakni pertimbangan atas kesesuaian persepsi atau asosiasi antara merek induk dengan produk perluasannya. Selain <em>brand association, <\/em>tak kalah pentingnya adalah pertimbangan terkait <em>perceived quality <\/em>dari merek awalnya. Thesisnya, semakin besar kesesuaian persepsi antara merek induk dengan <em>brand extension<\/em> , dan semakin tinggi <em>perceived quaility-<\/em>nya, pendekatan <em>brand extension <\/em>akan semakin besar kemungkinan berhasilnya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Indra Surahman adalah Founder dan CEO Indoresearch<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Indra Surahman -Mahalnya biaya branding seringkali membuat kening berkerut saat berencana untuk meluncurkan produk baru ke pasar. Belum lagi jika yang dihadapi nanti adalah produk-produk yang sudah malang melintang cukup lama dan dengan reputasi merek yang baik pula. Berapa banyak biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk dapat menembus ketatnya persaingan yang ada?&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Atas tantangan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":972,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[50],"tags":[],"class_list":["post-963","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-coloumn-opinion"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/markbiz.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/963","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/markbiz.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/markbiz.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/markbiz.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/markbiz.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=963"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/markbiz.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/963\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":968,"href":"https:\/\/markbiz.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/963\/revisions\/968"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/markbiz.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/972"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/markbiz.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=963"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/markbiz.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=963"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/markbiz.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=963"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}